Analisa Pengaruh Variabel Makroekonomi dan Harga Cpo Global Terhadap Volatilitas Indeks Harga Saham Sawit (Ihss)
View/ Open
Date
2016Author
Visudha, Sudana
Firdaus, Muhammad
Kirbrandoko
Metadata
Show full item recordAbstract
Indeks Harga Saham dibangun sebagai panduan bagi investor untuk
memantau pergerakan saham dari perusahaan yang menjadi portofolio investasi.
Variabel ekonomi makro dan tingkat risiko juga perlu diketahui untuk
menghasilkan portofolio yang terbaik dan menguntungkan. Penelitian ini
bertujuan untuk membangun sebuah indeks yang dikhususkan untuk subsektor
perkebunan kelapa sawit dan disebut Indeks harga Saham Sawit (IHSS) yang
dapat menjadi panduan bagi para investor untuk berinvestasi di industri
perkebunan kelapa sawit, sehingga akan memudahkan investor dalam mengambil
keputusan untuk masuk atau keluar dari sektor tersebut. Saat ini terdapat sembilan
Indeks sektoral yang dikeluarkan oleh IDX (Indonesia Stock Exchange) yaitu
Sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri, Industri
Konsumsi, Properti dan Real Estate, Infrastruktur, Keuangan, dan Perdagang.
Penyusunan indeks menggunakan Metode Nila Rata-Rata Tertimbang,
dengan sampel 12 perusahaan bidang kelapa sawit di Indonesia dengan
mengambil rentang waktu 2010-2015. Risiko dihitung dengan mengukur
volatilitas menggunakan ARCH / GARCH. Melihat pengaruh variabel
makroekonomi variabel seperti tingkat suku bunga, inflasi, IPI Makanan, nilai
tukar USD dan CPO Global terhadap volatilitas IHSS menggunakan regresi
berganda agar lebih mudah menganalisa pergerakan sebagian atau seluruh IHSS.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa saham sawit cukup berisiko karena nilai
volatilitas yang tinggi, dan dari lima variabel makroekonomi, seluruhnya
berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSS.
Indeks ini dibangun dengan dasar bahwa tidak ada perusahaan yang
mendominasi, yang ditunjukan dari angka Indeks Herfindahl < 1. Hasil dari
Indeks Saham Sawit menunjukkan bahwa emiten subsektor kelapa sawit bukan
sebagai penggerak dari IHSG dikarenakan nilai kapitalisasi yang tidak terlalu
besar dan ditunjukan dari arah pergerakannya yang berlawanan dengan arah
pergerakan IHSG.
Upaya untuk menarik minat masyarakat berinvestasi diantaranya dapat
dilakukan melalui peningkatan literasi terkait pilihan apa saja yang tersedia di
pasar modal. Minat masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal tidak dapat
dilepaskan dari ekspektasi terhadap imbal hasil yang bisa diperoleh sekaligus
risiko yang melekat pada instrumen yang ada. Indeks harga saham merupakan
cerminan dari pergerakan harga-harga saham. Frensidy (2006) menyebutkan
bahwa secara intuitif, sebagian besar saham bergerak searah dengan pergerakan
indeks.
Collections
- MT - Business [4063]
