Analisis Pengembangan Strategic Business Unit Untuk Meningkatkan Potensi Inovasi Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Perhutani Unit Iii Jawa Barat dan Banten
View/ Open
Date
2013Author
Listriana, Rurin Wahyu
Rusli, Meika Syahbana
Hermawati, Wati
Metadata
Show full item recordAbstract
Perhutani merupakan salah satu BUMN yang bergerak di bidang kehutanan yang mengelola sumber daya hutan kayu dan bukan kayu. Untuk menunjang pengelolaan bisnis Perhutani terutama di bidang hasil hutan kayu dan bukan kayu maka di bentuk Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM). KBM bertanggungjawab atas penyelenggaraan pengelolaan usaha bisnis perusahaan secara mandiri untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Pengelolaan yang dilakukan oleh KBM Perhutani meliputi bisnis kayu, bukan kayu dan wisata. KBM industri mengemban tugas meningkatkan dan mengoptimalkan aset perusahaan secara berkelanjutan demi keberlangsungan usaha dalam rangka meningkatkan nilai tambah hasil hutan bukan kayu.
Untuk meningkatkan mutu dan daya saing komoditi tersebut, salah satu cara yang perlu ditempuh perusahaan adalah dengan membangun kapasitas teknologi yang meliputi perangkat teknologi yang dimiliki, kemampuan sumber daya manusia, perangkat informasi yang dimiliki dan pengelolaan organisasi. Peranan inovasi teknologi diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekologi dari hutan milik Perhutani, dan dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku untuk produk-produk yang dihasilkan dan dibutuhkan oleh konsumen. Dalam dimensi ekonomi, inovasi teknologi dapat berperan dalam efisiensi produksi, menciptakan nilai tambah, daya saing dan laba. Memperhatikan permasalahan tersebut maka penting dilakukan analisis pengembangan SBU (Strategic Business Unit) untuk meningkatkan potensi inovasi KBM Industri Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten agar memiliki daya saing tinggi baik di pasar lokal maupun global. Tujuan penelitian ini adalah 1)Menganalisis kemampuan inovasi dan daya saing SBU di KBM Industri, 2)Merumuskan kebijakan alternatif yang dapat meningkatkan inovasi dan daya saing perusahaan.
Penelitian ini dilaksanakan di lingkup Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Industri Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten yaitu kantor pusat di JI. AH Nasution No. 413 Cilengkrang 2, Bandung, Jawa Barat; Pabrik Gondorukem dan Terpentin: Jl. Gunung Batu, Nagreg, Bandung, Jawa Barat, Pabrik Minyak Kayu Putih: Jl. Sumur Watu Jati Munggul Indramayu, Jawa Barat dan Pabrik Air Mimum: Kampung Curug, Desa Bojongkoneng, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Waktu penelitian lapangan adalah bulan Maret Mei 2012. Informasi dan data yang dibutuhkan didapat melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada responden dengan jumlah sebanyak 10 orang. Responden yang diambil bersangkutan dengan topik penelitian ini dan mempunyai keahlian dan atau pengalaman pada bidang yang dikaji. Responden yang diambil mayoritas pengambil keputusan dan praktisi berasal dari Kantor Direksi Perhutani dan Kantor Unit III Perhutani Jawa dan Banten. Untuk menetapkan faktor ekstermal dan kendala pengembangan SBU dilakukan secara deskriptif dengan
mempertimbangkan berbagai kegiatan yang akan dikembangkan. Pada proses
selanjutnya dilakukan analisis SWOT yang bertujuan agar visi dan misi yang
disusun sesuai dengan harapan untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan bisnis yang direncanakan. Analisis SWOT didasarkan pada logika
yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesess) dan
ancaman (threats). Data SWOT kualitatif kemudian dikembangkan secara
kuantatif melalui perhitungan Analisis SWOT agar diketahui secara pasti posisi
organisasi yang sesungguhnya. Sedangkan dalam menentukan alternatif strategi
dilakukan dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik.
Hasil analisa SWOT memperlihatkan bahwa KBM Industri Perhutani
Unit III berada pada kwadran I (0,76 ; 0,98), yang menunjukkan bahwa KBM
Industri Unit III memiliki kekuatan dan peluang untuk melakukan ekspansi,
memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal dengan
meningkatkan kualitas, mengembangkan produk baru, memperbaiki proses dan
meningkatkan akses ke pasar yang lebih luas.Selain itu juga diperlukan
minimisasi biaya untuk meningkatkan profit. Posisi tersebut mendukung KBM
dalam pengembangan Strategic Business Unit (SBU) nya yang terdiri dari Pabrik
Gondorukem dan Terpentin, Pabrik Air Minum Dalam Kemasan dan Pabrik
Minyak Kayu Putih.
Potensi inovasi perusahaan juga dapat dilihat dari inovasi proses-produk,
inovasi pengetahuan-ketrampilan dan inovasi metode-sistem. Pada KBM Industri
Unit III potensi tersebut meliputi potensi bahan baku, peralatan proses dan
produk. Bahan baku meliputi bahan baku gondorukem dan terpentin yaitu getah
pinus, bahan baku minyak kayu putih dan bahan baku air minum dalam kemasan.
