Analisis Efisiensi Pasar Saham Indonesia Berdasarkan Abnormal Return dan Trading Volume : Evaluasi Kebijakan Tapering
View/ Open
Date
2017Author
Perdana, Nicky Jaka
Siregar, Hermanto
Maulana, Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Investasi di pasar modal bergantung pada kondisi laporan keuangan emiten
dan faktor makroekonomi yang terjadi. Faktor makroekonomi tersebut dapat
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu faktor dari luar negeri
tersebut, yaitu pemberitaan kebijakan moneter. Federal Reserves sebagai bank
sentral Amerika Serikat telah mengeluarkan kebijakan Quantitative Easing (QE)
untuk menyelamatkan perekonomian mereka yang terpuruk akibat krisis Subprime
Mortgage. Kebijakan ini secara tidak langsung menyebabkan adanya aliran modal
yang besar ke negara-negara EMEs (Emerging Market Economies). Akan tetapi,
tanggal 22 Mei 2013, Chairman The Fed, Ben Bernanke mengumumkan bahwa
ada kemungkinan akan diperketatnya kebijakan QE, yang secara tidak langsung
menyebabkan berkurangnya toleransi risiko terhadap investasi di EMEs.
Pengumuman ini lebih dikenal sebagai Tapering-off. Tahun yang sama terjadi
penurunan return dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia.
Penurunan ini dapat disebabkan oleh peristiwa pengumuman kemungkinan
tapering.
Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh peristiwa pengumuman terhadap return dan tingkat perdagangan di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil tersebut dapat memberi tahu kita level dari
efisiensi pasar modal Indonesia berdasarkan Hipotesis Pasar Efisien. Metode
event study digunakan untuk menjawab tujuan tersebut. Penelitian dilakukan
terbatas pada tiga emiten dalam tiap sembilan sektor industri. Emiten pilihan
adalah emiten yang memiliki nilai kapitalisasi terbesar dan tidak memiliki efek
pengganggu (compounding effect)..
Hasil dari penelitian menggunakan market model dari event study adalah
adanya abnormal return di sekitar hari periswtiwa, perbedaan return pada
sebelum dan sesudah peristiwa di sektor Barang Konsumsi, serta perbedaan
tingkat perdagangan pada sebelum dan sesudah peristiwa di sektor Keuangan dan
Pertanian saat menggunakan uji beda paired sample t test. Hasil tersebut juga
membuktikan bahwa pasar modal Indonesia berada pada level tidak efisien semi
kuat.
Collections
- MT - Business [4062]
