Analisis Financial Distress dan Dampak Terhadap Kinerja Saham Pada Perusahaan Agribisnis Di Bursa Efek Indonesia
View/ Open
Date
2016Author
Nurfajrina, Annisa
Siregar, Hermanto
Saptono, Imam Teguh
Metadata
Show full item recordAbstract
Sektor agribisnis merupakan salah satu sektor yang penting di Indonesia
karena sektor ini berperan dalam menghasilkan devisa negara, berkontribusi
terhadap PDB (produk domestik bruto), dan menyerap jumlah tenaga kerja yang
cukup tinggi. Krisis keuangan global dan kondisi perekonomian yang melemah
dapat mempengaruhi kinerja perusahaan agribisnis. Apabila hal ini tidak dapat
diatasi dengan baik, maka dapat mengakibatkan perusahaan mengalami financial
distress yaitu kondisi yang terjadi sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.
Financial distress diukur menggunakan debt service coverage ratio (DSCR)
yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dana untuk
memenuhi kewajibannya. Rasio-rasio keuangan yang diprediksi berpengaruh
terhadap financial distress dijadikan sebagai variabel bebas dan dilakukan analisis
regresi data panel untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel
terhadap nilai DSCR. Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa earning before
interest taxes, depretiation, and amortization to total assets (EBITDA/TA), return
on equity (ROE), dan total assets turn over (TATO) berpengaruh positif dan
signifikan terhadap nilai DSCR. Sedangkan rasio keuangan lainnya yaitu debt to
total asset ratio (DAR) dan working capital to total assets (WC/TA) tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap nilai DSCR.
Analisis mapping dilakukan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan
agribisnis berdasarkan proses integral financial distress. Selama periode penelitian,
mayoritas perusahaan agribisnis berada dalam kondisi good company dan
deterioration performance. Berdasarkan analisis korelasi pearson, status keuangan
good company memiliki hubungan positif yang signifikan dengan nilai DSCR.
Perusahaan yang termasuk good company cenderung memiliki nilai DSCR yang
tinggi. Sedangkan perusahaan yang mengalami penurunan keuntungan lebih dari
20% (deterioration performance) memiliki hubungan negatif signifikan terhadap
nilai DSCR. Apabila perusahaan masuk ke dalam kategori ini maka peluang
mengalami financial distress semakin besar.
Kinerja saham perusahaan agribisnis dicerminkan dengan nilai abnormal
return yang berasal dari selisih nilai actual return dengan expected return. Sebagian
besar perusahaan agribisnis dalam kurun waktu lima tahun terakhir memiliki nilai
abnormal return yang negatif. Hal ini berarti nilai pengembalian yang
sesungguhnya dihasilkan oleh perusahaan (actual return) lebih rendah dari
pengembalian yang diharapkan oleh investor (expected return). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa DSCR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
abnormal return. Sehingga dapat disimpulkan bahwa financial distress tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja saham perusahaan agribisnis.
Variabel dummy yang berupa peraturan menteri pertanian
19/Permentan/OT.140/3/2011 dan 14/Permentan/OT.140/2/2013 juga tidak
berpengaruh signifikan terhadap abnormal return. Hal ini dapat disebabkan karena
pasar di Indonesia tidak menyerap dengan baik informasi mengenai financial
distress serta terdapat faktor-faktor lain di luar model penelitian yang
mempengaruhi kinerja saham perusahaan agribisnis.
Dengan adanya hasil penelitian ini, diharapkan manajemen perusahaan dapat
mengetahui variabel-variabel keuangan yang mempengaruhi financial distress
sehingga perusahaan dapat melakukan berbagai strategi agar terbebas dari risiko
kebangkrutan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
investor untuk melakukan investasi di pasar modal khususnya terhadap sektor
agribisnis.
Collections
- MT - Business [4063]
