Analisis Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Ekspor Manufaktur Agroindustri Pertanian Indonesia
View/ Open
Date
2015Author
Putera, Firman Fajar Panca
Hakim, Dedi Budiman
Rachmina, Dwi
Metadata
Show full item recordAbstract
Kondisi lingkungan global yang telah berkembang sangat pesat dalam hal
perpindahan barang, jasa dan manusia serta dilatarbelakangi oleh teknologi menghasilkan
keuntungan bagi beberapa pihak. Keunggulan suatu negara dalam memproduksi barang
dan jasa dapat melahirkan perdagangan internasional dengan negara lain yang tidak
memiliki sumberdaya-sumberdaya tersebut. Adanya perdagangan internasional memiliki
kendala diantaranya adalah perbedaan nilai tukar. Perbedaan nilai tukar tersebut dapat
memberikan keuntungan maupun kerugian bagi para pelaku perdagangan internasional.
Sehingga kestabilan dalam nilai tukar merupakan sesuatu yang diharapkan.
Bagi perekonomian suatu negara kegiatan perdagangan internasional terbagi atas
ekspor dan impor. Ekspor menghasilkan devisa bagi negara pengekspor dan
menumbuhkan industri dalam negeri sedangkan impor menghasilkan belanja domestik
akan barang impor. Sehingga dalam penelitian ini ditekankan untuk melihat kegiatan
ekspor suatu negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2015 industri
manufaktur menyumbang 60 persen dari total ekspor Indonesia sehingga dalam penelitian
ini dilihat pengaruh nilai tukar terhadap ekspor industri manufaktur khususnya yang
berbahan baku pertanian di Indonesia serta faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS.
Pada penelitian ini ditetapkan hipotesis berdasarkan pada teori yang ada mengenai
nilai tukar dan ekspor. Dihipotesiskan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan
terapresiasi jika suku bunga Indonesia, GDP Indonesia, dan uang beredar AS meningkat
serta suku bunga AS, GDP AS, dan uang beredar Indonesia menurun. Sedangkan ekspor
manufaktur agroindustri pertanian Indonesia akan meningkat jika GDP negara tujuan dan
nilai tukar meningkat serta rasio harga menurun.
Hasil yang didapatkan berdasarkan penelitian ini mengenai nilai tukar adalah
dalam jangka pendek peningkatan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar
itu sendiri yang menyebabkan rupiah terdepresiasi. Pada jangka panjang variabel yang
berpengaruh signifikan yang membuat rupiah terdepresiasi adalah peningkatan suku
bunga AS. Sedangkan rupiah terapresiasi secara signifikan terhadap penurunan uang
beredar Indonesia, uang beredar AS, suku bunga Indonesia, GDP Indonesia, GDP AS.
Penelitian mengenai ekspor yang terbagi atas lima negara terbesar tujuan ekspor
Indonesia yaitu Republik Rakyat China, Jepang, India, Amerika Serikat dan Singapura.
Variable yang berpengaruh signifikan bagi ekspor ke China adalah rasio harga yang
memiliki hubungan negatif bagi ekspor Indonesia dan nilai tukar rupiah yang memiliki
hubungan positif bagi ekspor Indonesia. Ekspor ke India dipengaruhi signifikan oleh nilai
tukar rupiah yang berpengaruh positif bagi ekspor Indonesia dan rasio harga yang
berpengaruh signifikan secara negatif bagi ekspor Indonesia. Ekspor ke Jepang
dipengaruhi signifikan oleh nilai tukar rupiah secara positif dan rasio harga yang
berpengaruh signifikan secara negatif. Variabel yang berpengaruh signifikan bagi ekspor
ke AS adalah rasio harga yang memiliki hubungan negatif. Dan variable yang berpengaruh signifikan bagi ekspor ke Singapura adalah rasio harga yang memiliki
hubungan negatif.
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan implikasi manajerial
mengenai nilai tukar agar otoritas moneter dan pemerintah dapat menciptakan kestabilan
nilai tukar agar para pelaku ekspor dapat menentukan biaya produksi dan memprediksi
penerimaan mereka dan terhindar dari kerugian nilai tukar. Simpanan sementara dalam
bentuk (transitory account) dolar AS dan transaksi bisnis dengan mitra dagangnya tanpa
menggunakan dolar AS merupakan beberapa cara dalam melindungi diri dari
ketidakstabilan nilai tukar.
Rasio harga memiliki hubungan negatif dengan ekspor Indonesia maka para
eksportir dapat memanfaatkan penurunan rasio harga ini dengan meningkatkan produksi
dan kualitas agar dapat bersaing dengan produk local China. Depresiasi nilai tukar dapat
dimanfaatkan untuk peningkatan ekspor ke China. Para eksportir dapat memanfaatkan
depresiasi rupiah dengan meningkatkan ekspor Indonesia di pasar India. Penurunan rasio
harga dapat meningkatan ekspor Indonesia ke India. India membutuhkan barang-barang
manufaktur berbahan baku pertanian yang dikarenakan industri India yang menunjukkan
turunnya nilai tambah industri pertanian India. Depresiasi nilai tukar akan membuat nilai
ekspor Indonesia ke Jepang meningkat. Rasio harga yang menurun dapat dimanfaatkan
untuk bersaing dengan produk lain selain produk ekspor Indonesia di pasar Jepang.
Mengingat Jepang sangat memperhatikan kualitas maka dengan semakin kompetitifnya
produk ekspor Indonesia di pasar Jepang dapat ditingkatkan kualitas produk ekspor
Indoensia dengan pengalokasian sumberdaya produksi secara tepat. Penurunan rasio
harga dapat meningkat ekspor Indonesia ke Singapura. Kerja sama sesama anggota
ASEAN dengan Singapura ditambah dengan penurunan rasio harga maka akan membuat
ekspor Indonesia semakin meningkat. Ekspor ke AS dapat ditingkatkan ketika terjadi
penurunan harga. Peningkatan kualitas produk dapat ditingkatkan. Hal ini agar dapat
bersaing dengan produk lain mengingat konsumen AS sangat memperhatikan kualitas
produk.
Collections
- MT - Business [4062]
