Dampak Guncangan Faktor Makroekonomi Terhadap Jakarta Islamic Index dan Indeks Harga Saham Gabungan
View/ Open
Date
2013Author
Asih, Pratiti Budi
Siregar, Hermanto
Maulana, Tb Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Pasar modal memiliki peranan penting dalam perkembangan
perekonomian suatu negara. Instrumen keuangan yang diperdagangkan di dalam
pasar modal antara lain obligasi, reksadana, saham dan lain sebagainya. Saham
merupakan salah satu alternatif investasi yang menarik dalam pasar modal. Hal ini
ditandai dengan perkembangan pasar modal yaitu dengan meningkatnya nilai
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di Indonesia saat ini telah dikembangkan
instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah Islam. Hal ini menunjukkan
bahwa potensi investasi pada segmen muslim masih besar. Perkembangan
investasi syariah di pasar modal Indonesia juga masih menjanjikan, dimana total
nilai produk syariah di pasar modal meningkat sebesar 59.23 persen menjadi
91.37 triliun pada tahun 2011 (BAPEPAM, 2011).
Instrumen saham syariah yang ada di Indonesia tergabung dalam Jakarta
Islamic Index (JII). Namun demikian dalam berinvestasi, segmen muslim tidak
hanya memperhatikan kesesuaian dengan syariah Islam, tetapi perlu
memperhatikan kinerja saham yang ada pada indeks tersebut. Terdapat berbagai
faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan indeks saham pada indeks JII dan
IHSG baik variabel makroekonomi maupun variabel mikroekonomi. Variabel
makroekonomi merupakan variabel yang dapat mempengaruhi nilai indeks saham
namun tidak dapat dikendalikan oleh para pelaku usaha.
Pergerakan indeks saham yang dipengaruhi oleh banyak faktor,
menyebabkan perlu dilakukan kajian mengenai faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi pergerakan indeks tersebut. Dengan demikian investor dapat
melakukan antisipasi dengan melakukan portofolio saham di saat yang tepat. Oleh
karena itu penelitian ini mencoba menganalisis pengaruh variabel makroekonomi
terhadap nilai JII.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) membandingkan kinerja saham JII
dengan IHSG, 2) menganalisis dampak guncangan makroekonomi terhadap
kinerja JII dan IHSG, 3) menganalisis pengaruh krisis ekonomi Eropa terhadap
kinerja JII dan IHSG. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2013 – Maret
2013. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dan kuantitatif
ekonometrika menggunakan data sekunder. Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder berupa data bulanan runtun waktu (time series)
JII pada periode Januari 2003 sampai Juli 2012 melalui jaringan online
yahoofinance.com. Selain itu dilakukan pengambilan data variabel makroekonomi
yaitu suku bunga, Industrial Producton Index (IPI) tingkat inflasi, dan nilai tukar
(rupiah terhadap U$D).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor makroekonomi memberikan
pengaruh dalam jangka panjang terhadap indeks JII dan IHSG. Selain itu, hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara umum, indeks JII lebih cepat mencapai
kestabilan akibat guncangan variabel makroekonomi dibandingkan dengan IHSG yaitu pada variabel IPI, nilai tukar dan suku bunga. Sedangkan pada variabel
inflasi IHSG lebih cepat mencapai kestabilan dibandingkan JII.
Variabel makroekonomi berkontribusi dengan proporsi yang berbeda
antara indeks JII dan IHSG. Kontribusi variabel makroekonomi terhadap indeks
JII adalah JII (66.142 persen), inflasi (30.01 persen), nilai tukar (3.215 persen),
krisis Eropa (0.547 persen), suku bunga (0.07 persen) dan IPI (0.009 persen).
Sedangkan kontribusi variabel makroekonomi terhadap indeks IHSG adalah IHSG
(66.63 persen), Inflasi (29.059 persen), nilai tukar (3.34 persen), krisis Eropa
(0.891 persen), suku bunga (0.038 persen ) dan IPI (0.036 persen). Oleh karena itu
para investor perlu memperhatikan kondisi makroekonomi Indonesia khususnya
inflasi yang memiliki kontribusi paling besar terhadap pergerakan nilai indeks
dibandingkan dengan faktor makroekonomi lainnya.
Krisis Eropa direspon secara negatif oleh JII pada periode kedua dan
ketiga. Sedangkan pada periode ketiga dan seterusnya respon JII mulai bergerak
ke arah positif. Sedangkan IHSG merespon guncangan krisis Eropa secara negatif
pada periode kedua dan pada periode ketiga IHSG mulai merespon ke arah positif.
Namun demikian Indeks JII lebih cepat mencapai kestabilan dalam menghadapi
krisis Eropa dibandingkan dengan indeks IHSG.
Collections
- MT - Business [4063]
