Pengaruh Ethosentrisme Terhadap Sikap, Preferensi, dan Perilaku Pembelian Buah Lokal dan Impor
View/ Open
Date
2013Author
Anggasari, Popy
Yulianti, Lilik Noor
Retnaningsih
Metadata
Show full item recordAbstract
Era globalisasi dan keikutsertaan Indonesia pada lembaga-lembaga
internasional seperti World Trade Organization (WTO), Asean Free Trade Area
(AFTA), Asia Pacifik Economic Cooperation (APEC), dan Asean-China Free
Trade Agreement (ACFTA) semakin mendorong pemerintah untuk lebih terbuka
atas masuknya produk-produk impor. Pemberlakuan AFTA untuk membentuk
suatu kawasan perdagangan bebas ASEAN pada tahun 2004 yang secara penuh
dilakukan pada tahun 2010 menyebabkan jumlah dan ragam buah yang masuk ke
Indonesia semakin banyak. Selain itu, perjanjian perdagangan bebas ACFTA pada
tahun 2002 menghasilkan keputusan penurunan tarif masuk berbagai komoditi.
Penurunan tarif masuk tersebut juga diberlakukan untuk komoditi buah-buahan
(Kementerian Perindustrian, 2012). Hal ini menyebabkan pasar buah-buahan di
Indonesia dari tahun ke tahunnya semakin dibanjiri oleh buah impor.
Banyaknya buah impor yang beredar di pasaran menjadi tantangan bagi
produsen buah lokal agar tetap dapat bertahan dan meningkatkan daya saingnya.
Pemerintah menerapkan kampanye cinta produk dalam negeri untuk
meningkatkan konsumsi produk dalam negeri. Hal tersebut dilakukan agar
konsumen Indonesia menpunyai jiwa patriotisme yang kuat untuk mengkonsumsi
produksi lokal. Ethnosentrisme konsumen merepresentasikan kepercayaan
konsumen mengenai kepatuhan, moralitas dalam membeli produk luar negeri.
Ethnosentrisme dapat diinterpretasikan bahwa membeli produk impor adalah
sesuatu yang salah, tidak patriotik dan mengganggu perekonomian (Shimp &
Sharma, 1987).
Penelitian dilakukan di Kota Bogor, Jawa Barat pada bulan Juli-September
2012. Penelitian menggunakan pendekatan survei dengan desain penelitian
deskriptif dan cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan melalui
pengisian kuesioner yang dibagikan kepada 150 orang responden yang ditentukan
dengan teknik nonprobability sampling technique menggunakan metode
convenience sampling.
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis aspek demografi. Hasil
analisis demografi menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah
perempuan dengan status pernikahan menikah yang berada pada kelompok usia
26-35 tahun dan memiliki pekerjaan sebagai ibu rumahtangga. Mayoritas tingkat
pendidikan terakhir responden adalah sarjana (S1) dengan pendapatan rumah
tangga antara Rp 2.000.0001-Rp 6.000.000 dan dengan jumlah anggota keluarga
sekitar 3-4 orang.
Analisis hubungan dengan menggunakan tabulasi silang bertujuan untuk
mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara ethnosentrisme dengan pendapatan
dan tingkat pendidikan. Hasil analisis hubungan menunjukkan bahwa ada
hubungan antara ethnosentrisme dengan pendapatan dan tingkat pendidikan.
Responden yang memiliki pendapatan yang tinggi dan responden yang memiliki
tingkat pendidikan yang tinggi cenderung memiliki ethnosentrisme rendah.
Identifikasi nilai ethnosentrisme yang dianut konsumen dilakukan dengan
menggunakan variabel Consumer Ethnocentrism Scale (CETSCALE). Tingkat
ethnosentrisme dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah (dengan nilai 34-47,67),
sedang (dengan nilai 47,68-61,35), dan tinggi (dengan nilai 61,36-75,02).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 49,33% memiliki tingkat
ethnosentrisme sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden cenderung
membeli dan mengkonsumsi buah lokal, namun responden juga bersikap terbuka
terhadap buah impor. Buah lokal masih menjadi pilihan konsumen karena
jenisnya yang cukup beragam, rasanya segar yang masih menjadi pilihan selera
konsumen, sedangkan buah impor dengan ketersediaannya yang melimpah depat
dengan mudah dijumpai serta penampilan warna dan bentuknya yang menarik.
Jika konsumen tidak menemukan buah lokal yang diinginkan, maka konsumen
tidak segan-segan untuk memilih buah impor. Responden yang memiliki tingkat
ethnosentrisme yang rendah berjumlah sebesar 30%. Responden yang memiliki
tingkat ethnosentrsime yang tinggi hanya berjumlah sebesar 20,67%.
Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menganalisis pola
hubungan antara ethnosentrisme, global openness, dan product judgment dengan
sikap konsumen serta ethnosentrisme, conspicousness consumption, dan pengaruh
luar dengan preferensi konsumen. Analisis SEM dilakukan menggunakan
LISREL.
Berdasarkan hasil analisis SEM didapat model penelitian yang fit dimana
selain uji dengan nilai chi-square yang kurang fit, indikator lainnya menunjukkan
hasil fit yang baik. Indikator tersebut antara lain seperti χ²/df yang memiliki rasio
1,86, nilai Goodness of fit (GFI) sebesar 0,98, nilai Adjusted Goodness of Fit
Index (AGFI) sebesar 0,97, nilai Root Mean Square Error of Approximation
(RMSEA) sebesar 0,076, dan nilai Comparative Fit Index (CFI) sebesar 1,00.
