Dampak Guncangan Variabel Makroekonomi Terhadap Beta Indeks Sektoral Di Bursa Efek Indonesia Periode 2001-2015
View/ Open
Date
2017Author
Alena, Ernawati
Achsani, Noer Azam
Andati, Trias
Metadata
Show full item recordAbstract
Risiko sistematis (systematic risk) diukur dengan menggunakan beta (β)
pasar, yaitu beta dari suatu sekuritas relatif terhadap risiko pasar. Penggunaan beta
pasar sebagai pengukur risiko dikarenakan beta pasar mengukur respon dari
masing-masing sekuritas terhadap pergerakan pasar. Beta juga digunakan untuk
mengukur volatilitas dari return suatu saham atau portofolio dalam kurun waku
tertentu. Nilai beta suatu sekuritas merupakan hal penting bagi investor karena
melalui nilai beta investor dapat mengalisis sekuritas tersebut dan nilai beta juga
menjadi pertimbangan investor dalam membentuk suatu portofolio. Perubahanperubahan yang terjadi pada faktor makro ekonomi berpotensi untuk meningkatkan
atau menurunkan risiko sistematis. Penelitian mengenai beta sektor sebagai proxy
imbal hasil dan indikator resiko di pasar saham berdasarkan hasil Hadad et al.
(2004) dalam periode 1996-2004 nilai beta berfluktuasi dengan nilai negatif dan
positif, namun rata-rata nilai beta relatif sejalan dengan pasar. Namun penelitian ini
belum memasukan faktor makro ekonomi yang diduga memiliki pengaruh terhadap
risiko sistematis di pasar modal sehingga menarik untuk dilakukan penelitian
mengenai dampak faktor makro ekonomi terhadap beta indeks sektor di Bursa Efek
Indonesia periode 2001-2015.
Beta saham yang digunakan adalah beta saham 10 indeks sektoral yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu beta sektor pertanian, pertambangan,
industri dasar, aneka industri, barang konsumsi, manufaktur, properti, infrastruktur,
keuangan dan perdagangan. Variabel makroekonomi yang digunakan adalah
variabel makroekonomi eksternal, fedrate, indeks dow jones , oil price dan variabel
makroekonomi internal yaitu inflasi, indeks produksi industri (IPI), nilai tukar
(KURS) dan suku bunga (SBI). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis
VAR/VECM menggunakan impulse response function (IRF) dan forecast error
variance decomposition (FEVD) dengan periode penelitian selama 2001-2015.
Hasil penelitian menunjukkan Sektor pertanian dan pertambangan yang
berada pada klasifikasi sektor primer merupakan sektor yang sahamnya agresif
dalam merespon perubahan kondisi pasar karena memiliki nilai rata-rata beta paling
tinggi yaitu 1.42 dan 1.4. Properti dan Real Estate merupakan sektor yang memiliki
karakter saham devensif karena memiliki nilai beta rata-rata yang sangat rendah
yaitu 0.03. Berdasarkan hasil analisis impulse respon function (IRF) didapatkan
bahwa sektor pertanian, aneka industri, barang konsumsi dan keuangan merupakan
indeks sektor yang mayoritas merespon positif guncangan variabel makroekonomi.
Variabel makroekonomi yang paling berpengaruh terhadap peningkatan risiko/nilai
beta adalah inflasi, suku bunga, nilai kurs dan harga minyak dunia dalam periode
jangka panjangnya. Sehingga diketahui bahwa faktor makroekonomi yang banyak
berkontribusi terhadap pergerakan beta indeks sektoral adalah yang berasal dari
dalam negri yaitu inflasi dan suku bunga, kondisi ini menunjukan bahwa pasar
modal Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh guncangan variabel makro eksternal.
Implikasi manajerial dalam penelitian ini yaitu nilai beta indeks sektoral
dapat dijadikan acuan investor dalam membentuk portofolio investasi, karena beta bersifat dinamis yang pergerakannya dapat dipengaruhi oleh kondisi
makroekonomi maka, investor perlu memberikan perhatian terhadap variabel
makroekonomi yaitu harga minyak dunia, inflasi, tingkat suku bunga dan nilai kurs
karena variabel-variabel tersebut tersebut memberikan kontribusi paling tinggi
dalam mempengaruhi pergerakan beta indeks sektoral. Bagi otoritas pengelola
bursa, sebaiknya informasi mengenai beta indeks sektoral dapat tersedia bagi
masyarakat atau investor. Bagi perusahaan/emiten yang terdaftar di BEI diharapkan
untuk memperhatikan guncangan-guncangan yang terjadi pada variabel
makroekonomi khususnya yaitu harga minyak dunia, inflasi, tingkat suku bunga
dan nilai kurs sehingga kinerja perusahaan tetap terjaga dan tidak menggiring
sentiment negatif investor terhadap saham perusahaan di pasar modal.
Collections
- MT - Business [4062]