Potensi inovasi tersebut didapat melalui kegiatan Litbang Perhutani
diantaranya penelitian mengenai getah pinus yang menjadi bahan baku
gondorukem dan terpentin. Rata-rata getah pinus yang dihasilkan saat ini adalah 9
gr/hari. Untuk meningkatkan produktivitas maka dilakukan penelitian tentang
pinus dengan jenis bocor getah dengan jumlah getah yang dihasilkan lebih
banyak yaitu sekitar 50 gr/pohon/hari. Minyak kayu putih yang dipengaruhi oleh
kadar cineol. Produktifitas daun kayu putih dapat mempengaruhi kandungan
cineol dalam minyak kayu putih.
Potensi inovasi dalam bidang proses-produk berkaitan erat dengan
peralatan proses. Pada pabrik pengolahan gondorukem inovasi dilakukan dengan
mengganti bahan bakar solar dengan rubber chemical oil (RCO) sehingga
diperlukan peralatan pendukung berupa mesin yang menggunakan bahan bakar
minyak dan batu bara. Dengan penggantian bahan tersebut akan terjadi efisiensi
sekitar 25% dari biaya operasional. Pada pabrik pengolahan daun kayu putih
dilakukan dengan mengganti bahan bakar minyak dengan bricket yang berasal
dari sisa-sisa daun dan ranting pohon kayu putih yang telah didistilasi. Bricket
tersebut masih menghasilkan arang dan abu yang dimanfaatkan untuk dijual dan
digunakan pupuk. Dalam hal ini juga ada efisiensi sekitar 25% dalam biaya
produksi. Sedangkan pada pabrik Air Minum dalam Kemasan cenderung untuk
meningkatkan jumlah produk yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi
tinggi, yaitu peningkatan jumlah produksi menjadi delapan kali lipat dan terjadi efisiensi. Penggunaan mesin otomatis dan perbaikan proses dari sistem batch
menjadi sistem kontinyu.
Potensi Inovasi produk pada KBM Industri Perhutani meliputi produk
godorukem, minyak kayu putih dan air minum dalam kemasan. Pembuatan derivat
gondorukem yang sebelumnya berbentuk padat menjadi cair. Minyak kayu putih
yang sebelumnya 99% dijual curah kemudian dikemas dan dilakukan diversifikasi
produk. Untuk air minum dalam kemasan KBM Industri III mempunyai kemasan
yang unik dibanding yang lain yaitu berbentuk granat. Tujuan dari pembuatan
derivat gondorukem, derivat minyak kayu putih dan sistem pengemasan yang
berbeda dengan yang lain adalah membuat nilai tambah dari produk yang
dihasilkan oleh KBM Industri Perhutani.
Potensi inovasi juga mencakup sistem dan pengetahuan yang meliputi
sertifikasi dan pelatihan. Dengan adanya sertifikasi dan pelatihan akan
meningkatkan mutu dari sistem manajemen dan sumber daya manusia. Sertifikat
yang diperoleh KBM Industri adalah SNI 01-3553-2006, ISO 9001:2008, BPOM
dan rencana adalah ISO 22000:2005.
Alternatif kebijakan dari KBM Industri Unit III di analisa menggunakan
proses hirarki analitik. Peningkatan inovasi perusahaan dipengaruhi oleh faktor
teknologi, sumber daya manusia, informasi dan organisasi. Organisasi dengan
nilai 0,436 menjadi faktor yang utama. Aktor yang berpengaruh dalam
peningkatan inovasi adalah bidang produksi, pemasaran, keuangan dan SDM.
SDM dengan nilai 0,398 menjadi aktor yang paling berpengaruh. Sedangkan
tujuan dari peningkatan inovasi adalah perbaikan proses dan pengembangan
produk. Perbaikan proses dengan nilai 0,756 menjadi tujuan yang terpenting,
Peningkatan inovasi perusahaan dapat dicapai melalui prioritas strategi, yaitu
kerjasama dengan pihak lain/ekternal dengan bobot 0,703 dan mengoptimalkan
kemampuan litbang sendiri dengan bobot 0,297.
Saran dari penelitian ini adalah 1) Untuk meningkatkan kemampuan
inovasi dan daya saing KBM diperlukan kerjasama dengan pihak lain. Antara lain
dengan dengan, suplier, lembaga litbang atau perguruan tinggi dan pembeli
(buyer) seperti agen penjualan. Kerjasama tersebut terdiri dari a) kerjasama
dengan Litbang untuk penelitian yang terkait dengan produk baru, proses produksi
dan pemasaran sesuai dengan lokasi produksi. b) Kerjasama dengan supplier
(pemasok) dalam hal keseimbangan bahan baku. c) Kerjasama dengan agen
penjualan dalam memasarkan dan mempromosikan produk Perhutani. 2) Kegiatan
Litbang sebaiknya tidak terpusat pada satu tempat tetapi perlu didirikan Litbang di
setiap wilayah kerja Perhutani untuk lebih memudahkan dilaksanakannya
penelitian. 3) KBM sebaiknya menyediakan fasilitasi yang mempermudah
terjadinya inovasi seperti alokasi biaya untuk kegiatan litbang yang menghasilkan
inovasi, serta penghargaan terhadap SDM yang kreatif dan inovatif .
Collections
- MT - Business [4063]
