Pemanfaatan Whatsapp sebagai Media Komunikasi Untuk Meningkatkan Kepatuhan Berobat Pasien TB-RO Komunitas SR STPI Penabulu Banten
Abstract
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang paru-paru namun dapat memengaruhi organ lain. Kasus TB pada tahun 2021 paling banyak muncul di negara Asia Tenggara dengan 45% kasus baru (WHO 2023). Dinas Kesehatan Provinsi Banten pada 2022 menemukan 61 ribu kasus tuberkulosis atau TBC di Banten. Temuan ini mencapai 95 persen dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebanyak 65 ribu. Menurut laporan tuberkulosis di Provinsi Banten terdapat 651 pasien TB-RO (Laporan SITK SR STPI Penabulu Provinsi Banten 2024).
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Pemanfaatan Whatsapp sebagai Media Komunikasi untuk Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis SR STPI Penabulu Banten dengan fokus pada Pasien TB-RO di bawah SR STPI Penabulu Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pedekatan survey. Pengumpulan data menggunakan kuisioner yang disebarkan pada 87 Pasien TB-RO. Analisis data dilakukan menggunakan metode Analisis Regresi Linier Sederhana dan Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian menunjukan Whatsapp terbukti bermanfaat bagi pasien sesuai dengan data yang menunjukan 73,6% responden aktif menggunakan Whatsapp. Aplikasi Whatsapp memudahkan pertukaran informasi secara cepat, fleksibel, real-time, baik dalam bentuk teks, suara, maupun dokumen pendukung. Penggunaan Whatsapp sebagai media komunikasi terbukti efektif dalam meningkatkan kepatuhan berobat pasien TB-RO. Pasien yang mendapatkan pendampingan intensif melalui Whatsapp menunjukan tingkat kepatuhan sebanyak 54,8% terhadap pengobatan TB-RO, dibandingkan dengan kelompok yang hanya tergabung dalam grup Whatsapp dan tidak mendapatkan pendampingan intens di Whatsapp. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari analisis Kruskal-Wallis yang menunjukan perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,05).Faktor pendukung media komunikasi Whatsapp adalah kemudahan akses, kecepatan komununikasi, fleksibelitas waktu, dan tempat. Sementara itu, hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan jaringan yang tidak stabil dan keterbatasan kuota internet.Temuan ini menegaskan bahwa Pemanfaatan Whatsapp sebagai media komunikasi pasien TB-RO dinilai efektif dan memberikan manfaat bagi kepatuhan pengobatan pasien TB-RO di SR STPI Penabulu Banten. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis, which primarily affects the lungs but can also impact other organs. In 2021, TB cases were most prevalent in Southeast Asian countries, accounting for 45% of new cases (WHO, 2023). In 2022, the Banten Provincial Health Office identified 61 thousand tuberculosis cases in Banten, which represents 95 percent of the central government’s target of 65 thousand cases. According to the tuberculosis report in Banten Province, there were 651 TB-RO patients (SITK SR STPI Penabulu Banten Province Report, 2024).
This study aims to examine the utilization of WhatsApp as a communication medium to improve treatment adherence among tuberculosis patients under SR STPI Penabulu Banten, focusing specifically on TB-RO patients. The research employed a quantitative method with a survey approach. Data were collected through questionnaires distributed to 87 TB-RO patients. Data analysis was carried out using Simple Linear Regression and the Kruskal–Wallis test.
The results of the study show that WhatsApp has proven beneficial for patients, as indicated by data showing that 73.6% of respondents actively use WhatsApp. The WhatsApp application facilitates quick, flexible, and real-time information exchange in the form of text, voice messages, and supporting documents. The use of WhatsApp as a communication medium has been proven effective in improving TB-RO patients’ treatment adherence. Patients who received intensive support via WhatsApp demonstrated a treatment adherence rate of 54.8%, compared to those who only joined WhatsApp groups without receiving intensive support. This is supported by the Kruskal–Wallis analysis results, which showed a significant difference between groups (p < 0.05).
The supporting factors for using WhatsApp as a communication medium include ease of access, speed of communication, and flexibility in terms of time and place. Meanwhile, challenges faced include unstable network connections and limited internet data. These findings affirm that utilizing WhatsApp as a communication medium for TB-RO patients is considered effective and provides tangible benefits in improving treatment adherence among TB-RO patients at SR STPI Penabulu Banten.
