Perencanaan Optimalisasi Jasa Angkutan Perum Bulog (Studi Kasus Pada Unit Bisnis Jasa Angkutan Divisi Regional Sulawesi Selatan)
Abstract
Selama lebih dari 30 tahun Bulog telah melaksanakan penugasan dari
pemerintah untuk menangani bahan pangan pokok khususnya beras dalam
rangka memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, sejak krisis ekonomi
yang melanda Indonesia pada tahun 1997 timbul tekanan yang sangat kuat agar
peran pemerintah dipangkas sehingga semua kepentingan nasional termasuk
pangan harus diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Pada akhirnya
tahun 2003 LPND Bulog secara resmi berubah menjadi Perum Bulog. Dengan
bentuk Perum, dan memiliki visi dan misi yang baru, Bulog tidak hanya dituntut
untuk melaksanakan tugas publik tetapi juga diharapkan mampu untuk
melakukan bisnis logistik secara professional. Oleh karena itu Perum Bulog
membentuk Unit Bisnis Jasa Angkutan tahun 2004. Namun demikian, secara
garis besar kegiatan unit jasa angkutan yang dilakukan oleh Bulog selama enam
tahun tersebut diduga belum optimal dan belum mampu memberikan keuntungan
terbesarnya bagi Bulog.
Dengan permasalahan yang timbul, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana kinerja unit bisnis jasa angkutan selama ini dan
faktor-faktor apa yang mempengaruhi kinerja pada unit bisnis jasa angkutan dan
bagaimana formulasi pengelolaan angkutan agar memberikan keuntungan yang
maksimal bagi unit bisnis tersebut.
Berdasarkan pada rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka
penelitian ini memiliki tujuan teridentifikasinya kinerja jasa angkutan dan berbagai
faktor yang mempengaruhi kinerja pada unit bisnis jasa angkutan dan
dihasilkannya rencana jasa angkutan untuk memenuhi kebutuhan distribusi yang
memberikan keuntungan maksimum. Penelitian dilakukan terhadap aktifitas
angkutan nasional (movement nasional), angkutan regional (movement regional),
dan angkutan raskin (movement raskin) yang dilakukan oleh unit bisnis jasa
angkutan Divre Sulsel. Rencana jasa angkutan dibatasi pada kombinasi volume
angkutan yang ditangani dengan menggunakan sumber daya angkutan internal
dan eksternal dan hanya untuk komoditi beras.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan berencana dengan jenis
penelitian studi kasus. Data yang diperlukan meliputi data kuantitatif dan data
kualitatif. Data kuantitatif meliputi data volume angkutan, tarif angkutan, biaya
angkutan, dan data lainnya yang diperlukan untuk analisis. Data kualitatif meliputi
kebijakan-kebijakan dari Perum Bulog dan informasi lainnya yag terkait dengan
operasional kegiatan angkutan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui
wawancara dan dengan kuisioner kepada para ahli angkutan. Pengumpulan data
sekunder dilakukan terhadap unit bisnis, laporan manajerial dan dari divisi-divisi
di Kantor Pusat Perum Bulog, Divre Sulsel, dan dari studi pustaka. Teknik
pengolahan dan analisis data untuk menganalisis berbagai faktor yang
mempengaruhi kinerja unit bisnis dilakukan dengan menggunakan metode AHP.
Pengolahan matriks data dilakukan dengan menggunakan software Expert
Choice 2000. Teknik pengolahan dan analisis data untuk menganalisis volume
angkutan yang optimal dilakukan dengan menggunakan metode Linear
Programming. Pengolahan data Linear Programming menggunakan software
LINDO (Linear Interactive Discrete Optimizer). Model matematika linear
programming untuk kegiatan angkutan nasional (movenas) dan angkutan
regional (movereg) dirumuskan dengan fungsi tujuan minimisasi biaya angkutan
dengan kendala volume angkutan yang diminta oleh Divre/Subdivre penerima,
kapasitas volume angkutan yang tersedia, dan jumlah persediaan beras di
Subdivre pengirim, sementara untuk kegiatan angkutan raskin (moveraskin)
dirumuskan dengan fungsi tujuan minimisasi biaya angkutan dengan kendala
volume angkutan yang diminta oleh titik distribusi dan kapasitas volume
angkutan yang tersedia.
Hasil penelitian menunjukkan pencapaian target penerimaan UB Jasang
sebesar 100,39% tetapi pencapain target laba kotor yang diperoleh baru
mencapai 63,12%.
Urutan faktor dan bobot hasil analisis yang mempengaruhi kinerja UB
Jasang berturut-turut adalah kebijakan manajemen Perum Bulog (0,288); volume
angkutan (0,181); sumber daya manusia (0,140); biaya angkutan (0,136); jumlah
armada (0,110); modal yang digunakan (0,084); dan terakhir adalah kapasitas
gudang (0,060).
