Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Terhadap Profitabilitas Perusahaan Tekstil Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Th.2005-2011
Abstract
Industri tekstil merupakan industri penting sebagai penyedia kebutuhan
sandang manusia. Kebutuhan sandang di dunia akan terus meningkat sejalan
dengan peningkatan jumlah penduduk. Oleh karena itu, industri ini memiliki
potensi untuk dikembangkan. Industri tekstil nasional mampu memberikan
kontribusi sebesar 2.1% terhadap Produk Domestik Bruto pada tahun 2009 (BPS
2010). Sumbangan devisa yang dihasilkan pada tahun 2009 mencapai USD 9
milyar. Indonesia menjadi eksportir terbesar ke 8 dunia untuk ekspor pakaian dan
eksportir terbesar ke 11 dunia untuk ekspor tekstil (WTO 2011).
Pengembangan industri tekstil di Indonesia bukan tanpa kendala.
Kebijakan perdagangan, baik internasional seperti penghapusan kuota impor
tekstil di Amerika Serikat dan Uni Eropa dan kebijakan perdagangan regional
seperti ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) membawa industri tekstil
kepada tingkat persaingan yang semakin ketat. Selain itu kondisi seperti usia
mesin, ketergantungan terhadap bahan baku impor dan kurangnya dukungan
perbankan membuat industri ini menghadapi biaya produksi yang tinggi. Ketatnya
persaingan dan tingginya biaya produksi membuat kinerja industri tekstil
mengalami penurunan yang terlihat dari kinerja ekspor yang terus menurun dan
kinerja impor yang semakin meningkat. Penurunan kinerja ini juga terlihat pada
kemampuan perusahaan tekstil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam
menghasilkan profit. Selama 2005-2011 profitabilitas perusahaan tekstil yang
terdaftar di BEI berada pada posisi negatif yang menunjukkan bahwa rata-rata
perusahaan mengalami kerugian.
Profitabilitas merupakan faktor yang sangat penting agar perusahaan dapat
berkembang. Perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi menunjukkan
kemampuannya untuk menambah aset yang dapat digunakan untuk
mengembangkan usahanya, sedangkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas
yang rendah akan sulit untuk bertahan apalagi berkembang. Profitabilitas
perusahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
meliputi pengelolaan aset yang dimiliki serta pendanaan terhadap aset tersebut,
sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi makroekonomi dan kebijakan yang
mengatur perdagangan tekstil.
Pengelolaan aset yang efisien akan menghasilkan tingkat perputaran aset
yang tinggi artinya untuk menghasilkan tingkat penjualan tertentu dibutuhkan
lebih sedikit aset, sehingga produktivitas aset meningkat. Peningkatan
produktivitas aset akan menekan kebutuhan aset sekaligus meningkat
profitabilitas perusahaan. Kebutuhan aset perusahaan tidak semuanya dapat
dipenuhi oleh pemilik perusahaan sehingga membuat perusahaan menggunakan
dana dari pihak eksternal. Ketidakmampuan perusahaan dalam mengelola
utangnya untuk menghasilkan penjualan yang tinggi hanya akan menyebabkan
biaya utang yang tinggi, sehingga berdampak pada penurunan profitabilitas.
Inflasi berpengaruh terhadap biaya produksi dan daya beli masyarakat
yang akan berpengaruh terhadap penjualan perusahaan. Depresiasi kurs akan berdampak pada peningkatan harga bahan baku impor dan peningkatan nilai
penjualan ekspor. Suku bunga akan berdampak pada besarnya biaya bunga yang
harus ditanggung oleh perusahaan, sedangkan ACFTA akan memberikan
kesempatan perusahaan untuk menurunkan biaya produksi dengan adanya bahan
baku impor dari China yang lebih murah dan peningkatan penjualan ke China.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini berfokus pada
pengaruh faktor internal meliputi pengelolaan total aset dan solvabilitas serta
faktor eksternal meliputi inflasi, kurs, suku bunga, dan kebijakan perdagangan
(ACFTA) terhadap profitabilitas perusahaan tekstil yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2005-2011.
Penelitian menggunakan data sekunder berupa data makroekonomi
meliputi inflasi, kurs, suku bunga dan laporan keuangan perusahaan tekstil yang
tercatat di BEI selama periode 2005-2011 dengan menggunakan dua pendekatan
yaitu pendekatan deskriptif dan pendekatan ekonometrika. Perusahaan tekstil
yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 13 perusahaan sehingga
terdapat 91 titik pengamatan. Data diolah menggunakan teknik analisis regresi
data panel dengan bantuan software Eviews 6. Penelitian ini menggunakan
variabel ROA sebagai variabel terikat (dependen) yang mewakili profitabilitas
perusahaan dan variabel perputaran total aset (total asset turnover = TATO),
solvabilitas (debt to asset ratio = DAR), inflasi, kurs, suku bunga Bank Indonesia,
dan ACFTA sebagai variabel bebas (independen).
