Analisis Logistik Ikan Laut Di D'Cost Seafood Restaurant Wilayah Jabodetabek dan Bandung
Abstract
D’Cost seafood restaurant merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
di bidang industri makanan laut. Keanekaragaman jenis makanan serta harga yang
terjangkau mampu menjadikan D’Cost sebagai restoran seafood terbaik dan
terpercaya. Selama tujuh tahun berdiri, D’Cost mampu memperluas usahanya
hingga lebih dari 50 outlet yang tersebar di lima kepulauan besar di Indonesia
yaitu Sumatra, Kalimatan, Sulawesi, Jawa dan Bali. Menu utama yang disajikan
menggunakan bahan baku yang terdiri dari kerang hijau, kerang bambu, cumi,
ikan gurami, udang, kepiting soka, ikan patin, ikan nila, kepiting jantan, dan
kepiting telor, ikan kakap, kerapu, kuwe, dan ikan bawal hitam. Ikan kakap,
kerapu, kuwe, dan ikan bawal hitam merupakan kelompok yang membutuhkan
penanganan khusus karena kuantitasnya pada tingkat pemasok sangat fluktuatif
dan kondisi kualitasnya yang mudah membusuk. Selain berpengaruh terhadap
permintaan konsumen, kondisi kuantitas dan kualitas keempat bahan baku
tersebut berpengaruh langsung terhadap optimasi truk yang digunakan.
Distribusi merupakan komponen pendukung dalam sistem logistik. Bagianbagian sistem distribusi mencangkup jarak, waktu, dan biaya selama transportasi.
Distribusi yang dilakukan oleh perusahaan dilakukan 2-3 kali setiap minggu.
Sistem distribusi merupakan komponen yang paling diutamakan dalam sistem
logistik karena biaya distribusi memiliki peran besar dalam peningkatan biaya
logistik. Sistem distribusi yang diterapkan perusahaan dibagi kedalam dua
kelompok, kelompok pertama akan didistribusikan pada hari Senin, Rabu dan
Jumat, sedangkan kelompok kedua didistribusikan pada hari Selasa, Kamis, dan
Sabtu. Pada penelitian, sistem distribusi yang dilakukan perusahaan dianalisis
dengan menggunakan MST (minimum spanning tree) menjadi tiga alternatif
distribusi. Perbedaan antara alternatif distribusi I, II, dan III adalah pada
pengelompokan outlet-outlet Jabodetabek dan Bandung. Alternatif distribusi I
merupakan perubahan rute distribusi setiap truk didalam jalur distribusi yang
diterapkan perusahaan. Alternatif distribusi II merupakan rute distribusi
berdasarkan metode yang dilakukan ditambah dengan wilayah-wlayah diluar 38
outlet Jabodetabek dan Bandung, sedangkan alternatif III metodenya sama dengan
alternatif distribusi II namun wilayah-wilayah diluar 38 outlet menggunakan truk
yang berbeda.
Berdasarkan pengamatan, distribusi yang baik adalah memperhitungkan
kapasitas truk, jumlah pengiriman, jarak dan waktu tempuh, serta biaya yang
digunakan. Biaya distribusi terhadap waktu yang ditempuh, alternatif dstribusi II
lebih efisien dibandingkan lainnya dengan selisih Rp 10.819.313 pada bulan
September 2013, dan Rp 10.415.450 pada bulan Oktober serta November 2013
terhadap biaya distribusi perusahaan. Total jarak dan waktu tempuh yang
digunakan perusahaan setiap minggunya adalah 3114,8 km dan 4381 menit atau
sebesar 73 jam 1 menit. Alternatif I membutuhkan jarak dan waktu tempuh untuk
mendistribusikan bahan baku 3034,6 km dan 4357 menit atau 72 jam 37 menit.
Alternatif distribusi II membutuhkan jarak dan waktu tempuh sebesar 2868,86 km dan 3808 menit atau 63 jam 28 menit, sedangkan untuk alternatif III
membutuhkan jarak dan waktu tempuh sebesar 2792 km dan 3993 menit atau 60
jam 33 menit. Berdasarkan pada total jarak dan waktu tempuh, biaya distribusi,
rata-rata kapasitas kosong truk, dan kebutuhan bahan baku untuk optimasi truk,
alternatif dua memiliki solusi yang terbaik dibandingkan dengan yang lainnya.
Dilihat dari lokasi Jabodetabek dan Bandung, jarak bukan merupakan solusi
terbaik karena sering timbul kemacetan atau adanya faktor infrastruktur jalan yang
buruk sehingga waktu merupakan solusi untuk menentukan biaya distribusi.
penggunaan alternatif distribusi II juga harus didukung oleh penambahan pemasok
sehingga truk dapat lebih optimum serta permintaan setiap outletnya dapat
dipenuhi dengan baik.
Collections
- MT - Business [4063]
