View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Economic and Management
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Economic and Management
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Efiesiensi Teknis dan Keuntungan Usahatani Tebu pada Program Kemitraan Agroforestri Tebu di KPH Ngawi, Jawa Timur

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (620.6Kb)
      Fulltext (1.894Mb)
      Lampiran (641.6Kb)
      Date
      2025
      Author
      NORAVIKA, MAYA
      Tinaprilla, Netti
      Suprehatin
      Ekawati, Sulistya
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Tebu merupakan komoditas dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional, namun produktivitasnya terus mengalami penurunan, khususnya di Jawa Timur yang merupakan daerah sentra produksi tebu di Indonesia. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti alih fungsi lahan dan tingkat efisiensi yang rendah. Pemerintah merespon masalah tersebut dengan melakukan program percepatan swasembada gula nasional, salah satunya melalui skema kemitraan agroforestri tebu antara petani hutan (pesanggem) dan Perhutani, termasuk program Agroforestri Tebu Mandiri (ATM). Di KPH Ngawi, kedua skema ini diterapkan dengan pola dan manajemen yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pola dan derajat kemitraan yang terjalin antara pesanggem dengan Perum Perhutani dalam menjalankan usahatani agroforestri tebu, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi dan efisiensi teknis usahatani pada skema kemitraan agroforestri tebu, menganalisis keuntungan usahatani agroforestri tebu, dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pesanggem bekerja pada skema ATM dan dampaknya terhadap kinerja usahatani tebu pada skema kemitraan di KPH Ngawi. Pengambilan data dilakukan selama tiga (3) bulan, mulai dari bulan Juli sampai dengan September 2024 di wilayah kerja KPH Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan melakukan wawancara langsung secara terstruktur dan mendalam. Sampel terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok usahatani tebu skema kemitraan perhutanan sosial yang terdiri atas kelompok pesanggem kemitraan perhutanan sosial yang tidak bekerja pada skema ATM (pesanggem non-pekerja ATM) dan kelompok pesanggem kemitraan perhutanan sosial yang bekerja pada skema ATM (pesanggem pekerja ATM) serta skema yang dikelola oleh pihak Perhutani KPH Ngawi yaitu skema ATM. Teknik pengambilan sampel pada dua kelompok skema kemitraan perhutanan sosial ditentukan menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel diambil secara sengaja dari kelompok populasi yang melakukan usahatani tebu pada skema kemitraan perhutanan sosial. Penentuan sampel penelitian pada usahatani tebu skema ATM ditentukan dengan metode judgment yaitu pemilihan responden berdasarkan pada responden yang dianggap dapat menjawab terkait permasalahan yang sedang diteliti sebanyak satu responden. Total responden pada penelitian ini berjumlah 92 orang, responden tersebut terbagi menjadi tiga kelompok yaitu pada kelompok pesanggem non-pekerja ATM sebanyak 44 orang, kelompok pesanggem pekerja ATM sebanyak 47 orang dan pada skema ATM sebanyak 1 orang. Hasil analisis pola kemitraan yang terjalin antara pesanggem dan Perhutani KPH Ngawi yang terjalin berdasarkan kerja sama program Agroforestri Tanaman Tebu sesuai dengan teori Eaton dan Shepherd (2001) yang paling mendekati adalah pola kemitraan dengan model Multipartite (multipihak). Model tersebut dicirikan dengan adanya lebih dari satu pihak yang bermitra dengan petani dan biasanya melibatkan badan hukum maupun perusahaan swasta. Pada kemitraan antara pesanggem dan KPH Ngawi, pihak Perum Perhutani KPH Ngawi bertindak sebagai badan hukum yang menyediakan lahan hutan untuk budidaya tebu oleh pesanggem serta memberikan dukungan teknis melalui penyuluhan tentang proses budidaya yang baik dan benar di wilayah kehutanan. Sementara yang bertindak sebagai perusahaan swasta adalah pabrik gula yang bermitra dengan pesanggem untuk membeli dan mengolah hasil budidaya tebu milik pesanggem. Sementara nilai aspek proses manajemen kemitraan dan aspek manfaat kemitraan yang dirasakan oleh pesanggem mitra dan KPH Ngawi masing-masing dijumlahkan dan kemudian dirata-ratakan, sehingga diperoleh nilai sebesar 666,7. Nilai ini menunjukkan