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan
tekstil yang menjadi sampel penelitian selama tahun 2005-2011 berfluktuasi pada
posisi negatif selama 2005-2010 dan hanya pada tahun 2011 profitabilitas berada
pada posisi positif. Nilai rata-rata ROA sebesar -0.0369 artinya secara rata-rata
setiap rupiah yang diinvestasikan kedalam aset akan mengalami kerugian sebesar
Rp 0.0369. Pengelolaan aset perusahaan yang dilihat menggunakan rasio aktivitas
berupa tingkat perputaran total aset menunjukkan bahwa selama periode
penelitian cenderung stabil dengan nilai rata-rata sebesar 1.0207 artinya setiap
rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk aset mampu menciptakan penjualan
sebesar Rp. 1.0207. Analisis deskriptif tingkat solvabilitas menunjukkan bahwa
rata-rata tingkat solvabilitas perusahaan tinggi yaitu 0.9239 artinya 92.39 % aset
perusahaan didanai melalui utang. Hal ini menunjukkan bahwa industri tekstil
sangat tergantung terhadap utang.
Kondisi makroekonomi selama 2005-2011 fluktuatif terutama pada masamasa krisis global dimana terjadi depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat yang cukup tinggi, dan inflasi yang cenderung berfluktuasi pada periode
tersebut. Oleh karena itu pemerintah mengambil kebijakan untuk meredam
gejolak tersebut dengan menstabilkan suku bunga Bank Indonesia. Sementara itu
dijalankannya ACFTA program Normal Track I membuat perdagangan tekstil
antara Indonesia China mengalami peningkatan yang cukup besar. Kondisi krisis
menyebabkan penjualan tekstil perusahaan sampel mengalami penurunan.
Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap profitabilitas dilihat
dengan menggunakan regresi data panel dengan model terpilih adalah model
pooled least square model (PLSM). Berdasarkan hasil analisis regresi data panel
dengan model PLSM menunjukkan bahwa secara keseluruhan arah hubungan
antara faktor internal dan eksternal terhadap profitabilitas sesuai dengan teori dan
logika. Nilai R2
yang dihasilkan sebesar 0.45 menunjukkan bahwa keragaman TATO, DAR, inflasi, kurs, SBI, dan ACFTA dapat menjelaskan keragaman
profitabilitas sebesar 45% sedangkan sisanya sebesar 55% dijelaskan oleh faktor
lain yang tidak masuk dalam model penelitian. Nilai p-value Fstatistik dari model
signifikan pada α 5% maka paling tidak ada satu dari TATO, DAR, inflasi, kurs,
SBI, dan ACFTA yang berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Terdapat
tiga faktor yang memberikan pengaruh signifikan terhadap ROA yaitu TATO
dengan pengaruh positif, DAR dengan pengaruh negatif dan inflasi dengan
pengaruh negatif. Sedangkan tiga faktor lainnya yaitu kurs, suku bunga Bank
Indonesia dan ACFTA tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka direkomendasikan kepada
manajemen perusahaan agar lebih memanfaatkan aset-aset yang dimilikinya untuk
mendukung proses produksi. Oleh karena itu perusahaan yang memiliki aset yang
tidak produktif seperti aset yang tersedia untuk dijual, tanah yang hanya
digunakan sebagai jaminan, aset-aset yang tidak digunakan harus segera diubah
menjadi aset yang dapat mendukung penjualan perusahaan seperti dana segar
dalam bentuk kas, sehingga dapat digunakan untuk membiayai operasional
perusahaan tanpa perusahaan harus berutang. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian ini yang menunjukkan bahwa penggunaan utang berpengaruh negatif
terhadap profitabilitas perusahaan. Selain itu manajemen harus mengubah struktur
modalnya dengan menambah komponen ekuitas sehingga dapat menurunkan
tingkat utang yang dapat dilakukan dengan menambah penjualan kepada publik
dan mengubah utang yang ada menjadi penyertaan saham kepada perusahaan.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa perusahaan juga harus
memperhatikan faktor inflasi sebagai faktor eksternal yang berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Salah satu yang dapat dilakukan
perusahaan adalah dengan melakukan kontrak pembelian input sehingga
perusahaan dapat mengurangi risiko mengalami kenaikan harga yang terlalu
tinggi yang dapat mengganggu proses produksi. Bagi Kementrian Perindustrian
sebagai regulator harus senantiasa mendukung penciptaan iklim usaha yang
kondusif terutama dalam mengurangi dampak inflasi yang dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut: 1). Perbaikan infrastruktur seperti jalan dan
pelabuhan sehingga dapat menekan biaya transportasi, 2). Pengurangan pajak
pertambahan nilai impor sehingga harga input dapat ditekan dan 3) Menjamin
ketersediaan bahan baku dengan meningkatkan produksi bahan baku lokal. Bagi
investor di pasar modal dapat berinvestasi pada sektor hilir industri tekstil karena
sektor hilir memiliki tingkat produktifitas paling tinggi dan penggunaan aset yang
lebih efisien dibandingkan sektor hulu dan menengah.
Collections
- MT - Business [4063]
