Peternakan Sapi Perah Berkelanjutan: Identifikasi Jejak Karbon dan Mitigasi Emisi GRK
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jejak karbon dan
menganalisis strategi mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) pada peternakan sapi
perah di KUNAK dan KUD Giri Tani, Jawa Barat. Metode penelitian meliputi
pengumpulan data primer melalui observasi lapangan dan wawancara dengan
peternak, serta data sekunder dari literatur terkait. Analisis emisi GRK dilakukan
menggunakan ALU Tool Software dengan parameter utama meliputi emisi CH4
dari fermentasi enterik dan pengelolaan limbah, serta emisi N2O dari dekomposisi
kotoran ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternakan sapi perah di
KUNAK menghasilkan emisi CH4 enterik sebesar 0,042 GgCH4/tahun dan CH4
manure 0,015 GgCH4/tahun, lebih tinggi dibandingkan Giri Tani (0,0207
GgCH4/tahun dan 0,0052 GgCH4/tahun). Emisi N2O di KUNAK mencapai 454,8
kgCH4/tahun, sedangkan di Giri Tani 223,7 kgCH4/tahun. Tingginya emisi di
KUNAK terutama disebabkan oleh populasi ternak yang lebih besar dan
manajemen limbah yang belum optimal, termasuk pembuangan kotoran langsung
ke lingkungan tanpa pengolahan. This research aims to identify the carbon footprint and analyze greenhouse
gas (GHG) emission mitigation strategies in dairy cattle farms at KUD KUNAK
and KUD Giri Tani, West Java. The research methods include primary data
collection through field observations and interviews with farmers, as well as
secondary data from relevant literature. GHG emission analysis was conducted
using ALU Tool Software with main parameters including CH4 emissions from
enteric fermentation and manure management, as well as N2O emissions from
manure decomposition. The results show that dairy farms in KUNAK produce
enteric CH4 emissions of 0.042 GgCH4/year and manure CH4 emissions of 0.015
GgCH4/year, higher than in Giri Tani (0.0207 GgCH4/year and 0.0052
GgCH4/year). N2O emissions in KUNAK reached 454.8 kgCH4/year, while in Giri
Tani they were 223.7 kgCH4/year. The higher emissions in KUNAK are mainly
caused by a larger cattle population and suboptimal waste management, including
direct disposal of manure into the environment without treatment.