Berdasarkan hasil analisis SEM, hanya variabel ethnosentrisme yang
memiliki pengaruh terhadap sikap dan preferensi konsumen. Hal ini dapat terjadi
karena konsumen masih memiliki kepercayaan untuk membeli dan mengkonsumsi
buah lokal. Konsumen masih lebih memilih dan menyukai buah lokal dibanding
buah impor. Hal tersebut juga sesuai dengan analisis ethnosentrisme, dimana
sebesar 49,33% responden memiliki tingkat ethnosentrisme sedang dan 20,67%
responden memiliki tingkat ethnosentrisme tinggi. Tingkat ethnosentrisme sedang
dan tinggi disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang ada pada buah lokal,
seperti rasanya yang khas, yaitu tidak terlalu manis, tetapi juga tidak asam, namun
terasa segar. Selain itu juga kualitasnya yang tidak kalah dengan buah impor,
dimana buah impor mengandung banyak pengawet agar tahan lama. Kemudian
ada jenis buah lokal yang hanya ada di Indonesia, yang menjadi keunikan
tersendiri pada buah lokal. Hal-hal tersebut menjadikan buah lokal disukai oleh
konsumen. Selain kelebihan-kelebihan yang dimiliki buah impor, konsumen
menyukai dan memilih buah lokal juga disebabkan karena konsumen masih
memiliki sikap nasionalisme terhadap buah-buahan lokal, sehingga konsumen
juga memikirkan nasib petani buah dan juga perekonomian Indonesia.
Berdasarkan hasil analisis hubungan ditemukan ada hubungan antara
ethnosentrisme dengan perilaku pembelian. Responden yang memiliki nilai
ethnosentrisme yang tinggi lebih memilih untuk membeli dan mengkonsumsi
buah lokal. Hal ini diduga karena semakin tinggi nilai ethnosentrisme yang dianut
konsumen, maka akan lebih memilih untuk membeli dan mengkonsumsi buah lokal, karena konsumen semakin peduli terhadap ekonomi negara dan
kesejahteraan petani. Responden yang membeli buah lokal lebih banyak daripada
buah impor, yaitu sebesar 62%. Cukup banyak konsumen yang mengkonsumsi
buah lokal, karena jenis buah lokal yang lebih beragam daripada buah impor dan
selera konsumen yang lebih menyukai buah lokal daripada buah impor. Buah
lokal yang paling banyak dibeli adalah buah pepaya, jeruk, dan mangga. Buah
impor yang paling banyak dibeli dan dikonsumsi adalah kelengkeng, anggur, dan
apel.
Rekomendasi strategi dibuat berdasarkan temuan pada hasil penelitian.
Perlu dilakukan pembagian grade buah-buahan, dimana buah yang memiliki
kualitas yang bagus dan tampilan yang menarik dihargai mahal dan buah yamg
memiliki kualitas kurang bagus diberi harga yang sesuai. Setelah itu buah yang
memiliki kualitas yang bagus diberi kemasan yang menarik dan diberi merek agar
konsumen yang memiliki pendapatan tinggi mau membeli buah tersebut. Pada
analisis hubungan ethnosentrisme dengan pendidikan, kualitas buah lokal harus
ditingkatkan lagi dan dapat dilakukan pemberian label yang berisi manfaat dan
kandungan vitamin yang terkandung dalam buah yang jual dapat digunakan
sebagai daya tarik, informasi berisi manfaat buah tersebut. Agar tingkat
ethnosentrisme konsumen dapat ditingkatkan maka nilai ethnosentrisme harus
ditanamkan mulai dari diri sendiri dan dilakukan sejak kecil. Sosialisasi untuk
membiasakan masyarakat mengkonsumsi buah lokal setip hari, terutama bagi anak usia
dini. Selain itu, pemerintah dapat melakukan sosialisasi budaya konsumen cerdas.
Konsumen yang cerdas membeli produk impor dengan cara yang sangat selektif ketika
produk tersebut tidak ada substitusinya di Indonesia. Konsumen cerdas akan dengan sadar
membeli buah lokal, untuk dapat menjaga keberlanjutan produsen/petani dalam negeri,
meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran, mengurangi
ketergantungan impor dan menghargai hasil tanaman petani bangsa sendiri
Rasa nasionalisme terhadap buah-buahan lokal harus ditingkatkan.
Pemerintah lebih menggalakkan program cinta produk Indonesia melalui
kampanye untuk mempengaruhi mindset konsumen yang dilakukan melalui
berbagai media, seperti televisi, surat kabar dan majalah, serta internet. Salah satu
persoalan yang menyebabkan pamor buah lokal kalah bersaing dengan buah
impor ialah banyaknya pasar modern yang memajang buah impor digeraigerainya. Pemerintah dapat meningkatkan akses petani buah ke pasar-pasar
modern supaya bisa memotong alur yang panjang dalam distribusi buah. Hal ini
dilakukan agar harga buah yang sampai ke tangan konsumen dapat terjangkau dan
buah lokal yang lebih cepat sampai kepasar sehingga kesegaran buahnya sangat
terjaga. Kemudian memajukan keberadaan pasar-pasar tradisional agar
keberadaan buah lokal bisa semakin naik pamor dan digemari masyarakat. Karena
selama ini kesan becek dan kumuh itu melekat dengan pasar tradisional, sehingga
kesan tersebut bisa dihilangkan perlahan.
Collections
- MT - Business [4063]
