Analisis Manajemen Modal Kerja dan Dampaknya Terhadap Profitabilitas dan Nilai Perusahaan (Studi Kasus Pada Industri Logam Di Bei)
View/ Open
Date
2014Author
Valentina, Astrid Harera
Achsani, Noer Azam
Maulana, Tb.Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Setiap perusahaan dalam melakukan kegiatannya selalu membutuhkan
dana. Dana yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk membelanjai operasi seharihari disebut modal kerja. Manajemen modal kerja yang dirancang dan
diimplementasikan dengan baik diharapkan dapat memberikan kontribusi positif
terhadap profit dan penciptaan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan (1)
Menganalisis siklus konversi kas serta komponennya (umur persediaan, umur
piutang usaha, umur hutang usaha) dan rasio keuangan perusahaan, (2)
Menganalisis kebijakan modal kerja perusahaan dan dampaknya terhadap
profitabilitas perusahaan, (3) Menganalisis pengaruh siklus konversi kas serta
komponennya (umur persediaan, umur piutang usaha, umur hutang usaha), rasio
lancar, rasio hutang dan tingkat pengembalian aktiva periode sebelumnya, serta
ukuran perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan, dan (4) Menganalisis
pengaruh perputaran total aktiva, rasio lancar, rasio hutang, ukuran perusahaan,
dan profit perusahaan terhadap nilai perusahaan.
Metode analisis yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, cross
tabulation, kebijkan modal kerja, Du Pont, dan regresi data panel. Jenis data yang
digunakan adalah data sekunder berupa Laporan Keuangan Tahunan yang sudah
diaudit dan Laporan Tahunan perusahaan tahun 2010, 2011 dan 2012 yang
merupakan data publikasi perusahaan yang dapat diakses di situs Bursa Efek
Indonesia (www.idx.co.id). Objek penelitian ini mencakup 15 perusahaan terbuka
yang termasuk ke dalam industri logam di BEI.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode rata-rata penagihan piutang
pada industri logam di BEI adalah 68 hari, rata-rata perputaran persediaan adalah
108 hari, periode rata-rata pembayaran utang adalah 42 hari, dan siklus konversi
kas adalah 134 hari. Industri logam di BEI memiliki rata-rata Net Operating Profit
(NOP) yang rendah (8%). Hal ini dilihat dari rata-rata Cash Coversion Cycle
(CCC) 134 hari dan bernilai positif, artinya perusahaan memiliki umur piutang
usaha lebih besar dibandingkan dengan umur utang usahanya. Dengan kata lain,
industri logam di BEI cenderung konservatif dalam pengelolaan modal kerjanya.
Nilai CCC terendah (-14 hari) dan bernilai negatif menunjukkan bahwa
menunjukkan umur utangnya lebih besar umur piutangnya. Dalam hal ini,
perusahaan mampu menegosiasi jangka waktu atau jatuh tempo pembayaran
hutang dengan pihak kreditur. Kemudian Financial Debt Ratio (FDR) tertinggi
sebesar 243% atau memiliki jumlah hutang yang lebih besar dibandingkan jumlah
aktivanya. Kekurangan modal tersebut direncanakan akan dihilangkan melalui
program Debt to Equity Swap.
Sebagian besar perusahaan logam di BEI menganut kebijakan modal kerja
konservatif. Hal ini diindikasikan oleh modal kerja bersih bernilai positif dan nilai
rata-rata CCC yang ada dimana nilainya adalah positif serta sumber
pendananaanya sebagian besar dari ekuitas untuk mendanai seluruh aktiva tetapnya dan sebagian aktiva lancarnya. Secara teoritis, kebijakan konservatif ini
memiliki risiko rendah, biaya tinggi dan hasil rendah. Namun tidak demikian
halnya yang terjadi pada industri logam di BEI. Perusahaan yang menganut
kebijkan konservatif justru memiliki net operating profit yang lebih tinggi
dibandingkan perusahaan yang menganut pendekatan agresif dengan komposisi
pendanaannya sebagian besar berasal dari pinjaman jangka pendek. Hal ini
dikarenakan faktor resiko yang dihadapi industri logam dalam negeri digolongkan
menjadi 2, yaitu resiko sisi mikro dan makro. Resiko sisi mikro, antaralain risiko
kredit, risiko mata uang, risiko suku bunga, risiko likuiditas dan risiko harga.
Resiko sisi makro, meliputi harga pasar, tingkat harga BBM dan gas, nilai tukar
valas, pertumbuhan ekonomi, dan kestabilan pasokan bahan baku. Selain itu, dari
segi struktur biaya, Harga Pokok Penjualan (HPP) berkontribusi sebesar 90%
terhadap total biaya. Meningkatnya beban pokok penjualan tersebut sejalan
dengan peningkatan rata-rata volum penjualan. Komponen besar pembentuk HPP
adalah biaya bahan baku. Kenaikan pada komponen biaya bahan baku ini
berkontribusi sebesar 79% terhadap total kenaikan beban pokok penjualan.
Meningkatnya biaya bahan baku terutama disebabkan oleh meningkatnya harga
pengadaan bahan baku impor. Karakter bisnis industri logam merupakan business
to business (B2B). Hal ini terlihat dari komponen kas, piutang usaha, dan
persediaan yang besar pada komposisi aset lancarnya. Industri logam
dikategorikan sebagai high margin industries karena perputaran asetnya
cenderung lambat dan leverage-nya pun lelatif rendah sehingga profit margin
merupakan faktor dominan bagi tingginya ROE pada industri logam.
Hasil regresi menunjukkan hubungan yang negatif signifikan antara
periode pengumpulan piutang, siklus konversi kas, rasio lancar, rasio utang, dan
aset tetap untuk rasio total aset pada profitabilitas operasi bersih dan adanya
hubungan positif signifikan antara ukuran perusahaan dan net operating profit.
Selanjutnya, penelitian ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara
perputaran persediaan dalam hari dan rata-rata periode pembayaran utang
terhadap laba operasional. Studi ini juga menemukan hubungan negatif yang
signifikan antara current ratio dan nilai perusahaan dan positif yang signifikan
antara laba operasi bersih dan nilai perusahaan.
Hasil ini menunjukkan bahwa sebaiknya industri logam di BEI menganut
kebijakan agresif dalam pengelolaan modal kerjanya. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan net operating profit dengan cara memperpendek siklus konversi
kas. Namun demikian, pada kebijakan agresif ini perusahaan dihadapkan pada
risiko likuiditas karena sumber dana jangka pendek mempunyai jatuh tempo yang
singkat, sehingga perusahaan tidak memiliki keleluasaan dalam pelunasan
kembali artinya perusahaan mempunyai tingkat keamanan (margin of safety) yang
kecil. Pada pendekatan agresif ini, perusahaan berani menanggung resiko yang
cukup besar, sedangkan trade-off yang diharapkan adalah memperoleh profit yang
lebih besar. Selain itu, karena sebagian besar perusahaan logam mengimpor bahan
baku dari luar negeri maka untuk mengantisipasi risiko kurs pada biaya pendanaan
tersebut adalah dengan melakukan hedging untuk melindungi sebuah perusahaan
dari exposure terhadap nilai tukar
Collections
- MT - Business [4063]
