Analisis Faktor-Faktor Ekonomi Yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Negara
View/ Open
Date
2012Author
Rambe, M.K. Aswan
Daryanto, Arief
Baga, Lukman M.
Metadata
Show full item recordAbstract
Kestabilan sektor keuangan sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan
ekonomi karena ketidakstabilan keuangan dapat berdampak negatif pada
pencapaian pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan. Penciptaan pertumbuhan
ekonomi setinggi-tingginya merupakan tujuan utama setiap pemerintahan yang
sedang berkuasa termasuk Pemerintah Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang
tinggi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan
ekonomi tersebut tentunya harus merupakan pertumbuhan ekonomi berkualitas
dan berkelanjutan. Oleh karena itu untuk mencapai pertumbuhan ekonomi
tersebut diperlukan sumber pembiayaan yang memadai. Sumber pembiayaan
utama untuk menggerakkan roda perekonomian adalah Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dimana kontributor utama APBN melalui perpajakan.
Jika pembiayaan melalui APBN mengalami defisit atau pengeluaran lebih
besar dari pada pemasukan, maka pemerintah akan menutup defisit tersebut
dengan utang. Utang ini dapat bersumber dari pinjaman luar negeri dan/atau
menerbitkan Surat Utang Negera (SUN). SUN terdiri atas Surat Perbendaharaan
Negara (SPN) dan Obligasi Negara. SPN berjangka waktu sampai dengan 12
bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Obligasi negara berjangka
waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon dan/atau dengan pembayaran bunga
secara diskonto.
Penerbitan obligasi negara dan utang lainnya merupakan bagian dari
kebijakan fiskal (APBN) yang menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan
ekonomi secara keseluruhan. Dengan kata lain bahwa kebijakan utang adalah
kebijakan yang secara sadar memang didesain perlu ada dalam rangka mencapai
tujuan pengelelolaan ekonomi. Sebagai bagian dari kebijakan fiskal, tentunya
kebijakan dan pengelolaan utang harus sinkron dengan kebijakan dan pengelolaan
fiskal secara keseluruhan.
Keputusan penerbitan obligasi negara untuk menutup defisit APBN
merupakan bagian dari kebijakan pengelolaan SUN. Selain itu dalam menerbitkan
obligasi negara juga perlu dikelola dengan baik hal-hal teknis lainnya seperti
jumlah nominal, jumlah seri, waktu penerbitan, struktur jatuh tempo, tingkat
kupon, jenis suku bunga, dan sebagainya untuk meminimalkan cost of fund dan
mengurangi resiko gagal bayar (default). Oleh karena itu pemerintah perlu
mencermati dan menganalisa terhadap berbagai variabel ekonomi makro
khususnya yang berkaitan dengan pasar keuangan sebelum memutuskan untuk
menerbitkan obligasi negara. Variabel-variabel ekonomi makro tersebut
diantaranya: pendapatan negara, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI),
jumlah uang beredar, tingkat inflasi, dan nilai tukar rupiah.
Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan kondisi makroekonomi
Indonesia periode 2001-2010, menganalisis dan mengukur pengaruh variabel
makroekonomi: pendapatan negara, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI),
jumlah uang beredar, tingkat inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap penerbitan
obligasi negara dan untuk merumuskan implikasi kebijakan atas pengaruh
variabel makroekonomi terhadap penerbitan obligasi negara.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sarana belajar praktis dalam
mempraktekkan teori-teori yang telah diperoleh, serta dapat memperkaya
wawasan berpikir dan menganalisa permasalahan. Selain itu bagi pemerintah dan
DPR, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi sebagai
bahan pertimbangan dalam penerbitan obligasi negara. Penelitian ini juga
nantinya dapat dijadikan sebagai referensi bagi penelitian lebih lanjut mengenai
obligasi negara dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam
bentuk time series kuartalan periode 2001-2010. Sumber data diperoleh dari
Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia, Kementerian
Keuangan RI, dan DPR RI. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square/OLS). Model
empiris yang digunakan adalah obligasi negara sebagai variabel dependen dan
pendapatan negara, suku bunga SBI, jumlah uang beredar, tingkat inflasi, dan
nilai tukar rupiah sebagai variabel independen. Data yang digunakan dianalisis
secara kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan kondisi makroekonomi Indonesia selama
periode 2001-2010 secara umum cukup baik dan relatif stabil. Hal ini tercermin
dari perkembangan beberapa variabel makroekonomi yang masih terkendali. Hasil
regresi linier berganda menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas pada model
penelitian menunjukkan angka signifikan pada tingkat α = 5%, dimana masingmasing
variabel bebas: pendapatan negara (PN), jumlah uang beredar (M1), suku
bunga SBI (SBI), tingkat inflasi (IN), dan nilai tukar rupiah (ER) memiliki
dampak yang signifikan terhadap variabel terikat yaitu obligasi negara (GB).
