Respons Fisiologis Sapi Bali Jantan pada Transportasi Darat Jarak Jauh dan Selama Masa Rekondisi
Abstract
Pemindahan ternak dari daerah produksi ke konsumen sering melibatkan perjalanan jauh yang memengaruhi kondisi fisiologis ternak. Penelitian ini menganalisis respons fisiologis sapi bali jantan pada transportasi darat jarak jauh dan selama masa rekondisi. Sebanyak 19 ekor sapi bali jantan umur I2-I3 (24-36 bulan) dengan bobot rata-rata 315,74±24,60 kg menempuh perjalanan dari Bali ke Bogor. Selama rekondisi, sapi dibagi menjadi tiga perlakuan ransum: P0 (80% rumput, 20% konsentrat), P1 (60% rumput, 20% konsentrat, 20% sorinfer), dan P2 (40% rumput, 20% konsentrat, 40% sorinfer). Peubah fisiologis yang diamati yaitu laju pernapasan, denyut jantung, suhu rektal, dan suhu orbital. Data dianalisis menggunakan uji T dan rancangan petak terbagi. Hasil menunjukkan transportasi jarak jauh menyebabkan stres, ditandai peningkatan nyata (P<0,05) pada semua peubah fisiologis. Pada hari ke-10 rekondisi, sorinfer memberikan pengaruh nyata (P<0,05). Perlakuan P1 menghasilkan denyut jantung tertinggi pada siang hari (73±2,55 kali menit-1) dan suhu rektal tertinggi pada sore hari (39,47±0,17 °C). The transportation of livestock from production areas to consumers often involves long-distance travel, which can affect the animals' physiological condition. This study aimed to analyze the physiological responses bali bull to long-distance road transportation and during the reconditioning period. A total of 19 bali bull aged I2-I3 (24–36 months), with an average body weight of 315,74±24,60 kg, were transported from Bali to Bogor. During reconditioning, the cattle were divided into three dietary treatment groups: P0 (80% grass, 20% concentrate), P1 (60% grass, 20% concentrate, 20% sorinfer), and P2 (40% grass, 20% concentrate, 40% sorinfer). Observed physiological variables included respiratory rate, heart rate, rectal temperature, and orbital temperature. Data were analyzed using a T-test and a split-plot design. The results showed that long-distance transportation caused stress, indicated by a significant increase (P<0,05) in all physiological variables. On the 10th day of reconditioning, sorinfer supplementation had a significant effect (P<0,05). The P1 treatment yielded the highest midday heart rate (73±2,55 bpm) and afternoon rectal temperature (39,47±0,17 °C).
