Analisis Sensitivitas Npl Sektoral Perbankan Indonesia Terhadap Perubahan Faktor Makroekonomi
View/ Open
Date
2014Author
Abadi, Setiawan
Achsani, Noer Azam
Rachmina, Dwi
Metadata
Show full item recordAbstract
Perbankan di Indonesia memiliki peranan penting terhadap pilar
pertumbuhan ekonomi nasional karena perbankan memiliki fungsi intermediasi.
Penopang pertumbuhan ekonomi tersebut berasal dari pemberian kredit melalui
sepuluh sektor ekonomi berdasarkan pengelompokan Bank Indonesia. Risiko
utama yang dihadapi perbankan dari pemberian kredit yang merupakan aset utama
perbankan adalah risiko kredit.
Risiko kredit tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL). Semakin
tinggi risiko kredit yang dihadapi perbankan, maka semakin tinggi rasio NPL
perbankan. Perubahan NPL dapat disebabkan oleh faktor internal seperti
kebijakan, SDM, dan lainnya ataupun faktor eksternal melalui perubahan faktor
makroekonomi, seperti suku bunga, nilai tukar, dan lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas NPL perbankan,
baik secara agregat maupun per sektor ekonomi sebagai dampak terhadap
guncangan makroekonomi yang tercermin dari guncangan beberapa variabel
indikator. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui variabel makroekonomi
manakah yang dominan dalam memengaruhi tingkat NPL perbankan. Variabel
makroekonomi yang digunakan adalah BI rate, Indeks Harga Konsumen (IHK),
nilai tukar USD/IDR, nilai impor, jumlah uang beredar luas (M2) dan Industrial
Production Index (IPX). Sumber data utama pada penelitian ini berasal dari Bank
Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) dengan periode bulanan dari
Januari 2003 sampai Desember 2013.
Analisis sensitivitas NPL terhadap variabel makroekonomi tersebut
menggunakan metode Vector Auto Regression (VAR)/ Vector Error Correction
Model (VECM) berdasarkan NPL agregat maupun NPL per sektor ekonomi.
Berdasarkan hasil VAR/VECM dianalisis hubungan kausalitas granger, Impulse
Response Function (IRF) untuk menganalisis arah hubungan antara NPL dengan
variabel makroekonomi dan menilai sensitivitas dari masing-masing model NPL.
Analisis lanjutan menggunakan Forecast Error Variance Decomposition (FEVD)
untuk menganalisis variabel makroekonomi yang dominan memengaruhi tingkat
NPL baik secara agregat maupun per sektor ekonomi.
Hasil pengujian awal menunjukkan bahwa seluruh model memenuhi syarat
untuk dianalisis dengan menggunakan metode VECM (terdapat persamaan
kointegrasi atau hubungan jangka panjang antara NPL dengan variabel
makroekonomi) dan stabil berdasarkan lag 1 bulan dengan nilai R-square antara
10% hingga 55%. Berdasarkan uji granger causality, ditemukan adanya hubungan
saling memengaruhi (granger cause) antara NPL dan tingkat suku bunga
khususnya untuk sektor Pertanian, Pertambangan, Listrik, Jasa dunia usaha dan
sektor Lain-lain. Selain itu, ditemukan adanya hubungan saling memengaruhi
antara NPL sektor Perindustrian dengan Industrial Production Index (IPX) serta
NPL sektor Pertanian dengan nilai impor.
Berdasarkan model VECM yang dihasilkan, ditemukan bahwa variabel BI
rate memiliki hubungan yang positif dengan NPL di seluruh sektor ekonomi, yang menandakan adanya keeratan hubungan antara risiko kredit dengan tingkat suku
bunga. Variabel IPX, IHK dan M2 secara umum menunjukkan hubungan yang
positif dengan NPL, kecuali pada beberapa sektor ekonomi tertentu. Hasil
penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara NPL dengan
variabel nilai tukar dan impor. Beberapa hasil penelitian yang menunjukkan
perbedaan dengan hipotesis awal pada penelitian ini adalah untuk variabel IPX
dan nilai tukar. Variabel IPX belum dapat menjelaskan dengan baik terhadap NPL
perbankan secara agregat dan beberapa sektor ekonomi, selain sektor Jasa sosial
dan Perindustrian. Variabel nilai tukar menunjukkan dualisme hasil hubungan
dengan NPL yang memang dapat terjadi dan sejalan dengan beberapa penelitian
terdahulu.
Beberapa sektor ekonomi menunjukkan tingkat sensitivitas yang tinggi
terhadap guncangan makroekonomi. Sektor Pertambangan merupakan sektor yang
sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga, sedangkan sektor Pertanian dan
Listrik, gas dan air, selain suku bunga, juga sensitif terhadap perubahan IPX.
Sektor Jasa sosial merupakan sektor yang responsif terhadap seluruh variabel
makroekonomi yang digunakan, sedangkan sektor Jasa dunia usaha dan sektor
Lain-lain tidak responsif terhadap perubahan makroekonomi.
Variabel BI rate memberikan kontribusi terbesar terhadap perubahan NPL
baik secara agregat maupun per sektor ekonomi. Variabel IPX dan impor juga
berkontribusi terhadap NPL di berbagai sektor ekonomi, sedangkan IHK
merupakan variabel yang paling minim kontribusinya terhadap perubahan NPL
secara agregat maupun per sektor ekonomi.
Secara umum, hasil penelitian ini telah memberikan gambaran arah
perubahan NPL baik secara agregat maupun per sektor ekonomi kedepannya jika
terjadi guncangan makroekonomi. Arah perubahan NPL tersebut diharapkan dapat
dijadikan sebagai masukan bagi stakeholders terutama terkait dengan implikasi
manajerial yang disampaikan baik bagi praktisi perbankan, pelaku usaha,
regulator dan pihak lainnya.
Saran yang diberikan terkait hasil penelitian ini adalah agar
mempertimbangkan rekomendasi pemberian kredit saat terjadi guncangan
ekonomi. Beberapa sektor ekonomi yang responsif terhadap perubahan
makroekonomi agar dibatasi atau dihindari, sedangkan sektor ekonomi yang tidak
responsif atau sensitif terhadap perubahan makroekonomi dapat lebih
dipertimbangkan. Saran yang diberikan terkait pengembangan penelitian
berikutnya adalah penggunaan definisi sektor ekonomi yang terkini yaitu
menggunakan 18 sektor ekonomi, cakupan kredit yang lebih spesifik, seperti
kredit UMKM, Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor
(KKB), ataupun segmen khusus seperti kartu kredit. Hal ini dapat dilakukan
mengingat karakteristik pada segmentasi kredit yang spesifik tersebut dapat lebih
spesifik menjelaskan hubungan antara tingkat NPL dengan variabel
makroekonomi.
Collections
- MT - Business [4063]
