Strategi Peningkatan Daya Saing Bisnis Green Property (Studi Kasus: Pt.Ciputra Indah Di Kotamadya Pekanbaru)
View/ Open
Date
2014Author
Ariendi, Geidy Tiara
Daryanto, Arief
Sanim, Bunasor
Metadata
Show full item recordAbstract
Green property merupakan salah satu bentuk penerapan dari green
economy, dimana green property berkomitmen untuk melakukan pembangunan
yang ramah lingkungan dengan menerapkan terminologi Triple Bottom Line
(profit, people, dan planet). Pemanasan global pada awalnya dipercaya sebagai
akibat dari efek rumah kaca yang ditimbulkan dari emisi karbon limbah
pengolahan pabrik di negara-negara maju. Beberapa hasil penelitian terbaru
menunjukkan bahwa sektor bangunan merupakan sektor pengguna energi terbesar
(lebih dari 30%) di Dunia (Nelson 2008). Para peneliti pun percaya bahwa dengan
melakukan efisiensi pada sektor bangunan maka dapat menurunkan kebutuhan
energi sebesar 85% pada tahun 2030. Ciputra Group sebagai salah satu
pengembang premium terbesar di Indonesia juga telah menerapkan pembangunan
ramah lingkungan. Salah satu anak perusahaan Ciputra Group, yaitu PT Ciputra
Indah membangun dua proyek perumahan di Pekanbaru dengan mengusung
konsep green. Jika dilihat perkembangan bisnis green property dan kondisi
persaingan yang ada saat ini dimana perusahaan sejenis seperti Agung Podomoro
Group, Agung Sedayu Group, Sumarecon, dan Trans Corp akan segera membuka
proyek di Pekanbaru, maka perlu dilakukan suatu kajian khusus tentang strategi
yang dapat digunakan Ciputra Group untuk meningkatkan daya saing perusahaan
guna memberikan kemampuan jangka panjang bagi perusahaan dalam
menghadapi persaingan bisnis green property di Pekanbaru.
Adapun secara khusus tujuan dilakukannya penelitian ini ialah untuk: (1)
Menganalisis kondisi persaingan di lingkungan industri green property yang
dihadapi oleh PT Ciputra Indah di Pekanbaru, (2) Menganalisis faktor-faktor
eksternal dan internal yang mempengaruhi PT Ciputra Indah dalam
pengembangan usahanya serta menghadapi persaingan industri green property di
Kota Pekanbaru, dan (3) Merumuskan strategi alternatif utama yang sebaiknya
diterapkan PT Ciputra Indah dalam pengembangan usahanya serta meningkatkan
daya saing pada industri green property di Kota Pekanbaru. Penelitian dilakukan
di Perumahan CitraLand dan CitraGarden yang merupakan proyek perumahan PT
Ciputra Indah di Kotamadya Pekanbaru pada bulan April-Mei 2014. Penelitian
dilakukan menggunakan metode deskriptif (descriptive method) dalam bentuk
studi kasus. Jenis data yang dibutuhkan ialah data primer dan data sekunder. Data
primer dan sekunder diperoleh melalui wawancara, kuisioner, observasi langsung,
dan studi pustaka. Adapun pengambilan informan dan responden dilakukan
dengan menggunakan teknik pengambilan contoh tanpa peluang (non probability
sampling) dengan penentuan secara sengaja (purposive sampling) melalui
pendekatan expertise judgement. Pengolahan data pada penelitian ini terbagi
menjadi tiga tahap, yaitu tahap input, tahap pencocokan, dan tahap keputusan.
Tahap input dilakukan dengan analisis dekriptif dan analisis persaingan industri.
