Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Besar Pertambangan Non Migas
View/ Open
Date
2014Author
Purwitosari, Diah
Oktaviani, Rina
Firdaus, Muhammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah sehingga pengelolaan
sumber daya alam tersebut dapat menjadi sumber penerimaan pajak yang besar.
Namun demikian tax ratio Indonesia termasuk di dalamnya sumber daya alam non
migas berada dibawah tax ratio rata rata negara anggota ASEAN. Data masuknya
arus investasi asing di Indonesia menunjukkan bahwa pada sektor primer,
pertambangan non migas adalah sektor yang paling diminati. Hasil penelitian
terdahulu menyatakan bahwa wajib pajak badan yang memiliki komposisi modal
asing pada struktur modalnya memiliki tingkat kepatuhan pajak yang lebih rendah.
Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya pengawasan terhadap kegiatan usaha
di bidang pertambangan non migas terkait dengan pemenuhan kewajiban
perpajakan agar dapat memberi kontribusi terhadap penerimaan negara.
Pemenuhan kewajiban perpajakan di Indonesia yang telah menerapkan sistem
pemungutan pajak self assessment membutuhkan tingkat kepatuhan wajib pajak
yang maksimal. Upaya peningkatan tingkat kepatuhan tersebut dapat dilakukan
dengan tindakan pencegahan melalui pemeriksaan pajak yang terencana sehingga
hasilnya efektif dan efisien. Perencanaan pemeriksaan berdasarkan risiko perlu
dilakukan mengingat terdapat keterbatasan sumber daya manusia pada Direktorat
Jenderal Pajak.
Penelitian ini menganalisis risiko ketidakpatuhan wajib pajak besar
pertambangan non migas di Indonesia. Asumsi yang mendasari penelitian ini
adalah bahwa wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya untuk
memaksimalkan utility penghasilannya. Analisis menggunakan regresi logistik
ordinal digunakan untuk mengetahui hubungan antara Return On Investment
(ROI), Debt to Equity Ratio (DER), asset, dan status pemeriksaan dengan tingkat
risiko ketidakpatuhan. Hasil analisis regresi logistik ordinal tersebut kemudian
digunakan untuk menentukan bentuk perilaku ketidakpatuhan wajib pajak.
Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menyimpulkan pendapat
pakar mengenai prioritas bentuk ketidakpatuhan serta faktor-faktor yang
digunakan untuk mendeteksinya.
Berdasarkan regresi logistik ordinal ditemukan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara tingkatan risiko ketidakpatuhan dengan ROI, dan status
wajib pajak pernah diperiksa. Hasil lainnya menunjukkan adanya indikasi perilaku
thin capitalization berdasarkan besarnya DER. Prioritas bentuk ketidakpatuhan
dari hasil penelitian ini secara berurutan adalah praktik outbound transfer pricing,
thin capitalization, dan inbound transfer pricing. Keseluruhan hasil penelitian ini
dapat digunakan untuk merumuskan perilaku ketidakpatuhan wajib pajak besar
pertambangan non migas yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam membuat
rencana pemeriksaan berdasarkan risiko.
Collections
- MT - Business [4063]
