Analisis Pemilihan Lokasi Kantor Cabang Pembantu Bank (Studi Kasus Babk Bjb Cabang Cibinong)
View/ Open
Date
2013Author
Windiani, Retno Endah
Marimin
Andati, Trias
Metadata
Show full item recordAbstract
Saat ini masyarakat sangat membutuhkan pelayanan perbankan untuk transaksi penyimpanan dan peminjaman serta pembayaran kewajiban sehari-hari Masyarakat menginginkan kemudahan akses ke bank baik dari prosedur maupun cara mencapai lokasi bank tersebut. Saat ini bank tidak hanya ada di kota-kota besar namun ada juga di kecamatan dan desa. Jumlah bank kini meningkat sejalan dengan tingginya tingkat kebutuhan masyarakat.
Bank bjb adalah bank yang semula merupakan bank pembangunan daerah dimana sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten dan daerah tingkat dua yang bernaung di bawahnya. Sebagai bank yang mempunyai captive market PNS dan sahamnya di miliki Pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan Banten, bank bjb berusaha menguasai pasar di Jawa Barat dan Banten. Keinginan menjadi tuan rumah di daerah asalnya sendiri membuat bank bjb semakin gencar melebarkan sayapnya dengan membuka cabang-cabangnya sampai ke pelosok Jawa Barat dan Banten. Bank bjb Cabang Cibinong merupakan cabang yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan perbankan masyarakat dan pemerintah daerah di Kabupaten Bogor. Saat ini baru ada 8 kantor cabang pembantu bank bjb yang melayani kecamatan-kecamatan yang banyak itu dengan lingkup pelayanan antara 28 kecamatan per KCP. Bank bjb Cabang Cibinong berencana mendirikan satu KCP lagi. Sehingga penulis tertarik mengambil topik penelitian dengan judul "Analisis Pemilihan Lokasi Kantor Cabang Pembantu Bank (Studi Kasus di bank bjb Cabang Cibinong)". Dalam penelitian ini, penulis mengambil tiga alternatif lokasi yaitu Cisarua, Cigombong dan Caringin
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menentukan lokasi yang dipilih antara Kecamatan Cisarua, Kecamatan Caringin dan Kecamatan Cigombong yang dipilih berdasarkan kebijakan manajemen bank bjb; 2) menentukan lokasi yang dipilih berdasarkan teori AHP, setelah lokasi yang terpilih maka kemudian 3) dirumuskan strategi implementasi terhadap lokasi terpilih dengan menggunakan analisis SWOT.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis AHP dan analisis SWOT. Dalam pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan wawancara dengan kuisioner.
Hasil penelitian didapat bahwa menurut pihak manajemen bank bjb kantor cabang pembantu yang baru seharusnya bisa memenuhi 5 aspek yaitu aspek bisnis, aspek lokasi, aspek finansial, aspek teknis dan aspek legal. Dari hasil wawancara mendalam dan kuisioner dengan pihak manajemen bank bjb, maka terpilihlah kecamatan Caringin sebagai kecamatan terpilih untuk pembukaan KCP baru. Hal ini disebabkan kecamatan Caringin memenuhi kelima aspek tersebut diantaranya dalam pembukaan di KCP di Caringin diharapkan akan menjangkau lebih banyak daerah di sekitarnya. Kemudian lokasi yang dekat dengan banyak nasabah dan bisa dilalui dengan berbagai macam sarana transportasi menjadi pilihan nasabah. Untuk aspek finansial, Kecamatan Caringin dianggap kecamatan yang berpotensi saat ini. Berdasarkan observasi, banyak kegiatan ekonomi yang
berkembang. Banyaknya ruko dan rukan yang didirikan serta adanya pasar
membuat indikasi ekonomi yang nyata. Hal ini bisa juga menjadi indikasi
banyaknya sektor mikro yang berpotensi. Aspek teknis dari kecamatan Caringin
bisa terlihat adanya bangunan-bangunan baru yang bisa menjadi tempat berdirinya
KCP baru. Aspek Legal untuk kecamatan Caringin mungkin juga bisa dipenuhi
oleh kecamatan lain. Namun dengan adanya aspek-aspek lain yang terkait maka
aspek legal menjadi bisa lebih dipastikan untuk diajukan. Pengajuan ijin
pembukaan ke Bank Indonesia harus segera dilakukan.
Penentuan lokasi berdasarkan hasil analisis AHP menunjukkan hasil yang
sama dengan kebijakan manajemen Bank bjb yaitu kecamatan Caringin. Dengan
faktor, tujuan dari AHP adalah sebagai berikut tujuan pembukaan KCP
dimaksudkan agar dapat meningkatkan layanan bank dengan hasil uji 0,614,
sedangkan urutan kedua untuk meningkatkan omzet bank dengan hasil uji sebesar
0,268 dan peningkatan jumlah nasabah dengan hasil uji sebesar 0,117. Untuk
penentuan faktor terlihat bahwa potensi nasabah yang ada di suatu wilayah
menjadi faktor yang sangat penting yaitu sebesar 0,377 dalam penentuan alternatif
lokasi. Di urutan kedua ada faktor akses lokasi sebesar 0,306 lalu keberadaan
lembaga keuangan sebesar 0,224 dan keberadaan infrastruktur lokasi sebesar
0,093. Sedangkan dari pemilihan alternatif lokasi urutan pertama adalah di
Kecamatan Caringin dengan nilai 0,674, lalu Kecamatan Cigombong dengan nilai
0,245 dan Cisarua dengan nilai 0,081. Semua hasil AHP ini mempunyai tingkat
inkonsistensi sebesar 0,07 yang berarti dapat diterima.
Penentuan lokasi dari hasil analisis SWOT terlihat bahwa pemilihan lokasi
Caringin berada di kuadran I berarti lokasi ini benar-benar menguntungkan bagi
perusahaan. Strategi yang diterapkan pada lokasi di kuadran 1 berarti mendukung
strategi agresif. Kuadran 1 memberikan arti bahwa lokasi tersebut bisa diterapkan
strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Hal ini
sejalan dengan visi misi bank bjb untuk lebih mengutamakan pelayanan. Strategistrategi tersebut antara lain mensosialisasikan produk-produk bank bjb terutama
mikro, tabungan dan layanan ATM, mencari posisi bangunan yang strategis yang
dapat menjangkau dan dijangkau oleh nasabah sekitar kecamatan Caringin dan
terakhir adalah benchmarking atas produk-produk perbankan ke bank-bank lain
atau lembaga keuangan yang lain terutama mikro.
Implikasi manajerial kemudian diambil setelah adanya strategi. Atas hasil
perumusan strategi tersebut, maka implikasi manajerial adalah diantaranya
pengajuan perijinan pembukaan KCP harus dilakukan secepatnya ke Bank
Indonesia, pencarian lokasi kantor di kecamatan Caringin harus dilakukan secara
paralel dengan pengajuan ijin Bank Indonesia, aspek-aspek bisnis, lokasi
finansial, teknis dan legal seperti dalam pemilihan kecamatan kembali harus
dilakukan dalam pemilihan gedung kantor. Dengan terpilihnya kuadran satu yang
menggambarkan aggresifitas bank bjb harus direalisasikan dengan gencarnya
sosialisasi ke dinas-dinas terkait dan pusat-pusat ekonomi yang ada, selain itu
dilakukan pula sosialisasi lebih gencar atas produk-produk bank bjb. Selain itu
benchmarking atau observasi terhadap perbankan dan lembaga keuangan perlu
dilakukan untuk bisa mencegah perpindahan nasabah.
Collections
- MT - Business [4063]
