Kajian Potensi Ekosistem Mangrove Untuk Pengembangan Ekowisata di Bagian Selatan Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat
Date
2025Author
Shabira, Shafa Adelia
Yulianda, Fredinan
Yulianto, Gatot
Metadata
Show full item recordAbstract
Pulau Biawak merupakan salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Indramayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis mangrove. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi ekosistem mangrove serta kesesuaiannya untuk pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan mencakup pengumpulan data primer melalui observasi
lapangan dan wawancara, serta analisis data berupa Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), Daya Dukung Kawasan, dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian selatan Pulau Biawak memiliki enam jenis mangrove, dengan dominasi Rhizophora mucronata, ketebalan vegetasi hingga 129 meter, dan kerapatan mencapai 46 ind/100 m². Kesesuaian kawasan untuk ekowisata tergolong “sesuai” dengan daya dukung 222 orang per hari. Kawasan ini juga memiliki potensi biota yang beragam, termasuk ikan, gastropoda, krustasea, dan reptil (Varanus salvator). Strategi pengembangan difokuskan pada pemanfaatan potensi alam, dukungan pemerintah, dan pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, tantangan seperti minimnya infrastruktur, tumpang tindih kewenangan, dan ketidaksiapan regulasi
masih menjadi hambatan. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan terpadu berbasis konservasi dan pariwisata berkelanjutan untuk optimalisasi fungsi ekologis dan ekonomi kawasan. Biawak Island is one of the marine conservation areas in Indramayu Regency, with high potential to be developed into a mangrove-based ecotourism destination. This study aims to analyze the condition of the mangrove ecosystem and its suitability for ecotourism development. The research methods included field observations, interviews, and data analysis using Tourism Suitability Index (IKW), Carrying Capacity, and SWOT analysis. Results show that the southern part of Biawak Island hosts six mangrove species, dominated by Rhizophora mucronate, with a vegetation thickness up to 129 meters and density reaching 46 ind/100 m². The area is classified as “suitable” for ecotourism with a carrying capacity of 222 visitors per day. The site also supports diverse associated fauna, including fish, gastropods, crustaceans, and reptiles (Varanus salvator). Development strategies emphasize the utilization of natural resources, government support, and community involvement. Nevertheless, challenges such as inadequate infrastructure, overlapping authorities, and lack of regulatory readiness still hinder development. This study recommends integrated management based on conservation and sustainable tourism to optimize the ecological and economic functions of the area.
