Strategi Pengembangan Usaha Pemotongan Sapi Di Pd.Kampung 99 Di Kalisuren Bogor
View/ Open
Date
2017Author
Rurkinantia, Aisa
Oktaviani, Rina
Sanim, Bunasor
Metadata
Show full item recordAbstract
Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat merupakan pangsa pasar
terbesar untuk konsumsi daging di Indonesia. Permasalahan pemenuhan
kebutuhan daging sapi, tidak hanya menjadi permasalahan dari ketiga Provinsi
tersebut, akan tetapi menjadi masalah nasional. Pemenuhan kebutuhan sapi di
Indonesia berasal dari daging sapi lokal dan impor. Kebutuhan daging sapi di
Indonesia yang dapat dipenuhi secara lokal baru mencapai 61% pada tahun 2015,
oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan daging sapi tersebut dilakukan melalui
impor sapi. Impor sapi bakalan mencapai 19.19% dan impor daging sebesar
19.81%. Melihat permasalahan tentang regulasi sapi ini, mengakibatkan usaha
pemotongan sapi haruslah dinamis dalam menghadapi segala bentuk regulasi yang
ada dengan menimbang kebutuhan masyarakat di pasar. Apabila impor sapi
bakalan sangat ditekan jumlahnya serta pertumbuhan produksi sapi potong dalam
negeri tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dan untuk memenuhui kebutuhan
konsumsi dilakukan impor daging beku, maka usaha pemotongan sapi di
Indonesia akan perlahan-lahan mati.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor
internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan usaha pemotongan sapi
di PD. Kampung 99 Pepohonan, menentukan strategi alternatif untuk
pengembangan usaha pemotongan sapi di PD. Kampung 99 Pepohonan,
menentukan strategi prioritas untuk mengembangkan usaha pemotongan sapi di
PD. Kampung 99 Pepohonan. Tahapan yang dilakukan untuk mengetahui tujuan
penelitian di atas adalah dengan Tahapan Kerangka Analitis untuk Perumusan
Strategi Komprehensif yaitu tahap Input dilakukan dengan menggunakan Matriks
IFE dan EFE, selanjutnya tahap pencocokan dengan SWOT dan tahap keputusan
menggunakan QSPM.
Berdasarkan analisis matriks SWOT telah diperoleh delapan alternatif
strategi yaitu ; (1) ketersediaan pakan yang optimal untuk meningkatkan kualitas
potongan daging sapi, (2) Pelatihan tenaga potong ahli untuk sertifikasi halal, (3)
revitalisasi RPH sebagai tempat meat processing dengan mengadakan cold
storage untuk memenuhi permintaan pasar yang terspesifikasi, (4) regulasi harga
yang stabil sebagai daya tawar ke pedagang agar pembayaran yang dilakukan
lancar, (5) memenuhi permintaan pasar dan menghasilkan kualitas daging yang
bagus dengan masa recovery yang cukup sebelum sapi dipotong, (6)
memperbanyak saluran distribusi antar RPH dan feedlot, (7) meningkatkan
kontrol kesehatan sapi potong, (8) mengajukan penurunan bunga modal kerja dari
bank. Analisis QSPM menghasilkan strategi prioritas utama yang dapat
diimplementasikan dalam pengembangan usaha pemotongan sapi di PD.
Kampung 99 Pepohonan yaitu dengan menyediakan pakan yang optimal untuk
meningkatkan kualitas potongan daging sapi.
Collections
- MT - Business [4063]
