Analisis Optimasi Rantai Pasok Beras dan Penggunaan Di Perum Bulog Divre Dki Jakarta
View/ Open
Date
2011Author
Trisilawaty, Cory
Marimin
Achsani, Noer Azam
Metadata
Show full item recordAbstract
Bagi Indonesia, pangan diidentikkan dengan beras karena jenis pangan ini
merupakan makanan pokok utama. Aspek yang harus dipenuhi untuk mencapai
kondisi ketahanan pangan adalah kecukupan pangan, stabilitas ketersediaan
pangan, keterjangkauan terhadap pangan serta kualitas/keamanan pangan. Salah
satu upaya Pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan tertuang pada kebijakan
perberasan yang diimplementasikan dalam tugas-tugas publik yang diemban
Perum BULOG yaitu pengadaan gabah beras dalam negeri, penyaluran beras
Raskin, stabilsasi harga dan pemupukan stok beras nasional. Perubahan status
BULOG menjadi Perum memungkinkan BULOG melakukan usaha komersial
disamping tugas publik yang diembannya. Dalam menjalankan aktivitasnya
Perum BULOG harus mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan efisiensi
nasional dan mengurangi beban Pemerintah dalam pengelolaan pangan nasional
dimana usaha komersial yang dijalankan harus selaras, mendukung serta
bersinergi dengan kegiatan publik (Sawit, 2003).
Menurut Chopra dan Meindl (2007) Strategi ideal dalam manajemen rantai
pasok adalah menekankan adanya efisiensi dan mengelola kemampuan dalam
ketepatan merespon permintaan konsumen yang diwujudkan dalam aplikasi
kebijakan perusahaan dalam menangani enam faktor pendorong kinerja rantai
pasokan yaitu fasilitas, persediaan, transportasi, informasi, sumber daya dan
harga. Hal ini dipertegas oleh Pinto (2003) bahwa upaya memaksimalkan
keuntungan dalam rantai pasok dapat dicapai dengan mengoptimalkan faktor
pendorong kinerja yaitu persediaan, transportasi dan logistik, lokasi dan layout
fasilitas gudang serta aliran informasi tidak secara terpisah-pisah tetapi secara
menyeluruh. Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (2000) kegiatan logistik akan
berjalan dengan efektif dan efisien apabila memenuhi 4 (empat) syarat yaitu tepat
jumlah, tepat mutu, tepat ongkos dan tepat waktu.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa permasalahan yang
berkaitan dengan rantai pasok beras di Perum BULOG Divre Jakarta dalam
menentukan struktur rantai pasok beras yang optimal untuk memenuhi kebutuhan
penyaluran beras, mengoptimalkan jasa pergudangan tanpa mengganggu aktivitas
kegiatan publik yang di lakukan, menentukan biaya transportasi distribusi beras
Raskin yang optimal serta merumuskan kebijakan operasional Perum BULOG
Divre DKI Jakarta terkait pelaksanaan kegiatan publik selaras dengan kegiatan
komersial yaitu jasa pergudangan yang dilakukan.
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Perum BULOG Divre DKI Jakarta
yang meliputi Propinsi Jakarta dan Propinsi Banten. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dan
sekunder yang dikumpulkan berasal dari Perum BULOG, Departemen Pertanian,
Badan Pusat Statistik dan Pasar Induk Cipinang (PIC) Jakarta dengan cara
observasi lapangan dan wawancara.
Kondisi umum rantai pasok beras di gambarkan secara deskriptif dengan
pendekatan metode pengembangan rantai pasokan produk hortikultura yang
dicanangkan oleh Asian Productivity Organization (APO) Jepang dan telah
dimodifikasi oleh Van der Vorst (2006). Analisis optimasi struktur rantai pasok
beras dan penggunaan gudang menggunakan model goal programming yang
diolah dengan bantuan software Linear Interactive Diskret Optimizer (LINDO).
Analisis biaya transportasi distribusi dilakukan secara deskriptif yaitu dengan
menggambarkan pelaksanaan distribusi beras Raskin dan membandingkan tarif
transportasi distribusi beras yang berlaku saat ini dengan tarif transportasi
distribusi beras yang berlaku pada jasa angkutan beras di Pasar Induk Cipinang
(PIC) Jakarta.
