Analisis Kinerja Portofolio Investasi dan Kemampuan Selectivity Serta Market Timing (Studi Kasus Pada Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat)
View/ Open
Date
2014Author
Aprilia, Ririn
Nuryartono, Nunung
Andati, Trias
Metadata
Show full item recordAbstract
Hasil kinerja merupakan salah satu bahan pertimbangan bagi seseorang
dalam memilih suatu institusi untuk menempatkan dananya. Oleh karena itu,
evaluasi atas kinerja portofolio perlu dilakukan oleh setiap institusi pengelola
dana. Ardianto (2004) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dibutuhkan untuk
mengetahui kinerja yang dihasilkan dalam mencapai target yang telah ditentukan,
baik yang mencakup return portofolio gabungan atau masing-masing kelas aset
investasi atau fund manager yang digunakan. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan
untuk dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan investasi
selanjutnya serta sebagai sarana umpan balik dan kontrol. Lonkani et al. (2013)
berpendapat bahwa selectivity dan market timing merupakan dua kemampuan
dasar bagi pengelola dana yang dapat menentukan kinerja dari dana yang
dikelolanya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja portofolio investasi
dengan menggunakan metode risk-adjusted performance dan juga melakukan
analisis atas kemampuan selectivity dan market timing pada DPLK Muamalat.
Portofolio investasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelas asset
investasi saham, reksa dana, dan sukuk. Instrumen investasi tersebut merupakan
instrumen investasi dengan basis syariah. Metode risk-adjusted performance yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode Sharpe ratio, Treynor ratio,
Jensen’s ratio, dan Appraisal ratio. Keempat metode tersebut menggunakan unsur
risiko yang berbeda dalam mengukur kinerja portofolio. Hasil perhitungan kinerja
setiap kelas aset investasi berdasakan metode risk-adjusted performance akan
dibandingkan dengan masing-masing benchmark. Adapaun benchmark yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Index Harga Saham Gabungan (IHSG)
sebagai benchmark untuk kelas aset investasi saham, Infovesta Equity Fund Index
(IEFI) sebagai benchmark untuk kelas aset investasi reksa dana, dan Infovesta
Corporate Bond Index (ICBI) sebagai benchmark untuk kelas aset investasi
sukuk. Perbedaan atas hasil pengukuran dengan keempat metode risk-adjusted
performance diuji dengan alat uji statistik berupa uji t sampel berpasangan
(paired-sampel t test).
Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis kemampuan dari
pengelola dana dalam hal kemampuan selectivity dan market timing. Model yang
digunakan dalam penelitian ini adalah model Treynor-Mazuy dan model
Henriksson-Merton. Sebelum dilakukan analisis regresi terhadap kedua model
tersebut untuk masing-masing kelas aset investasi, dilakukan uji asumsi klasik
yang meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedastis.
Hasil perhitungan kinerja rata-rata setiap kelas aset investasi adalah bahwa
reksa dana dapat meberikan average return yang paling besar, sedangkan sukuk
memberikan average return yang paling kecil. Dilihat dari sisi risiko, saham
merupakan investasi dengan risiko terbesar, sedangkan sukuk memiliki risiko
yang paling kecil. Jika dibandingkan dengan masing-masing benchmark, hanya investasi pada sukuk yang dapat mengungguli (outperformed) kinerja pasar
(IEFI). Investasi pada saham dan reksa dana belum dapat mengungguli
(underperformed) kinerja pasarnya.
Hasil perhitungan kinerja setiap kelas aset investasi dibandingkan dengan
masing-masing benchmark berdasarkan metode Sharpe ratio adalah setiap kelas
aset investasi tidak ada yang dapat menggungguli (underperformed) kinerja pasar.
Berbeda dengan hasil perhitungan Sharpe ratio, berdasarkan hasil perhitungan
metode Treynor ratio, setiap kelas aset investasi dapat mengungguli
(outperformed) kinerja masing-masing pasar. Selain itu, berdasarkan metode
Jensen’s ratio dan Appraisal ratio, setiap kelas aset investasi memiliki
kemampuan superior. Untuk melihat konsistensi hasil penilaian untuk setiap kelas
aset investasi, dilakukan juga analisis berdasarkan metode risk-adjusted
performance dalam jangka waktu empat bulanan.
Perbedaan hasil perhitungan antar keempat metode pada risk-adjusted
performance diuji dengan menggunakan uji t sampel berpasangan (paired-sample
t test) untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata kinerja antara dua
kelompok sampel yang berpasangan. Hasil uji t sampel berpasangan untuk kelas
aset investasi pada saham dengan menggunakan tingkat kepercayaan 90% adalah
tidak terdapat perbedaan hasil kinerja antara metode risk-adjusted performance,
sedangkan untuk kelas aset investasi reksa dana, dua metode yang paling
signifikan adalah metode Sharpe ratio dan Jensen’s ratio yang berbeda nyata pada
tingkat kepercayaan 90%. Sementara itu, dua metode yang paling signifikan
dalam menilai kinerja investasi pada sukuk adalah metode Treynor ratio dan
Jensen’ ratio yang berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil regresi setiap kelas aset investasi terhadap model Treynor-Mazuy
yang telah dimodifikasi adalah bahwa pengelola dana memiliki kemampuan
selectivity dalam menginvestasikan saham dan sukuk, sedangkan dalam investasi
pada reksa dana, pengelola dana tidak memiliki kemampuan selectivity.
Sementara itu, dalam hal kemampuan market timing pengelola dana tidak
memiliki kemampuan market timing dalam menginvestasikan saham, reksa dana,
dan sukuk. Berdasarkan model Henriksson-Merton, pengelola dana hanya
memiliki kemampuan selectivity dalam menginvestasikan sukuk, sedangkan pada
reksa dana dan sukuk pengelola dana tidak memiliki kemampuan selectivity.
Pengelola dana juga tidak memiliki kemampuan market timing dalam
menginvestasikan saham, reksa dana, dan sukuk.
Implikasi manajerial dalam penelitian ini adalah dalam melakukan
investasi sebaiknya tidak hanya memperhatikan return, tetapi juga
mempertimbangkan unsur risiko, penambahan komposisi kelas aset investasi
reksa dana dalam portofolio DPLK Muamalat, dan perlunya market education
serta market awareness bagi peserta atau calon peserta pensiun.
Collections
- MT - Business [4063]
