Strategi Pengembangan Klaster Industri Rumput Laut Yang Berkelanjutan Di Kawasan Minapolitan Kabupaten Sumba Timur Waingapu Ntt
View/ Open
Date
2015Author
Farida, Fitriah Isky
Syarief, Rizal
Djohar, Setiadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Rumput laut merupakan salah satu produk unggulan pemerintah dalam
mencapai visi pembangunan kelautan dan perikanan yaitu menjadikan Indonesia
sebagai produsen perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015.Volume produksi
rumput laut Indonesia pada tahun 2013 mencapai 6.514.854 ton/tahun (KKP
2013).Peningkatan produksi rumput laut nasional diikuti pula dengan peningkatan
volume dan nilai ekspor rumput laut.Masih tingginya volume ekspor rumput laut
kering Indonesia dibandingkan dengan produk intermediet-nya menyebabkan nilai
tambah yang diperoleh masih relatif rendah.Oleh karena itu orientasi pemanfaatan
rumput laut sebagai komoditas ekspor dalam bentuk raw matrial diarahkan
menjadi produk intermediet yang memiliki nilai tambah tinggi.Dalam
pelaksanaannya, perubahan orientasi ini mengalami berbagai macam kendala.
Program minapolitan merupakan salah satu langkah strategis yang diambil
pemerintah untuk mendukung tercapainya visi dan misi kementrian kelautan serta
mengatasi permasalahan pengembangan industri rumput laut di Indonesia.Sistem
klaster merupakan pendekatan yang digunakan untuk mendukung program
minapolitan yang dicanangkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan
(KKP).Pendekatan sistem klaster dilakukan untuk mengembangkan industri
rumput laut di Indonesia, sehingga menjadi usaha yang lebih terintegrasi dan
memiliki daya saing tinggi mulai dari hulu hingga ke hilir.
Penetapan Kabupaten Sumba Timur sebagai salah satu daerah kawasan
minapolitan rumput laut dengan sistem klaster diharapkan dapat mendukung
tercapainya program pembangunan perikanan dan kelautan dan secara umum
dapat mendukung peningkatan produksi secara nasional.Penerapannya sistem
klaster pada pengelolaan kawasan minapolitanmasih mengalami berbagai macam
kendala dan permasalahan, salah satu diantaranya adalah adanya permasalahan
ketidakstabilan produksi hasil budidaya pada zona I baik secara kuantitas maupun
kualitas.Adanya ketidakstabilan kuantitas maupun kualitas dari hasil budidaya ini,
menyebabkan kegiatan pada zona II (kegiatan pengumpulan dan distribusi) dan
zona III (kegiatan pengolahan) juga mengalami hamabatan dan permasalahan.
Ketidakstabilan kuantitas dan dan kualitas dari hasil budidaya menyebabkan zona
II belum dapat melaksanakan kegiatan pengumpulan dan distribusi bahan baku
secara tepat jumlah, kualitas dan waktu sesuai dengan spesifikasi kualitas bahan
baku pabrik pengolahan. Pabrik pengolahan pada zona III juga mengalami
permasalahan pada ketersediaan bahan baku untuk kegiatan produksi.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penetapan alternatif strategi yang
dapat diterapkan untuk mengembangkan klaster industri rumput laut yang
berkelanjutan di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur.
Berdasarkan uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah
mengidentifikasi kondisi aktual dari pengembangan industri rumput laut dengan
sistem klaster di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur, menentukan
faktor-faktor yang berpengaruh pada pengembangan industri rumput laut dengan sistem klaster yang berkelanjutan di Kabupaten Sumba Timur dan
merekomendasikan prioritas strategi yang tepat untuk diterapkan guna
mendukung pengembangan klaster industri rumput laut yang berkelanjutan di
kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini menggunakan
model klaster dengan sistem zonasi yang dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan
danPerikanan untuk menganalisis kondisi aktual, analisis kesenjangan dan
Analytical Hierarchy Process (AHP).
Berdasarkan hasil analisis kondisi aktual dan analisis kesenjangan
diperoleh data bahwa zona I masih memiliki kinerja kurang baik pada kondisi
aktual dengan nilai kinerja (2,4) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Nilai kinerja ini
merupakan rata-rata hasil penjumlahan tingkat kinerja dari 9 indikator pendukung
pada zona I. Zona II juga masih memiliki tingkat kinerja yang kurang baik pada
kondisi aktual dengan nilai kinerja (2,6) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Nilai
kinerja ini merupakan rata-rata hasil penjumlahan tingkat kinerja dari 4 indikator
pendukung pada zona II. Zona III memiliki tingkat kinerja yang cukup baik pada
kondisi aktual dengan nilai kinerja (2,7) dari nilai 5 untuk kondisi ideal. Nilai
kinerja ini merupakan rata-rata hasil penjumlahan tingkat kinerja dari 4 indikator
pendukung pada zona III. Faktor prioritas utama dalam pencapaian sasaran adalah
zona I (kegiatan budidaya) dengan pertimbangan hasil analisis kondisi aktual dan
analisis kesenjangan yang menunjukkan bahwa zona I merupakan zona hulu yang
memiliki peran penting dalam penyediaan bahan baku bagi kegiatan yang berjalan
pada zona II dan zona III. Alternatif strategi yang tepat diterapkan dan
diprioritaskan dalam pengembangan klaster industri rumput laut yang
berkelanjutan di kawasan minapolitan Kabupaten Sumba Timur adalah pada zona
I yaitu peningkatan kapasitas produksi, pada zona II yaitu membangun hubungan
kemitraan yang terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik dan pada zona III yaitu
peningkatan kapasitas produksi.
Implikasi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah adalah pada zona I
dapat dilakukan dengan penerapan intesifikasi pertanian dan pengembangan dan
peningkatan kualitas dan kinerja SDM, pada zona II dengan membangun sistem
kemitraan yang terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dan pada zona III
dengan peningkatan kapasitas produksi pada pabrik pengolahan dan membangun
kerjasama dengan produsen-produsen bahan baku di luar kabupaten Sumba Timur
dan investor.
Collections
- MT - Business [4063]
