Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Volatilitas Return Indeks Saham Ihsg Periode Sebelum dan Sesudah Krisis Ekonomi Global (2002-2014)
View/ Open
Date
2016Author
Surbakti, Emta Hariati
Achsani, Noer Azam
Maulana, Tb Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Return dan risiko adalah dua faktor utama yang diperhatikan investor ketika
berinvestasi dalam bentuk saham. Return adalah keuntungan yang diperoleh
investor atas investasi saham yang dilakukannya, sedangkan risiko merupakan
perbedaan return yang diharapkan dengan return actual. Pada sekuritas, return
dan risiko secara teoritis mempunyai hubungan yang positif, semakin besar
expected return yang diterima, maka semakin besar risiko yang diperoleh, begitu
juga sebaliknya.
Volatilitas menunjukan risiko atau ketidakpastian return yang akan
diperoleh oleh investor. Volatilitas harga saham menggambarkan perubahan harga
penutupan sebuah saham atau indeks saham yang terjadi selama kurun waktu
pengamatan tertentu. Volatilitas harga sangat penting untuk diamati karena
menjadi dasar untuk menghitung volatilitas return.
Kondisi makroekonomi berpengaruh pada volatilitas saham di suatu negara,
hal ini dikarenakan kondisi makroekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi
operasional harian perusahaan, sehingga kemampuan investor dalam memahami
dan meramalkan kondisi makroekonomi dimasa datang akan sangat berguna
dalam pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan. Seiring dengan
adanya globalisasi dan integrasi keuangan maka faktor makroekonomi yang
memengaruhi return dan risk saham tidak hanya faktor makroekonomi domestik
namun juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi non-domestik (internasional).
Pada pertengahan tahun 2007, Amerika Serikat dilanda krisis subprime
mortgage yang puncaknya terjadi pada September 2008, imbas dari krisis
subprime mortgage menyebabkan seluruh bursa saham di dunia mengalami
koreksi yang cukup tajam. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat,
namun juga melanda Eropa dan Asia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode krisis subprime mortgage
yakni terhitung dari 21 November 2007 sampai dengan 21 November 2008
mengalami penurunan tajam sebesar 55,29%.
Sebagai pasar modal yang sedang berkembang BEI diduga sangat
dipengaruhi indeks pasar saham dunia dan indeks pasar saham Asia yang
berkapitalisasi besar, salah satunya Dow Jones Industrial Average (DJI) dari bursa
saham Amerika. DJI merupakan indeks harga saham gabungan di bursa saham
New York Stock Exchange. Keterkaitan indeks di bursa global terlihat saat krisis
global tahun 2008 indeks harga saham di bursa saham Amerika (DJI) terkoreksi
sebesar 37.13 % diikuti dengan terkoreksinya nilai saham di Indonesia yaitu
saham-saham yang tergabung dalam IHSG terkoreksi sebesar 55.29%.
Penelitian ini terdiri dari empat tujuan: (1) melihat karakteristik volatilitas
return saham pada indeks saham IHSG; (2) melihat pengaruh pasar saham
Amerika (Dow Jones Industrial) terhadap volatilitas return IHSG; (3) mengkaji
lebih dalam tentang pengaruh pengaruh variabel makroekonomi...dst.
Collections
- MT - Business [4063]
