Calendar Anomaly dan Kapitalisasi Pasar : Analisis Pada Pasar Saham Indonesia
View/ Open
Date
2017Author
Juniarwoko, Dadang Wahyu
Irawan, Tony
Anggraeni, Lukytawati
Metadata
Show full item recordAbstract
Anomali merupakan sebuah keanehan yang terjadi pada perdagangan saham
yang mengakibatkan investor memiliki peluang untuk mendapatkan abnormal
return, yang seharusnya tidak terjadi menurut efficient market hypothesis (EMH)
(Singh 2014). Calendar anomaly, salah satu dari banyak jenis anomali,
mengindikasikan adanya pola-pola berulang yang terjadi pada waktu-waktu
tertentu, misalnya pada bulan atau hari tertentu (Deyshappriya 2014). Calendar
anomaly yang banyak diteliti antara lain Month of the Year Anomaly (MOYA)
atau dikenal juga dengan January Effect, dan Day of the Week Anomaly (DOWA)
(Dicle dan Levendis 2012, Darrat et al. 2011, Das dan Rao 2011, Bouman dan
Jacobsen 2002). Setiap jenis dari calendar anomaly menawarkan peluang strategi
jual beli saham untuk rentang watu yang berbeda. MOYA misalnya menawarkan
abnormal return bila membeli pada bulan Januari (Alrabadi dan Al-Qudah 2012).
DOWA mengindikasikan peluang return tertinggi di hari jumat. Banyaknya
calendar anomaly yang ditemukan di berbagai negara mengindikasikan masih
banyak pasar saham yang belum efisien. Indonesia merupakan salah satu pasar
yang ditemukan mengalami calendar anomaly (Anwar dan Mulyadi 2012,
Iramani dan Mahdi 2006, Werastuti 2012, Naughton dan Veeraghavan 2005).
Terdapat teori mengenai calendar anomaly yang menyatakan bahwa
anomali kebanyakan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi kecil (Bodie et al.
2008). Oleh karena itu, identifikasi anomali perlu dilihat pada indeks
berkapitalisasi berbeda. Bila anomali ditemukan pada saham-saham
berkapitalisasi berbeda maka startegi trading berdasarkan anomali bisa diterapkan
untuk setiap jenis kapitalisasi. Hal menarik lain yang bisa dianalisa terkait
calendar anomaly adalah menganalisa ada tidaknya anomali tersebut pada tingkat
individual saham, tidak seperti yang kebanyakan dilakukan pada penelitianpenelitian terdahulu yang hanya menganalisa pada tingkat pasar atau indeks
(Dicle and Levendis 2012).
Pada penelitian ini indeks-indeks yang digunakan adalah indeks LQ45 dan
Pefindo25. Indeks LQ45 digunakan untuk menggambarkan “perilaku” sahamsaham kapitalisasi besar sedangkan indeks Pefindo25 digunakan untuk mewakili
kelompok saham yang memiliki kapitalisasi pasar sedang dan kecil. Identifikasi
ada tidaknya MOYA dan DOWA dilakukan pada indeks dan saham-saham
anggota indeks. Jumlah saham anggota dari kedua indeks yang diamati berjumlah
58 saham, 35 saham dari indeks LQ45 dan 23 saham dari indeks Pefindo25,
saham-saham tersebut adalah saham-saham yang frekuensi terdaftarnya pada
indeks adalah di atas rata-rata semua saham yang pernah terdaftar pada indeks
selama periode pengamatan 2010-2015. Analisis ada tidaknya DOWA dan
MOYA pada indeks dan saham menggunakan model regresi variabel dummy,
dengan return harian atau bulanan sebagai variabel dependen dan dummy hari atau
bulan sebagai variabel independen. Model regresi diestimasi menggunakan dua
pilihan estimator yaitu metode Ordinary Least Squares (OLS) dan Mode ARCH/GARCH. Estimator yang diaplikasikan pada setiap model tergantung ada
tidaknya masalah heterokedastisitas pada data return.
DOWA ditemukan terdapat pada indeks LQ45 dan Pefindo25, dengan
pola hari senin memiliki return terendah dan hari rabu memiliki return tertinggi.
Pada individual saham DOWA lebih banyak terjadi pada LQ45 yaitu pada 74,29
persen saham daripada Pefindo yang hanya terjadi pada 47,38 persen saham.
Selisih return hari rabu dengan hari-hari lainnya pada indeks LQ45 berkisar
antara 0,15 sampai 0,41 persen, sedangkan pada Pefindo25 selisih tersebut
berkisar antara 0,15 sampai 0,32 persen. Pola DOWA pada pasar saham Indonesia
diduga telah bergeser dari temuan pola DOWA sebelumnya yaitu senin sebagai
hari dengan return terendah dan kamis sebagai hari dengan return tertinggi.
MOYA dan DOWA lebih banyak ditemukan pada kelompok saham
berkapitalisasi tinggi yaitu LQ45. MOYA ditemukan pada indeks LQ45 dengan
pola Maret sebagai bulan dengan return tertinggi dan Agustus sebagai bulan
dengan return terendah, sedangkan pada indeks Pefindo25 ditemukan Agustus
sebagai bulan dengan return terendah. MOYA pada indeks LQ45 hanya terjadi
pada 45,71 persen saham dan MOYA pada indeks Pefindo25 terjadi pada jumlah
saham yang lebih sedikit yaitu hanya pada 34,78 persen saham. Bulan Maret pada
indeks LQ45 memiliki return 1,18 sampai 8,40 persen lebih tinggi dari bulanbulan lainnya. Rendahnya bulan return pada bulan Agustus diduga dikarenakan
adanya pengaruh dari hari libur Idul Fitri yang sering jatuh pada bulan Agustus
dan sekitar Agustus pada periode yang diamati. Periode libur diduga
menyebabkan turunnya aktivitas perdagangan saham yang akhirnya menurunkan
return.
Collections
- MT - Business [4062]
