Analisis Kinerja Perimaan Bulog Divre Dki Jakarta Dengan Pendekatan Balanced Sconecard
View/ Open
Date
2011Author
Faisal
Siregar, Hermanto
Achsani, Noer Azam
Metadata
Show full item recordAbstract
Penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting
dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan,
pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem
imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun
reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja
perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.
Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks seperti saat ini
dibutuhkan metode pengukuran kinerja yang dapat menilai kinerja perusahaan secara
akurat dan menyeluruh. Dalam hal ini metode yang dapat digunakan adalah Balanced
Scorecard. Tujuan penggunaan metode Balanced Scorecard adalah untuk mengukur
kinerja perusahaan dari empat perspektif, yaitu: perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran, perspektif proses bisnis internal, perspektif pelanggan, dan perspektif
keuangan.
Implementasi pengukuran kinerja dengan balanced scorecard sudah diterapkan
diberbagai perusahaan, baik itu perusahaan swasta maupun pemerintah. Sebagai
organisasi pemerintah yang sudah berubah menjadi Perum, Bulog memiliki ukuran
tersendiri dengan bobot yang telah ditetapkan sesuai dengan formulasi konversi dan
tabel konversi skor yang mengacu kepada kriteria yang diberikan oleh Menteri
Negara BUMN, yaitu berupa Key Performance Indicator (KPI) Perusahaan.
KPI tahun 2010 disusun atas 4 aspek, yang meliputi; Aspek Operasional,
Aspek SDM, Aspek Dinamis dan Aspek Keuangan. KPI tahun 2010 cukup rinci,
namun demikian menurut Penulis masih terdapat kelemahan, misalnya bobot
penilaian Raskin hanya 7,25%, padahal kebih kurang 90% kegiatan Divre untuk distribusi Raskin, demikian juga halnya dengan kegiatan Komersial terkesan
perdagangan komoditas saja, padahal kegiatan jasa memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap keuangan Divre. Kelemahan lainnya adalah belum diakomodirnya
penilaian kinerja yang diukur berdasarkan perputaran Rasio Aktifitas dan
Solvabilitas. Aktifitas sumber pendapatan Divre DKI Jakarta sebagian besar dari
Penjualan Raskin yang pelunasannya tidak sekaligus, namun secara bertahap.
Demikian juga halnya dengan solvabilitas, karena sebagai organisasi yang sudah
berubah menjadi Perum, Bulog melakukan aktivitasnya dibiayai oleh hutang, yang
mana dalam hal ini memperoleh dana dari pinjaman komersial.
Untuk mengukur keberhasilan Program kerja di Perum Bulog Divre DKI
Jakarta, maka sistem manajemen strategis diperlukan karena perusahaan dituntut
untuk berkembang secara terencana dan terukur, sehingga memerlukan peta
perjalanan menghadapi masa depan yang tidak pasti, memerlukan langkah-langkah
strategis, dan perlu mengarahkan kemampuan dan komitmen SDM untuk
mewujudkan tujuan perusahaan, maka KPI yang berbasis Balanced scorecard yang
dikembangkan oleh Norton dan Kaplan memberikan solusi terhadap tuntutan ini.
Dalam Penelitian ini tujuan yang hendak dicapai adalah antara lain melakukan
pengkajian terhadap sistem penilaian kinerja yang dilakukan oleh Perum Bulog Divre
DKI Jakarta, dan sejauh mana pendekatan Balanced Scorecard berpengaruh kepada
kinerja Perusahaan, yaitu dengan menganalisis kinerja perusahaan dengan
menggunakan KPI dan diimplementasikan dengan metoda Balanced Scorecard
dengan empat perspektif yang berbeda, yaitu Perspektif finansial, Perspektif
customer, Perspektif proses bisnis internal dan Perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran. Selanjutnya membuat strategy map dengan cara membuat scorecard
terhadap Key Performance Indicator (KPI) perusahaan, sehingga diharapkan dapat
diperoleh peningkatan kinerja yang lebih luas, memberikan rekomendasi sistem
penilaian kinerja perusahaan yang efektif sebagai bagian dari rumusan manajemen
stratejik perusahaan.
Pada kenyataannya pada KPI Divre DKI Jakarta yang berbasis balanced
scorecard belum dilaksanakan secara optimal, sehingga terpenuhi hanya beberapa
indikator saja. Namun demikian Divre DKI Jakarta terus berbenah untuk
meningkatkan kinerja, sehingga dapat dilihat pencapaian KPI Perum Bulog Divre
DKI Jakarta apabila dibandingkan antar tahun mengalami peningkatan, perubahan
pencapaian skor yang ditargetkan Perusahaan pada angka kumulatif yang cukup
tinggi, yaitu sekitar 15,11%. Perubahan organisasi dengan penentuan pencapaian
skala kinerja masing-masing Divre, membuat Divre DKI Jakarta bekerja keras dan
berbenah meningkatkan performancenya hasilnya terjadi kenaikan kinerja yang
signifikan. Walaupun pada satu sisi aspek keuangan belum memberikan kontribusi
yang maksimal, karena bidang komersial masih berbenah untuk penambahan income
perusahaan.
Penelitian ini masih banyak kelemahan, antara lain:
- Faktor subjectivitas berpengaruh pada saat penyebaran kuesiner.
- Responden penelitian ini merupakan pelanggan dan karyawan dari berbagai
bagian. Heterogenitas dalam perusahaan dimana responden bekerja, kemungkinan
juga dapat menyebabkan hasil yang berbeda dibandingkan jika responden berasal
dari bagian yang relatif homogen. Dan perhitungan bobot penilaian kuesioner
kepuasan karyawan menggunakan skala Likert.
Penulis menyarankan untuk kesempurnaan penelitian mendatang adalah.:
1. Mengacu pada KPI yang ditetapkan Perusahaan, aspek operasional memperoleh
porsi yang sangat tinggi dalam pembobotannya, mendatang perlu dipertimbangan
adanya perimbangan antara aspek operasional dan Keuangan.
2. Manajemen hendaknya harus memperhatikan Profitabilitas Perusahaan, karena
walaupun Perusahaan memiliki fungsi sosial dan komersial, untuk kedepan
Perusahaan agar meningkatkan bisnis komersial yang belum optimal.
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut, sehingga kekurangan dan keterbatasan dalam
penelitian bisa diminimalisir, karena penelitian KPI Perum Bulog yang berbasis
balanced scorecard di Divre DKI Jakarta ini baru pertama kali diadakan .
Collections
- MT - Business [4063]
