Minat Beli Masyarakat Muslim Terhadap Cake dan Bakery Yang Belum Memiliki Sertifikat Halal
Abstract
Indonesia dengan jumlah penduduk muslim mencapai 87 persen,
menjadikan pangsa pasar makanan halal terbesar di dunia. Namun sayangnya
produk halal Indonesia belum mampu menguasai pangsa pasar makanan halal
dunia. Sertifikat halal yang sangat dibutuhkan oleh konsumen muslim akan
memberikan jaminan dan rasa aman bagi masyarakat muslim. Awareness, product
quality, dan marketing promotion menjadi variabel penting dalam purchase
intention produk halal. Tugas dan kewajiban Pemerintah dalam memberikan
perlindungan dan rasa aman bagi konsumen muslim telah tertuang dalam UndangUndang Perlindungan Konsumen No.8 Tahun 1999, Undang-Undang Pangan
No.18 Tahun 2012 dan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH) No.33
Tahun 2014. Adanya sertifikat halal akan memberikan keuntungan baik bagi
pelaku usaha maupun bagi konsumen demi terciptanya keamanan dan
keselamatan bersama.
Pengumpulan data dari responden dilakukan dengan membagikan
kuisioner pada konsumen yang sedang membeli cake dan bakery di toko cake dan
bakery yang belum memiliki sertifikat halal hingga bulan Februari 2017.
Pertanyaan dalam kuisioner ini dibuat berdasarkan skala yaitu skala likert, dengan
lima interpretasi nilai yaitu sangat tidak setuju(1), tidak setuju(2), netral(3),
setuju(4), dan sangat setuju(5). Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan
analisis deskriptif dan SEM PLS.
Variabel indikator yang digunakan penelitian ini adalah sebanyak 30
variabel indikator, dengan jumlah responden sebanyak 120 orang responden.
Penelitian ini terdiri atas variabel laten eksogen dan variabel laten endogen.
Variabel laten eksogen terdiri dari product quality, marketing promotion,
religious belief, self identity dan halal certification. Variabel laten endogen terdiri
dari awareness dan purchase intention.
Terdapat 2 model estimasi dalam SEM PLS yaitu measurement model
(outer model), yaitu model pengukuran yang menghubungkan indikator dengan
variabel latennya dan structural model (inner model), yaitu model struktural yang
menghubungkan antar variabel laten.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh product quality,
awareness, marketing promotion terhadap purchase intention produk cake dan
bakery yang belum bersertifikat halal dan menganalisis pengaruh religious belief,
self identity, halal certification terhadap awareness produk cake dan bakery yang
belum bersertifikat halal.
Hasil uji validitas pada setiap konstruk masing-masing variabel adalah
lebih besar dari 0.361 sehingga kuisioner dinyatakan valid dan dapat digunakan.
Uji reliabilitas yang mengukur kehandalan kuisioner menunjukkan hasil yang
reliable, nilai cronbach alpha lebih besar dari 0.60.
Hasil pengukuran SEM PLS menunjukkan bahwa nilai loading factor
indikator lebih dari 0.5, itu berarti seluruh indikator memenuhi kriteria uji
validitas. Nilai AVE untuk setiap variabel indikator yang sangat direkomendasikan adalah lebih dari 0.5, variabel indikator yang memiliki nilai
kurang dari 0.5 harus dieliminasi, sehingga diperoleh hasil yang baik.
Hasil pengukuran reliabilitas menunjukkan bahwa semua kontruk
memiliki reliabilitas yang baik. Nilai composite reliability dan cronbach alpha
pada setiap konstruk lebih dari 0.6, sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator
yang digunakan reliable dan mampu mengukur konstruknya.
Hasil bootstrapping menunjukkan bahwa product quality berpengaruh
secara signifikan terhadap purchase intention, dengan nilai t-hitung 2.146 lebih
besar dari t-tabel 1.96 pada taraf 5 persen. Awareness berpengaruh secara
signifikan terhadap purchase intention, dengan nilai t-hitung 2.932 lebih besar
dari t-tabel 1.96 pada taraf 5 persen. Marketing promotion berpengaruh secara
signifikan terhadap purchase intention, dengan nilai t-hitung 6.512 lebih besar
dari t-tabel 1.96 pada taraf 5 persen. Religious belief tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap awareness, dengan nilai t-hitung 0.258 lebih kecil dari t-tabel
1.96 pada taraf 5 persen. Self identity berpengaruh secara signifikan terhadap
awareness, dengan nilai t-hitung 3.442 lebih besar dari t-tabel 1.96 pada taraf 5
persen. Halal certification tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
awareness, dengan nilai t-hitung 1.659 lebih kecil dari t-tabel 1.96 pada taraf 5
persen. Model struktural awareness menghasilkan nilai r-square 0.41 artinya
keragaman awareness mampu dijelaskan oleh model yang ada sebesar 41 persen
sedangkan sisanya 59 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Model
struktural purchase intention menghasilkan nilai r-square 0.611 artinya
keragaman awareness mampu dijelaskan oleh model yang ada sebesar 61,1 persen
sedangkan sisanya 38.9 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Implikasi managerial berdasarkan penelitian ini yaitu pemerintah harus
bersikap tegas terhadap perusahaan cake dan bakery yang belum memiliki halal
certification, mulai dari memberikan teguran, peringatan dan sanksi tegas berupa
pencabutan izin edar sementara hingga pencabutan izin edar permanen bagi
perusahaan cake dan bakery yang terdaftar di BPOM. Pemerintah juga melakukan
edukasi kepada masyarakat melalui iklan layanan masyarakat di media cetak
seperti surat kabar dan majalah, melalui media elektronik seperti televisi dan juga
melalui media online tentang makanan halal, titik kritis kehalalan cake dan
bakery, halal certification dan logo halal. Pemerintah diharapkan membuat
kerjasama dengan BPOM, Kementerian Agama, Kementerian Perdagangan dan
Kementerian Perindustrian tentang sistem makanan halal.
Collections
- MT - Business [4063]