bahwa tingkat hubungan kemitraan yang terjalin pada program kemitraan agroforestri tebu antara pesanggem dan Perum Perhutani KPH Ngawi berada pada tingkat kemitraan Madya (501-750). Hasil analisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi tebu pada kemitraan agroforestri tebu di KPH Ngawi yang berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatkan produksi tebu yaitu bibit, pupuk ZA, pupuk NPK, herbisida, tenaga kerja, dan jarak tanam. Hasil analisis efisiensi teknis menunjukkan rata-rata usahatani agroforestri tebu yang dilakukan oleh pesanggem non-pekerja ATM dan pesanggem ATM sudah efisien secara teknis. Kelompok pesanggem non-pekerja ATM memiliki nilai rata-rata efisiensi teknis lebih tinggi yaitu 0,855 dibandingkan kelompok pesanggem pekerja ATM yang rata-ratanya sebesar 0,811. Efisiensi teknis maksimal dapat dicapai jika nilainya sama dengan satu. Oleh karena itu, pesanggem agroforestri tebu pada kelompok non-pekerja ATM dan pekerja ATM masih memiliki peluang untuk mencapai efisiensi maksimal melalui optimalisasi penggunaan input produksi tebu. Dari sembilan variabel sosial ekonomi yang diduga memengaruhi tingkat inefisiensi teknis usahatani agroforestri tebu terdapat dua variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan tingkat inefisiensi teknis yaitu dummy jenis kelamin dan pengalaman berusahatani tebu. Hasil analisis keuntungan pada tiga kelompok yang melakukan usahatani agroforestri tebu di KPH Ngawi menunjukkan pada skema agrofrestri tebu pesanggem non-pekerja ATM keuntungan atas biaya tunai yang diperoleh sebesar Rp5.100.890,00 dan keuntungan atas biaya total sebesar Rp3.166.515,00 per hektar. Sedangkan pesanggem pekerja ATM, keuntungan atas biaya tunai yang diperoleh hampir sama yaitu sebesar Rp5.103.283,00 dan keuntungan atas biaya total sebesar Rp2.913.185,00. Pada skema ATM Perhutani KPH Ngawi, keuntungan atas biaya tunai sebesar Rp5.696.743,00 dan keuntungan atas biaya total sebesar Rp5.213.043,00 per hektar. Keuntungan atas biaya tunai dan biaya total tertinggi adalah pada skema ATM yang dikelola Perhutani KPH Ngawi. Tingginya keuntungan atas biaya total tersebut, dikarenakan terdapat beberapa komponen yang menjadi penyumbang tingginya biaya produksi usahatani agroforestri tebu tidak dikeluarkan oleh Perhutani. Komponen biaya tersebut antara lain biaya TMA dan biaya bagi hasil. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai R/C ratio atas biaya tunai dan biaya total antara kelompok pesanggem non-pekerja ATM dan pesanggem pekerja ATM hasilnya lebih rendah dibandingkan pada skema ATM oleh Perhutani. Perbedaan ini menunjukkan bahwa usahatani agroforestri tebu yang dijalankan pesanggem memiliki efisiensi yang lebih rendah secara keseluruhan, karena masih adanya beban biaya tunai dan non-tunai seperti biaya TMA, bagi hasil, dan biaya TKDK yang cukup tinggi. Hasil analisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pesanggem agroforestri tebu dalam mengambil pekerjaan pada skema ATM, hanya terdapat dua varibel dari tujuh variabel yang diduga dapat memengaruhi keputusan pesanggem, yaitu tingkat pendidikan formal dan luas lahan garapan. Dampak pesanggem agroforestri tebu bekerja pada skema ATM terhadap efisiensi teknis dapat diketahui melalui nilai ATT dari hasil analisis menggunakan command psmatch2. Hasil menunjukkan bahwa efisiensi teknis bertanda negatif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen (t-stat >1,96), artinya pesanggem agroforestri tebu yang bekerja pada skema ATM dapat menurunkan efisiensi teknisnya pada usahatani agroforestri tebu skema kemitraan. Sedangkan terhadap rasio R/C atas biaya total pesanggem yang bekerja pada skema ATM lebih tinggi sebesar 0,0592 dibandingkan pesanggem yang tidak bekerja pada skema ATM. Dengan nilai t-stat 2,00 yang artinya pesanggem yang bekerja pada skema ATM berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan rasio R/C atas biaya total pada taraf nyata 5 persen (t-stat >1,96). Hal ini mengindikasikan keterlibatan pesanggem dalam bekerja pada skema ATM berdampak pada peningkatan rasio R/C atas biaya total dibandingkan pesanggem yang tidak bekerja pada skema ATM.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/166323
      Collections
      • MT - Economic and Management [3203]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository