Analisis Kinerja dan Persistensi Reksa Dana Saham Di Indonesia Periode 2006-2013
View/ Open
Date
2014Author
Sutomo, Slamet Hariadi Bangun
Siregar, Hermanto
Sinaga, Bonar M.
Metadata
Show full item recordAbstract
Dengan semakin pesatnya perkembangan industri reksa dana dan semakin
banyaknya produk reksa dana yang ditawarkan oleh agen penjual efek reksa dana,
para investor memiliki lebih banyak altematif investasi, namun demikian investor
dituntut untuk lebih teliti dalam berivestasi di reksa dana. Investor perlu memiliki
informasi yang memadai mengenai produk reksa dana yang akan dipilihnya
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi mengingat
investasi di pasar modal melalui reksa dana memiliki risiko investasi.
Komposisi NAB reksa dana posisi 31 Oktober 2013 didominasi oleh jenis
reksa dana saham sebesar Rp. 82.5 Triliun, disusul oleh reksa dana terproteksi
dengan NAB Rp. 38 Triliun dan reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp. 27
Triliun. Dari tahun ke tahun nilai NAB cenderung menunjukkan peningkatan,
kecuali pada tahun 2008 dimana terjadi krisis ekonomi global yang berdampak
kepada pasar keuangan di negara Indonesia.
Pertumbuhan IHSG yang tinggi selama periode 2006-2013 tidak
berlangsung dengan mulus. Pada tahun 2008 krisis ekonomi global menyebabkan
pasar modal Indonesia texpuruk cukup dalam dan berdampak pada kinerja reksa
dana saham, kinerja pasar dan kinerja sektoral.
Fluktuasi di pasar modal tidak hanya terjadi pada periode krisis. Kinerja
sebagian besar reksa dana saham sejak awal tahun 2013 hingga 30 Agustus 2013
masih lebih rendah dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara
};ecrr /a da/e rata-rata imbal hasil reksa dana saham mencatat angka -4.11 persen
sementara IHSG mencatat kinerja -2.82 persen. Di bulan November 2013 di
hampir semua kelas Asset Under Management, jumlah reksa dana yang memiliki
kinerja dibawah bc7?cfomczrA /##c7eJper/ormecD sebanyak 92 reksa dana saham ,
jauh lebih banyak dibanding jumlah reksa dana yang memiliki kinerja
o#/per/armed yaitu 19 reksa dana saham. Ini berarti di bulan November 2013
hanya terdapat 17% reksa dana saham yang memiliki kinerja o#/per/ormec7,
sedangkan 83 °/o sisanya memiliki kinerja yang w#c7erpcr/armed.
Hal tersebut menjadi latar belakang masalah dalam penelitian ini, dengan
demikian tujuan penelitian ini adalah 1) mengukur dan mengevaluasi kinerja
reksa dana saham di Indonesia periode tahun 2006 -2013; 2) mengevaluasi
dampak krisis ekonomi global 2008 terhadap kinerja reksa dana saham; 3)
mengukur dan mengevaluasi tingkat persistensi kinerja reksa dana saham di
Indonesia periode tahun 2006 -2013. Metode penelitian yang digunakan untuk
menjawab tujuan penelitian adalah 1 ) Sfocrrpe A4lcas"re, rre};#or A4lec7swre, /e#se#
"caswre, JJ7/orma/j.o# jta/I.a dan Sor/J.#o jzcr/J.a; 2)analisis statistik dengan Main
Whitney Test; 3) analisis persistensi kinerja menggunakan metode #o77
pcrrome/7'i.c /es/ dengan tabel kontingensi.
Hasil penelitian menunjukkan pengukuran kinerja reksa dana saham dari
tahun 2006-2013 menggunakan metode Sharpe, Treynor, Jensen, Information
Ratio dan Sortino diperoleh hasil tidak ada reksa dana saham yang mampu
bertahan di posisi 5 (lima) tertinggi secara konsisten dan terus menerus setiap tahunnya. Hal ini mencerminkan tidak mudah bagi suatu reksa dana saham untuk
mampu mempertahankan konsistensi kinerjanya. Reksa dana Panin Dana
Maksima mampu menjadi reksa dana dengan kinerja tertinggi berdasarkan ukuran
Sharpe, Treynor, Jensen, Information Ratio dan Sortino pada keseluruhan periode
penelitian.
Krisis ekonomi tahun 2008 juga menyebabkan semua sektor di Bursa Efek
Indonesia mengalami penurunan kinerja dan mencatat pertumbuhan negatif
dimana sektor pertambangan dan agribisnis menjadi sektor yang paling terkena
dampak krisis sedangkan sektor co#s"mer gooc7s adalah sektor yang terkena
dampak paling kecil. Dari 10 sektor di Bursa Efek Indonesia, pada periode krisis
2008 terdapat 5 (lima) sektor yang memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan
kinerja pasar yaitu sektor co77scjmcr gooc7s, ¢#a#ce, manufaktur, industri dasar
dan infrastruktur. Reksa dana yang memiliki kinerja lebih baik dibanding kinerja
pasar pada periode krisis 2008 adalah Panin Dana Maksima, Schroder Dana
Istimewa, Batavia Dana Saham, Schroder Dana Prestasi, BNP Paribas Pesona,
Rencana Cerdas, Dana Ekuitas Andalan, dan Manulife Dana Saham.
Rata-rata reksa dana saham tidak memiliki kinerja yang berbeda signifikan antara
periode pra krisis dan pasca krisis, kecuali Panin Dana Maksima yang memiliki
kinerja pada periode pasca krisis lebih baik secara signifikan dibanding periode
pra krisis. Rata-rata kinerja sektoral tidak berbeda secara signifikan antara
periode pra krisis dan pasca krisis, kecuali sektor co#s#mer gooc7£ yang memiliki
kinerja pada periode pasca krisis yang lebih baik secara signifikan dibanding
periode pra krisis.
Pengukuran persistensi kinerja reksa dana berdasarkan rarw 7ie/wr# maupun
Sfoarpe lndeks menunjukkan dalam kurun waktu 2006-2013 terjadi persistensi
positif pada periode 2006-2007 dan periode 2008-2012 sedangkan persistensi
negatif terjadi pada periode 2007-2008 dan periode 2012-2013. Reksadana yang
termasuk kedalam kelompok Above Normal berbeda-beda/ tidak selalu sama
setiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan kinerja historis di masa lampau tidak
dapat digunakan sebagai acuan yang mencerminkan kinerja di masa yang akan
datang.
Strategi investasi yang dapat dilakukan oleh investor dalam berinvestasi di
pasar modal melalui reksa dana adalah strategi beli dan simpan (b#); cr#d fro/dy
serta strategi c7o//crr cos/ averc7gi.77g. Mengingat tidak ada reksa dana yang secara
konsisten mampu menampilkan kinerja yang superior secara terus menerus , maka
investor diharapkan tetap melakukan rmo#j./orj#g dan revj.ew terhadap kinerja
portofolionya secara berkala.
Collections
- MT - Business [4062]
