Rancangan Strategik Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan Di Kabupaten Aceh Timur
Abstract
Salah satu hasil pertanian di Indonesia yang menjadi komoditi unggulan
adalah tanaman pangan. Kebutuhan terhadap tanaman pangan akan selalu ada.
Hal ini disebabkan setiap hari tanaman pangan selalu dikonsumsi masyarakat
Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan pangan harus tetap dijaga karena secara
umum kebutuhan beberapa jenis tanaman pangan masih belum dapat dipenuhi
dari produksi dalam negeri sehingga harus diimpor setiap tahunnya.
Badan Pusat Statistik (2008) menyatakan bahwa dari luas Kabupaten Aceh
Timur 604.060 Ha adalah 109.933 Ha atau sekitar 18 % merupakan lahan
pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang terdiri dari lahan sawah dan
lahan kering. Dengan potensi lahan tersebut, upaya-upaya peningkatan produksi
serta mengembangkan daerah-daerah yang berpotensi untuk menjadi sentra
produksi andalan merupakan langkah yang akan menghasilkan produk pertanian
yang mempunyai daya saing dan unggul bagi daerah. Dengan demikian usahatani
yang kepada kegiatan Agribisnis bisa lebih ditingkatkan (Renstra Dinas Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Timur, 2008).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu
pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dan
dilakukan dalam bentuk survei. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis melalui
Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) maka diperoleh Komoditi unggulan
yang paling potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Aceh Timur adalah padi,
dengan nilai 802.033.681. Ubi kayu menempati urutan kedua sebagai komoditi
unggulan pertanian tanaman pangan yang berpotensi untuk dikembangkan dengan
total nilai 796.723.757. Komoditi unggulan berikutnya yang paling potensial
untuk dikembangkan adalah jagung dengan total nilai 785.711.342. Kedelai,
kacang hijau, ubi jalar dan kacang tanah adalah komoditi berikutnya dengan total
nilai berturut turut 781.555.164, 449.772.277, 402.581.550, dan 196.569.516.
Selanjutnya Berdasarkan evaluasi matriks IFE, faktor-faktor strategis pada
lingkungan internal dipisahkan menjadi dua faktor penentu internal berdasarkan
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh
Timur yang memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap sektor pertanian
tanaman pangan. Faktor strategis kekuatan yang memiliki kepentingan relatif
tertinggi adalah Tersedianya sumberdaya lahan yang relatif luas bagi
pengembangan pertanian tanaman pangan. Faktor strategis kelemahan yang
memiliki kepentingan relatif dan mendapatkan respon tertinggi terdiri dari 3 (tiga)
strategi yaitu adalah bantuan modal masih kurang dari lembaga bantuan (Koperasi), infrastruktur Pertanian masih rendah (akses jalan daerah pedalaman),
dan jaringan informasi (harga, pasar) masih lemah dari dinas terkait.
Berdasarkan hasil evaluasi matriks EFE, faktor-faktor strategis pada
lingkungan eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Faktor strategis peluang
yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah Kondisi Iklim (curah hujan)
yang mendukung bagi komoditi pertanian tanaman pangan. Faktor strategis
peluang ini juga direspon dengan baik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh
Timur. Berdasarkan faktor ancaman, faktor strategis ancaman yang memiliki
kepentingan relatif tertinggi dan direspon dengan baik/diatas rata-rata oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Timur adalah harga sarana produksi
pertanian semakin mahal (harga tidak terjangkau).
Hasil analisis dengan menggunakan matriks SWOT, diidentifikasi alternatif
strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan pertanian subsektor tanaman
pangan di kabupaten Aceh Timur, adalah: 1) Peningkatan produksi pertanian
tanaman pangan melalui pemanfaatan luas dan kesesuaian lahan di Aceh Timur;
2) Peningkatan koordinasi dengan semua pihak yang terkait (stakeholders) dalam
memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) Khususnya Pertanian Tanaman
Pangan, perkembangan teknologi dan informasi untuk meningkatkan daya saing
sub sektor tanaman pangan; 3) Peningkatan Sumber Daya Manusia Pertanian
Tanaman Pangan (Petani dan Petugas Penyuluh Lapangan) melalui pola
pembinaan kelompok tani, pelatihan-pelatihan, magang dan studi banding dalam
upaya meningkatkan motivasi, kemampuan penguasaan teknologi tepat guna dan
manajerial dari SDM Pertanian tanaman pangan; dan 4) Penerapan pola kemitraan
usaha pertanian tanaman pangan yang berkesinambungan yang dikontrol dengan
baik oleh Dinas Terkait.
Hasil analisis prioritas strategi menggunakan alat analisis QSPM,
strategi yang memiliki prioritas pertama yang dapat diimplementasikan dalam
pengembangan pertanian subsektor tanaman pangan di kabupaten Aceh Timur
adalah strategi (ST), yaitu: Strategi Peningkatan Sumber Daya Manusia Pertanian
Tanaman Pangan (Petani dan Petugas Penyuluh Lapangan) melalui pola
pembinaan kelompok tani, pelatihan-pelatihan, magang dan studi banding dalam
upaya meningkatkan motivasi, kemampuan penguasaan teknologi tepat guna dan
manajerial dari SDM Pertanian tanaman pangan.
Collections
- MT - Business [4062]