Hasil estimasi model memberikan nilai F-stat yang signifikan dan adj, R-squared
yang tinggi menjelaskan bahwa model yang digunakan cukup baik. Kemampuan
model untuk menjelaskan variasi pada variabel-variabel terikat adalah sebesar
89,5% dan sisanya sebesar 10,5% dijelaskan variabel lain di luar model penelitian
seperti stabilitas politik dan keamanan.
Selanjutnya nilai konstanta (C) adalah 285.519,2 yang memiliki pengaruh
positif dan signifikan secara statistik. Arti dari nilai konstanta tersebut ialah
bahwa jika nilai variabel bebas adalah 0 maka penerbitan obligasi negara sebesar
285.519,2 miliar rupiah, ceteris paribus. Koefisien variabel pendapatan negara
(PN) bernilai negatif dan signifikan sebesar 0,0706 yang dapat diartikan bahwa
kenaikan pendapatan negara sebesar satu miliar rupiah akan menurunkan
penerbitan obligasi negara sebesar 0,0706 miliar rupiah, ceteris paribus. Koefisien
variabel jumlah uang beredar (M1) bernilai negatif dan signifikan sebesar 0,5266
yang dapat diartikan bahwa kenaikan jumlah uang beredar sebesar satu miliar
rupiah akan menurunkan penerbitan obligasi negara sebesar 0,5266 miliar rupiah,
ceteris paribus. Koefisien variabel suku bunga SBI (SBI) bernilai negatif dan
signifikan sebesar 455,47 yang dapat diartikan bahwa kenaikan suku bunga SBI
sebesar 1% akan menurunkan penerbitan obligasi negara sebesar 455,47 miliar
rupiah, ceteris paribus. Koefisien variabel inflasi (IN) bernilai positif dan
signifikan sebesar 373,23 yang dapat diartikan bahwa kenaikan inflasi sebesar 1%
akan meningkatkan penerbitan obligasi negara sebesar 373,23 miliar rupiah,
ceteris paribus. Koefisien variabel nilai tukar rupiah (ER) bernilai positif dan
signifikan sebesar 1,29 yang dapat diartikan bahwa kenaikan nilai tukar sebesar
Rp1/US$ akan meningkatkan penerbitan obligasi negara sebesar 1,29 miliar
rupiah, ceteris paribus. Variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap
penerbitan obligasi negara sesuai urutannya adalah jumlah uang beredar, nilai
tukar rupiah, inflasi, pendapatan negara, dan suku bunga SBI.
Beberapa kebijakan yang dapat dirumuskan untuk meminimalkan berbagai
risiko dalam rangka penerbitan dan pengelolaan obligasi negara adalah sebagai
berikut: pertama, peningkatan pendapatan negara perlu terus diusahakan
diantaranya melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi basis perpajakan dan
melakukan renegosiasi kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan mineral, batubara, dan migas. Meningkatkan efektivitas
penggunaan anggaran termasuk mengatasi kebocoran dalam penyaluran subsidi
serta belanja modal kementerian/lembaga negara. Kedua, meningkatkan
koordinasi dalam rangka mengendalikan jumlah uang beredar agar kestabilan
moneter dapat terjaga. Dalam hal ini kebijakan yang dapat ditempuh adalah
kebijakan suku bunga dan pelaksanaan operasi pasar terbuka. Mekanisme
pengendalian jumlah uang beredar melalui operasi pasar terbuka dapat dilakukan
melalui penjualan SBI, pembelian surat berharga, ataupun intervensi di pasar
valuta asing. Ketiga, menunda/mengurangi penambahan utang melalui penerbitan
obligasi negara dalam bentuk valuta asing dan ketika nilai tukar rupiah sedang
mengalami depresiasi untuk meminimalkan risiko nilai tukar. Keempat,
memprioritaskan penerbitan obligasi negara dengan tingkat bunga tetap dan
melakukan program debt switch melalui penukaran obligasi negara dengan tingkat
suku bunga mengambang dan menggantikannya dengan penerbitan obligasi
negara dengan tingkat suku bunga tetap untuk meminimalkan risiko suku bunga.
Collections
- MT - Business [4062]