Hasil optimasi menunjukkan bahwa biaya angkutan per ton pada kegiatan
angkutan nasional (movenas) dan angkutan regional (movereg) adalah sebesar
Rp. 272.148,- lebih kecil daripada biaya aktual (Rp. 334.958,-) dan terjadi
perubahan jalur angkutan.
Pada kegiatan angkutan raskin (moveraskin) hasil optimasi menunjukkan
bahwa besarnya biaya angkutan per ton adalah Rp. 84.269,- lebih kecil daripada
biaya aktual (Rp 85.010),- dan tidak terjadi perubahan jalur angkutan.
Dalam rangka pengembangan usaha untuk mencapai keuntungan yang
maksimal sesuai dengan hasil optimasi, maka UB Jasang harus menyediakan
armada angkutan berupa 3 unit kapal yang masing-masingnya berkapasitas
angkut 5000 ton dan 10 unit truk yang masing-masingnya berkapasitas angkut 8
ton.
Hasil penelitian memberikan implikasi kepada manajerial bahwa (1)
Manajemen Perum Bulog dapat meningkatkan kinerja UB Jasang dengan cara
peningkatan volume angkutan yang dikelola UB Jasang melalui penetapan jalur
dan jumlah beras yang dialokasikan pada setiap jalur dan penyediaan sarana
angkutan milik sendiri, (2) Pihak manajemen Perum Bulog dapat membuat
kontrak penetapan jalur distribusi beras untuk UB Jasang Divre Sulawesi Selatan
(3) Manajemen Perum Bulog dapat memperoleh laba yang lebih besar dari
kegiatan komersil angkutan bila dilakukan model optimasi pada perencanaan
angkutan nasional (movenas), angkutan regional (movereg), dan angkutan raskin
(moveraskin).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Kinerja UB Jasang Divre Sulsel
tahun 2009 ditandaia dengan pencapaian target penerimaan UB Jasang sebesar
100,39% tetapi pencapaian target laba kotor baru mencapai 63,12%. `(2) Urutan
faktor yang mempengaruhi kinerja UB Jasang berturut-turut adalah kebijakan
manajemen Perum Bulog dengan bobot hasil penilaian sebesar 0,288; volume
angkutan dengan bobot hasil penilaian sebesar 0,181; sumber daya manusia
dengan bobot hasil penilaian sebesar 0,140; biaya angkutan dengan bobot hasil
penilaian sebesar 0,136; jumlah armada dengan bobot hasil penilaian sebesar
0,110; modal yang digunakan dengan bobot hasil penilaian sebesar 0,084; dan
terakhir adalah kapasitas gudang dengan bobot hasil penilaian sebesar 0,060,
(3) Kendala-kendala yang membatasi optimalisasi volume angkutan pada
angkutan nasional (movenas) dan angkutan regional (movereg) adalah jumlah
beras yang dibutuhkan oleh Subdivre/Divre penerima, kapasitas angkutan yang
tersedia, dan persediaan beras yang ada di Subdivre pengirim (4) Kendalakendala
yang membatasi optimalisasi volume angkutan pada angkutan raskin
(moveraskin) adalah jumlah beras yang dibutuhkan oleh titik distribusi dan
kapasitas angkutan yang tersedia, (5) Hasil optimalisasi pada angkutan nasional
(movenas) dan angkutan regional (movereg) menunjukkan bahwa biaya
angkutan per ton adalah RP 272.148,- lebih kecil daripada biaya aktual
(Rp. 334.958,- per ton), (6) Hasil optimalisasi pada angkutan raskin (moveraskin)
menunjukkan bahwa biaya angkutan raskin per ton adalah Rp. 84.269,- lebih
kecil daripada biaya aktual (Rp.85.010,- per ton). (7) Dengan menggunakan
model optimasi linear programming, jalur angkutan nasional (movenas) dan
angkutan regional (movereg) UB Jasang Divre Sulsel mengalami perubahan,
sementara pada angkutan raskin jalur angkutan tidak mengalami perubahan dan
(8) Untuk pengembangan usaha, UB Jasang diharapkan diharapkan dapat
menyediakan armada angkutan berupa 3 unit kapal yang masing-masing
berkapasitas 5000 ton dan 10 unit truk yang masing-masing berkapasitas 8 ton
guna memperoleh keuntungan yang maksimal.
Beberapa saran yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen Perum
Bulog untuk meningkatkan kinerja UB Jasang adalah :(1) Perlu kebijakan dari
manajemen Perum Bulog dalam hal pengaturan porsi angkutan yang dikelola UB
Jasang dan penyediaan sarana angkutan, (2) Penerapan model optimasi pada
angkutan nasional, angkutan regional, dan angkutan raskin diharapkan dapat
meningkatkan efisiensi biaya angkutan, (3) Hasil penelitian merupakan verifikasi
model dengan menggunakan kondisi permintaan dan persediaan tahun 2009,
tetapi untuk perencanaan angkutan kedepan dapat dikembangkan melalui model
optimasi ini, dan (4) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk pengembangan
usaha UB Jasang Perum Bulog dimasa yang akan datang.
Collections
- MT - Business [4063]
