Transmisi Volatilitas Saham Utama Dunia Terhadap Ihsg dan Indeks Sektoral Indonesia
View/ Open
Date
2014Author
Ajireswara, Anindito
Achsani, Noer Azam
Maulana, Tb.Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Pasar saham Indonesia merupakan salah satu pasar modal yang memiliki
tingkat pertumbuhan yang paling baik di dunia. Pada akhir tahun 2012 yang lalu,
pasar saham Indonesia ditutup pada level 4.281,86 poin, menguat sebesar 12,03%
dibandingkan penutupan pada tahun sebelumnya, serta menduduki peringkat ke 8
dalam kategori indeks saham dengan kinerja pertumbuhan tertinggi di dunia.
Kinerja baik ini turut menjadi salah satu faktor penarik bagi investor asing untuk
menginvestasikan dana mereka pada pasar modal Indonesia. Dalam era globalisasi
sekarang ini, transaksi portofolio lintas negara menjadi kian mudah akibat sebuah
dunia yang semakin tanpa batas. Pada pasar modal Indonesia, salah satu penanda
dari efek globalisasi tersebut dapat dilihat dari rasio kepemilikan modal dalam
saham yang diperdagangkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) di mana sekitar
65% dari nilai total aset dimiliki oleh investor asing, sementara investor lokal
hanya memiliki sekitar 35% saja. Akan tetapi, globalisasi juga berdampak pada
semakin mudahnya volatilitas pada pasar tertentu menular pada pasar-pasar
lainnya, yang dikenal dengan istilah transmisi volatilitas, sehingga untuk pasarpasar yang saling terkait tersebut, diversifikasi portfolio lintas negara sebagai
upaya meminimalisir resiko investasi menjadi kurang efektif. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji secara empiris keberadaan serta dampak transmisi
volatilitas tersebut pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta indeksindeks sektoral pada BEI. Untuk itu, penelitian ini dibagi menjadi dua bagian.
Bagian pertama menganalisis keberadaan volatilitas return pada indeks-indeks
komposit beberapa pasar saham utama dunia seperti indeks Amerika Serikat,
Inggris, Singapura, Hong Kong, dan Jepang serta pada IHSG dan indeks-indeks
sektoral BEI. Selanjutnya, bagian kedua mengamati kecepatan respon dan
dekomposisi keragaman transmisi volatilitas return dari indeks-indeks pasar asing
tersebut terhadap IHSG serta sektor-sektor yang tergabung dalam indeks sektoral
BEI.
Bagian pertama penelitian ini menemukan bahwa untuk kategori indeks
komposit pasar saham, terdapat keberadaan volatilitas return asimetris yang
negatif dan signifikan pada semua indeks pasar negara-negara yang diamati, di
mana indeks saham Hong Kong, Jepang, dan Indonesia merupakan indeks dengan
volatilitas return yang relatif tinggi, sementara indeks Inggris, Amerika, dan
Singapura merupakan indeks dengan volatilitas return yang relatif rendah. Untuk
indeks-indeks sektoral BEI, ditemukan keberadaan volatilitas return yang
asimetris negatif pada sektor manufaktur, pertambangan, perdagangan dan jasa,
serta industri dasar dan kimia serta volatilitas return yang asimetris positif pada
sektor infrastruktur, keuangan, serta properti, sementara sektor aneka industri,
pertanian, serta barang konsumsi tidak menunjukkan keberadaan volatilitas
asimetris yang signifikan. Sektor pertanian, pertambangan, aneka industri, dan
infrastruktur merupakan kelompok sektor saham yang relatif menunjukkan pola
volatilitas return yang tinggi, kelompok sektor properti, keuangan, dan industri
dasar & kimia merupakan sektor-sektor dengan volatilitas return yang relatif moderat, sementara sektor manufaktur, barang konsumsi, dan perdagangan
merupakan kelompok sektor dengan tingkat volatilitas yang relatif rendah. Pada
bagian kedua, analisis impulse response menemukan bahwa volatilitas return
indeks pasar saham Amerika Serikat memiliki pengaruh yang paling lama dengan
tingkat respon yang cukup tinggi terhadap volatilitas return pada IHSG serta
indeks-indeks sektoral BEI. Pengaruh kedua terbesar diberikan oleh pasar saham
Singapura. Sementara itu, analisis variance decomposition menemukan bahwa
dekomposisi keragaman dalam volatilitas return saham-saham dalam indeks
sektoral BEI secara dominan dipengaruhi oleh volatilitas return saham itu sendiri
serta indeks pasar Indonesia. Sektor pertanian, pertambangan, aneka industri, serta
properti mendapat pengaruh terbesar dari volatilitas return indeks itu sendiri,
diikuti oleh pengaruh dari indeks pasar Indonesia, sementara sektor industri dasar
dan kimia, barang konsumsi, keuangan, infrastruktur, manufaktur, serta
perdagangan dan jasa secara dominan dipengaruhi oleh indeks pasar Indonesia,
diikuti oleh indeks sektor itu sendiri. Untuk pengaruh yang berasal dari indeks
saham luar negeri, indeks saham Singapura merupakan indeks yang mempunyai
pengaruh terbesar terhadap dekomposisi keragaman pada kesepuluh indeks
sektoral BEI, sementara indeks Jepang merupakan indeks yang mempunyai
pengaruh paling kecil.
Hasil analisis terhadap tingkat volatilitas serta expected return dari indeksindeks sektoral yang diamati menunjukkan bahwa sektor infrastruktur, aneka
industri, pertambangan, dan pertanian tergolong dalam kelompok high risk-high
return, sehingga dapat menjadi alternatif untuk investor berjenis risk lover,
sementara sektor manufaktur, industri dasar dan kimia, perdagangan dan jasa,
barang konsumsi, serta properti tergolong dalam kelompok low risk-low return
sehingga dapat menjadi alternatif bagi para risk neutral atau averse. Sektor
keuangan menunjukkan perilaku yang relatif tidak konvensional dengan bentuk
hubungan low risk-high return. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa secara
umum, investor perlu mewaspadai guncangan-guncangan yang berasal dari pasar
Amerika Serikat serta Singapura.
Collections
- MT - Business [4063]
