Strategi Optimalisasi Pembelajaran Terintegrasi untuk Penciptaan Pengetahuan di KementerianKeuangan
Date
2025Author
Muhammadan, Sabda Alam
Ma'arif, Mohamad Syamsul
Suhendi
Metadata
Show full item recordAbstract
Pembelajaran terintegrasi di Kementerian Keuangan bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang komprehensif, di mana pembelajaran tidak hanya terbatas pada kelas formal, tetapi juga mencakup pengalaman langsung dan interaksi sosial di lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan. Namun, pelaksanaan model ini menghadapi tantangan yang memengaruhi efektivitas penerapannya. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi yang optimalisasi penerapan pembelajaran terintegrasi dengan model manajemen pengetahuan yang tepat, seperti Model SECI, yang fleksibel dan efektif dalam berbagai konteks, baik di sektor publik maupun swasta, serta diakui dalam literatur akademis dan praktik industri. Pada entitas besar seperti Kementerian Keuangan, evaluasi segera terhadap implementasi pembelajaran terintegrasi sangat penting untuk mencegah fragmentasi inisiasi pembelajaran akibat struktur organisasi yang besar dan terdiversifikasi, sehingga diperlukan pemeriksaan menyeluruh tentang penerapan kerangka pembelajaran terintegrasi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran terintegrasi di Kementerian Keuangan, mengeksplorasi bagaimana pembelajaran tersebut diselaraskan dengan Model SECI untuk mendorong penciptaan dan berbagi pengetahuan secara efektif, serta merumuskan strategi optimalisasi pembelajaran terintegrasi untuk mendukung penciptaan pengetahuan di lingkungan Kementerian Keuangan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan netode campuran dengan desain convergent parallel design, di mana data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan secara bersamaan. Analisis kualitatif dilakukan melalui analisis deskriptif naratif, dan wawancara dengan Pengelola SDM Unit Eselon I. Metode kuantitatif survei berbasis kuesioner skala Likert dan teknik analisis dokumen. Survei disebarkan melalui surat elektronik, media sosial, dan pesan langsung. Sampel responden penelitian ini berjumlah 608 responden, melebihi target sampel yang ditetapkan sebesar 382 responden. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Temuan dari analisis kuantitatif dan kualitatif kemudian diranking oleh narasumber pakar dan dibobotkan menggunakan metode Eckenrode untuk menentukan prioritas strategi optimalisasi penerapan pembelajaran terintegrasi di Kementerian Keuangan.
Penelitian ini menghasilkan enam temuan yang memerlukan perbaikan. Pertama, implementasi mekanisme Proposal Pengembangan Program Pembelajaran Terintegrasi (P4T) belum berjalan konsisten, dengan usulan yang disampaikan secara informal dan kurangnya informasi strategis tentang kebutuhan kompetensi Unit Eselon I. Kedua, kurangnya sosialisasi dan pemahaman tentang KMK 350 Tahun 2022 menghambat pemahaman pegawai mengenai mekanisme pembelajaran terintegrasi. Ketiga, tantangan administratif dan tata kelola yang berat pada Unit Eselon I menghambat pelaksanaan pembelajaran terintegrasi, di mana pelimpahan tanggung jawab penyelenggaraan pembelajaran terintegrasi ke Unit Eselon I belum diikuti pembagian tugas yang proporsional dan dukungan sistem yang memadai. Keempat, metode pembelajaran terintegrasi perlu diperbaiki, terutama dalam meningkatkan interaktivitas dan pengaturan waktu agar lebih fleksibel dan efektif. Kelima, program learning from experience dianggap penting oleh responden, namun memiliki tingkat kinerja yang rendah dalam memfasilitasi akuisisi dan integrasi pengetahuan eksplisit karena keterbatasan akses informasi. Terakhir, program social learning dianggap penting oleh responden, namun memiliki tingkat kinerja yang rendah dalam memfasilitasi akuisisi dan integrasi pengetahuan eksplisit karena kurangnya struktur yang jelas untuk mentransfer pengetahuan tersebut.
Berdasarkan hasil pembobotan menggunakan metode Eckenrode, strategi optimalisasi penerapan pembelajaran terintegrasi di Kementerian Keuangan terdiri dari beberapa langkah prioritas. Strategi pertama adalah efisiensi administrasi dan tata kelola pembelajaran terintegrasi, yang bertujuan untuk menyederhanakan proses administrasi dan pembagian proporsi tugas. Strategi kedua adalah peningkatan metode pembelajaran terintegrasi, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran daring dengan memastikan interaktivitas pembelajaran dan fleksibilitas jadwal dan penugasan peserta pembelajaran. Strategi ketiga sosialisasi dan penguatan pemahaman terhadap KMK 350 Tahun 2022, yang menjadi dasar peraturan pembelajaran terintegrasi dengan metode terstruktur dan sistematis. Strategi keempat adalah optimalisasi program learning from experience, dengan meningkatkan pengelolaan pengetahuan eksplisit untuk mendukung keberhasilan program. Selanjutnya, strategi kelima adalah melibatkan optimalisasi implementasi mekanisme P4T, dengan pendekatan yang lebih proaktif untuk dalam menganalisis kebutuhan kompetensi dan merancang solusi pembelajaran yang tepat. Terakhir, strategi keenam berfokus pada optimalisasi program social learning, dengan melakukan pendekatan yang lebih terstruktur agar pengetahuan eksplisit lebih mudah diintegrasikan ke dalam program.
Collections
- MT - Business [4062]
