Studi Komparasi: Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terintegrasi terhadap Integritas di Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
Date
2025Author
Nurmalasari, Devi
Priyarsono, Dominicus Savio
Sari, Linda Karlina
Metadata
Show full item recordAbstract
Integritas merupakan salah satu core value yang harus dibangun,
dipertahankan, dan dikuatkan secara terus menerus dalam melaksanakan tugas di
pemerintahan. Dalam menegakkan integritas di instansi pemerintah, pada
praktiknya masih banyak ditemui berbagai tantangan di antaranya pelanggaran
etika dan moral, korupsi, dan pelanggaran disiplin. Korupsi telah menjadi salah satu
risiko besar yang memiliki dampak negatif yang sangat signifikan.
Berbagai upaya dilakukan untuk terus meningkatkan integritas di instansi
pemerintah. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah
mengembangkan sistem pengendalian internal terintegrasi untuk diterapkan di
seluruh instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Namun demikian tingkat
korupsi di instansi pemerintah masih tinggi. Hal ini ditunjukkan di antaranya tahun
2021-2023, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia dari Lembaga Transparency
International masih berada pada kelompok highly corupted dan Indeks Integritas
Nasional (Rata-rata indeks integritas instansi pemerintah pusat dan daerah) masuk
kategori rentan korupsi (<72,9). Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi awal
bahwa sistem pengendalian internal terintegrasi yang diterapkan di instansi
pemerintah masih memiliki kelemahan-kelemahan sehingga belum mampu
memberikan dampak terhadap peningkatan integritas dan penurunan korupsi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cluster yang terbentuk
berdasarkan indeks integritas dan sistem pengendalian internal terintegrasi dan
menganalisis komparasi pengaruh perbandingan sistem pengendalian internal
terintegrasi (manajemen risiko, audit internal, sistem pengendalian internal, dan
pengendalian korupsi) terhadap integritas di instansi pemerintah pusat dan daerah.
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan kinerja BPKP dan
situs Jaga.id KPK serta data primer dari wawancara. Metode yang digunakan adalah
analisis clustering menggunakan metode k-means serta analisis pengaruh
menggunakan regresi data panel dan uji korelasi Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil clustering membagi instansi
pemerintah menjadi 3 cluster pada 2022 dan 4 cluster pada 2023, berdasarkan
indeks integritas dan sistem pengendalian internal terintegrasi. Sebagian besar
cluster yang terbentuk memiliki indeks integritas rendah (kategori rentan), dengan
komponen sistem pengendalian internal terintegrasi berada pada level 2 dan 3.
Ditemukan juga anomali, di mana beberapa instansi memiliki indeks integritas
rendah namun sistem pengendalian internal terintegrasi cenderung baik atau
sebaliknya. Temuan lain dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa sistem
pengendalian internal terintegrasi memengaruhi integritas secara berbeda di seluruh
jenjang pemerintahan. Temuan dari dua hasil analisis tersebut mengungkapkan
bahwa sistem pengendalian internal terintegrasi tidak secara otomatis menjamin
terbangunnya integritas dalam organisasi. Efektivitas penerapan sistem
pengendalian internal terintegrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas implementasi,
dukungan budaya organisasi, serta kepemimpinan yang beretika. Di instansi
pemerintah daerah, variabel manajemen risiko, sistem pengendalian internal, dan
pengendalian korupsi berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap
integritas. Namun, variabel audit internal tidak menunjukkan pengaruh yang
signifikan secara statistik. Sebaliknya, di instansi pemerintah pusat, tidak ada satu
pun variabel baik variabel audit internal, manajemen risiko, sistem pengendalian
internal, dan pengendalian korupsi, yang menunjukkan hubungan yang signifikan
secara statistik dengan integritas.
Berdasarkan hasil penelitian ini, direkomendasikan agar instansi pemerintah
daerah meningkatkan kemampuan dan efektivitas fungsi audit internalnya sehingga
audit internal benar-benar dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi dan
memiliki dampak yang berarti pada penguatan integritas. Sementara itu, instansi
pemerintah pusat disarankan untuk meningkatkan efektivitas keseluruhan dari
semua komponen sistem pengendalian internal terintegrasi, tidak hanya
menerapkan sistem tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap peraturan penilaian,
tetapi juga menerapkan sistem secara efektif dan berkualitas untuk mendorong
perbaikan substantif dalam tata kelola dan integritas.
Collections
- MT - Business [4063]