Struktur rantai pasok beras di wilayah Banten pada umumnya sama mulai
dari petani sebagai produsen, pedagang pengumpul sebagai perantara sampai
dengan ke penggilingan sebagai unit pengolahan gabah, perbedaannya hanya
terjadi mulai pada rantai pendistribusiannya. Struktur rantai pasok beras yang
ditemukan pada sentra produksi beras di Propinsi Banten, umumnya mengikuti
pola sebagai berikut :
1) Petani Pengumpul PenggilinganPasar Tradisional Masyarakat
2) Petani Pengumpul PenggilinganPasar Grosir (PIC) Konsumen
3) Petani Pengumpul PenggilinganPemasok Antar PulauPedagang
4) PetaniPengumpulPenggilinganPedagang GrosirPedagangEceran
5) Petani Pengumpul PenggilinganPedagang Eceran Masyarakat
6) PetaniPengumpulPenggilinganBULOGRTS Raskin/Non Raskin
Selama 10 tahun terakhir rata-rata luas panen padi di propinsi Banten
sebanyak 356.051 ha dengan produksi sebanyak 1,73 juta ton GKG dan rata-rata
produktivitas sebesar 4,86 ton/ha. Beras yang dihasilkan terdiri dari kualitas
rendah, kualitas medium, kualitas super dan kualitas premium. Kualitas beras
yang dijual ke BULOG yaitu kualitas medium dengan derajat sosoh minimal
95 %, butir patah maksimal 20 %, butir menir maksimal 2 % dan kadar air
maksimal 14 %. Produksi padi selain dipasarkan ke penggilingan di wilayah
Banten juga diminati oleh pedagang pengumpul/penggilingan yang berasal dari
Karawang. Pemasaran beras dari penggilingan padi di Banten sebagian besar
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di wilayah Banten namun ada pula
permintaan untuk wilayah Jakarta, Bogor, Lampung serta keperluan perdagangan
antar pulau. Berdasarkan data realisasi pengadaan BULOG dan produksi beras di
Banten periode 2005-2010 maka rata-rata penyerapan beras oleh BULOG
terhadap produksi beras Banten hanya sebesar 3 %.
Hasil optimasi memperlihatkan bahwa tujuan pemenuhan permintaan
beras, minimisasi biaya angkutan, target pengadaan setempat, target pengadaan
regional Sulsel dan target pasokan beras dari wilayah Jabar terpenuhi. Target
kapasitas gudang untuk menyimpan beras sesuai MSR 3 bulan hanya terpenuhi di
wilayah Jakarta, Tangerang dan Serang sedangkan gudang di Lebak tidak dapat
menyimpan beras sesuai MSR 3 bulan dan kekurangan kapasitas gudang sebesar
9.108 ton.
Struktur rantai pasok beras yang optimal selain melalui pencapaian target
pengadaan setempat (wilayah Banten) tambahannya untuk wilayah Jakarta
dilakukan melalui pengadaan regional dari wilayah Jawa Barat dan Sulwesi
Selatan, untuk wilayah Tangerang dilakukan melalui movenas langsung dari
Divre Sulawesi Selatan, untuk wilayah Serang dilakukan melalui pengadaan
regional dari Jawa Barat dan movenas dari Divre Sulawesi Selatan baik langsung
maupun transit di gudang Jakarta, untuk wilayah Lebak dilakukan melalui
pengadaan regional dari Sulawesi Selatan dan movenas dari Divre Sulawesi
Selatan baik langsung maupun transit di gudang Jakarta. Biaya transportasi
pengiriman beras yang dapat dihemat dari struktur rantai pasok beras ini adalah
sebesar Rp.13.790.139.648,-.
Kapasitas gudang yang dipergunakan untuk keperluan tugas publik di
wilayah Jakarta tipe GBB adalah sebanyak 13 unit kapasitas 45.500 ton, di
wilayah Tangerang sebanyak 4 unit kapasitas 32.000 ton terdiri dari gudang Mauk
sebanyak 1 unit kapasitas 2.000 ton dan gudang Cikande sebanyak 3 unit
kapasitas 30.000 ton, di wilayah Serang sebanyak 7 unit kapasitas 14.500 ton
terdiri dari gudang Ciruas sebanyak 4 unit kapasitas 4.000 ton dan gudang Serang
sebanyak 3 unit kapasitas 10.500 ton, untuk wilayah Lebak sebanyak 6 unit
kapasitas 6.000 ton terdiri dari gudang Warung Gunung sebanyak 2 unit kapasitas
2.000 ton, gudang Montor 2 unit kapasitas 2.000 ton dan gudang Malimping
sebanyak 2 unit kapasitas 2.000 ton.
Kapasitas gudang yang dapat disewakan hanya terdapat di Jakarta
sebanyak 49 unit kapasitas 171.500 ton dengan potensi pendapatan hasil sewa
gudang selama satu tahun adalah sebesar Rp. 25.401.600.000 dan di Tangerang
sebanyak 7 unit kapasitas 70.000 ton dengan potensi pendapatan hasil sewa
gudang selama satu tahun adalah sebesar Rp. 9.061.852.800,-.
Biaya transportasi distribusi beras Raskin yang dihitung dengan tarif
berbeda untuk setiap wilayah distribusi lebih kecil sebesar Rp. 305.112.135,-
dibandingkan dihitung dengan tarif tetap untuk setiap wilayah distribusi.
Collections
- MT - Business [4063]
