Optimisasi Alokasi Pengadaan Susu Murni (Studi Kasus Di Pt.Frisian Flag Indonesia)
View/ Open
Date
2015Author
Laksono, Wibowo Setio
Rifin, Amzul
Saptono, Imam Teguh
Metadata
Show full item recordAbstract
Susu murni merupakan bahan baku dalam Industri Pengolahan Susu (IPS).
Susu murni yang ada di Indonesia berasal dari jenis sapi perah Frisian Holstein
dan Brown Swiss. Namun saat ini populasi sapi perah tersebut sudah menurun
jumlahnya. Setiap tahun jumlah sapi perah mengalami penurunan sebesar 2,11%,
hal ini memberikan dampak terkait dengan jumlah supply susu murni yang dapat
dihasilkan. Selain permasalahan jumlah susu murni yang dihasilkan, kualitas susu
murni menjadi permasalahan berikutnya. Kualitas susu murni sangat bervariasi di
setiap daerah dan supplier. Tidak semua supplier memiliki kualitas yang sama
baiknya. Hanya beberapa supplier yang memiliki kualitas susu murni yang bagus.
Selain itu jarak supplier ke setiap IPS berbeda-beda, hal inilah yang menjadi salah
satu faktor penentu biaya pengadaan susu murni. Permasalahan ini menyebabkan
kelangkaan terhadap susu murni. Hal ini yang dihadapi oleh IPS di Indonesia saat
ini.
PT. Frisian Flag Indonesia (FFI) merupakan salah satu IPS yang ada di
Indonesia. Permintaan susu murni FFI selalu meningkat setiap tahunnya.
Perbaikan kesejahteraan dan pendidikan menyebabkan perubahan pola pikir
masyarakat. Susu tidak hanya dijadikan bahan makanan pelengkap namun
dijadikan kebutuhan pokok. Permintaan yang tinggi ini tidak dapat didukung oleh
susu murni sebagai bahan baku proses. Kelangkaan susu murni memaksa FFI
untuk melakukan optimisasi pengadaan susu murni terhadap supplier yang ada
saat ini. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelangkaan susu murni yang akan
terjadi dan menjaga kelangsungan bisnis perusahaan.
FFI memiliki 18 supplier utama susu murni, yang tersebar di daerah DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Supplier tersebut terdiri dari
peternak dan koperasi. Supplier yang ada selalu mengirimkan susu murni setiap
bulannya ke FFI dengan jumlah yang berbeda dan harga pengadaan susu murni
yang berbeda-beda pula. Proses optimisasi perlu dilakukan terhadap 18 supplier
tersebut. Hal ini bertujuan agar FFI dapat memilih dan memiliki supplier yang
dapat diandalkan. Dimana nantinya supply susu murni dapat berjalan lancar dan
biaya pengadaan susu murni dapat dioptimalkan.
Linear programming merupakan salah satu tool/alat yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan dengan sumber daya terbatas. Hasil analisa dengan
menggunakan software LINDO terhadap supplier susu murni yang ada di FFI
menunjukkan bahwa, dari total 18 supplier yang dimiliki tidak semua supplier
direkomendasikan untuk dipilih. Hanya sebanyak 14 supplier yang mendapatkan
kriteria baik dan layak untuk dipilih dan 4 supplier tidak direkomendasikan.
Supplier yang tidak direkomendasikan tersebut meliputi koperasi CV Sumber
Alam Jaya, KCP Sinar Mulya, CV Kemayoran Machinery dan Erif Farm. Biaya
pengadaan susu murni yang digunakan sebesar Rp 30,6 Milyar dari total anggaran
sebesar Rp 31 Milyar per bulan
Analisa sensitifitas dilakukan untuk mengetahui jumlah perubahan yang
masih dapat ditolerir, baik jumlah supply, kebutuhan dan biaya pengadaan susu
murni. Hasil analisa menunjukkan bahwa jika biaya pengadaan susu murni
dinaikkan lebih dari Rp30 per liter, kondisi optimal akan berubah. Dengan kata
lain biaya pengadaan susu murni tidak boleh lebih dari Rp4.464 per liter jika
kondisi optimal tetap ingin tercapai. Selain itu supply susu murni dari setiap
supplier boleh ditingkatkan hingga 185.035 liter per bulan. Tingkat kebutuhan
susu murni yang diperbolehkan sebesar 2.727.881 – 2.945.580 liter per bulan.
Perbandingan jumlah supply, kebutuhan dan biaya pengadaan susu murni ini
ditentukan untuk mendapatkan kondisi optimal.
Collections
- MT - Business [4063]