Tahap pencocokan dilakukan dengan matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, dan matriks SWOT. Kemudian tahap keputusan dilakukan dengan menggunakan
matriks QSPM.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa kondisi
persaingan di lingkungan industri green property Pekanbaru cukup kondusif
dimana tidak terdapat faktor hambatan yang memperoleh skor tinggi. Adapun
variabel yang perlu diperhatikan dalam bisnis green property ini jika dilihat
secara berurutan ialah: (1) Kekuatan tawar menawar pemasok. Variabel ini
memperoleh skor 2,17 dan masuk kedalam kategori hambatan sedang, (2)
Ancaman persaingan antar perusahaan yang ada. Variabel ini memperoleh skor
2,13 dan masuk kedalam kategori hambatan sedang, (3) Ancaman produk
subtitusi. Variabel ini memperoleh skor 2,04 dan masuk kedalam kategori
hambatan sedang, (4) Kekuatan tawar menawar pembeli. Variabel ini memperoleh
skor 2,03 dan masuk kedalam kategori hambatan sedang, dan (5) Ancaman
pendatang baru. Variabel ini memperoleh skor 1,77 dan masuk kedalam kategori
hambatan lemah. Kekuatan tawar menawar pemasok disini menjadi hambatan
utama karena jumlah pemasok barang yang sesuai dengan spesifikasi masih
sedikit yang berada di Pekanbaru dan barang subtitusinya pun masih sedikit.
Peneliti juga melakukan analisis terhadap faktor-faktor eksternal dan
internal yang mempengaruhi Perusahaan dalam pengembangan usahanya serta
menghadapi persaingan industri green property di Pekanbaru. Analisis faktor
eksternal dilakukan dengan mengacu kepada: (1) Aspek politik, pemerintahan,
dan hukum, (2) Aspek ekonomi, (3) Aspek sosial, budaya, demografi, dan
lingkungan, serta (4) Aspek teknologi. Diperoleh hasil bahwa aspek politik,
pemerintahan, dan hukum merupakan aspek yang memberi peluang terbaik bagi
Perusahaan guna mengembangkan usahanya. Hal ini disebabkan karena situasi
politik dan hukum di Pekanbaru sangat kondusif guna mengembangkan bisnis
green property khususnya. Peluang kedua ialah pertumbuhan ekonomi Riau,
khususnya Pekanbaru yang sangat tinggi. Hal ini tentu sangat berpengaruh
terhadap daya beli masyarakat terhadap produk yang ditawarkan. Selain memberi
peluang tertinggi, aspek politik, pemerintahan, dan hukum juga menjadi ancaman
tertinggi karena adanya Perda yang batasi luas kepemilikan lahan. Aspek lain
yang menjadi ancaman ialah aspek sosial, budaya, demografi, dan lingkungan.
Dimana dengan banyaknya komunitas yang memiliki latar belakang yang sama
membuat berbagai isu sangat cepat menyebar, terutama isu negatif bila konsumen
kurang puas akan kinerja Perusahaan.
Adapun analisis faktor internal dilakukan dengan mengacu kepada empat
aspek, yaitu : (1) Aspek keuangan, (2) Aspek manajemen, (3) Aspek sumber daya
manusia, dan (4) Aspek teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek
sumber daya manusia dan teknologi merupakan kekuatan utama dari Perusahaan.
Aspek lain yang menjadi kekuatan ialah aspek keuangan, dimana Perusahaan
tidak memiliki hutang dan memiliki modal yang didukung oleh Grup. Selain
menjadi kekuatan utama, aspek teknologi juga merupakan aspek yang menjadi
kelemahan utama bagi Perusahaan karena masih terbatasnya jaringan listrik dan
ketidakstabilan koneksi internet di Pekanbaru sehingga mengganggu sistem
informasi manajemen yang diterapkan Perusahaan.
Setelah dilakukan berbagai analisis, diperoleh beberapa strategi alternatif
yang dapat diterapkan oleh Perusahaan guna meningkatkan daya saingnya, yaitu:
(1) Melakukan diferensiasi, (2) Membuka proyek baru, (3) Melakukan promosi kreatif melalui edu-promotion, dan (4) Meningkatkan kualitas hubungan dengan
konsumen dan calon konsumen. Keempat alternatif strategi tersebut kemudian
diolah menggunakan QSPM guna memilih strategi apa yang paling optimal untuk
diterapkan oleh Perusahaan. Hasil QSPM menunjukkan bahwa membuka proyek
baru merupakan alternatif utama yang dapat diterapkan perusahaan. Strategi ini
diharapkan dapat meningkatkan market share Perusahaan sehingga meningkatkan
daya saing Perusahaan pada industri green property di Pekanbaru.
Collections
- MT - Business [4063]
