Interpretasi Interaksi Genotipe dan Lingkungan dengan Menggunakan Metode Regresi PLS
Abstract
Metode Partial Least Squares (PLS) pada penelitian ini digunakan untuk menginterpretasikan interaksi genotipe-lingkungan dengan menghubungkan pengaruh interaksi genotipe-lingkungan pada peubah-peubah iklim. Prosedur validasi silang menghasilkan 2 faktor penting dengan nilai PRESS sebesar 1.3329 yang dapat menerangkan keragaman pengaruh interaksi genotipe-lingkungan sebesar
52.0663%, sedangkan keragaman X dapat diterangkan sebesar 45.8373. Berdasarkan metode PLS, genotipe-genotipe yang menjadi genotipe harapan yaitu genotipe yang stabil dan berproduksi "tinggi" adalah genotipe S 3383-ID-PN-16-2, 88055 F-KN-6-2, dan varietas Memberamo.
Genotipe yang kurang stabil dapat dialokasikan pada lingkungan yang sesuai sebagai tempat tumbuhnya, dengan memperhatikan peubah lingkungan yang mempengaruhinya. Genotipe S3054-2D-12-2 dalam hal ini dapat dijadikan prioritas utama pada lingkungan Tapanuli Selatan atau yang mempunyai kondisi iklim seperti pada lingkungan Tapanuli Selatan, dengan kondisi iklim yang berperan dalam menentukan hasil padi adalah kelembaban udara rata-rata harian untuk bulan Maret (sebesar 82%) dan kelembaban udara rata-rata harian untuk bulan April (sebesar 84%). Genotipe OBS 576/L dan IR 44962-161-2-4-4-2-MR-6 sesuai dengan lingkungan Ampenan atau yang mempunyai kondisi iklim mirip dengan lingkungan Ampenan; iklim tersebut antara lain adalah suhu maksimum rata-rata harian untuk bulan Maret (33.7°C), suhu maksimum rata-rata harian pada bulan April (33.5°C), kelembaban udara rata-rata harian pada bulan Januari (88%), dan kelembaban udara rata-rata harian pada bulan Pebruari (86%). Lingkungan Madiun adalah lingkungan yang sesuai dengan genotipe OBS 21/Y; dengan peubah iklim yang berpengaruh adalah suhu maksimum rata-rata harian pada bulan Januari (31,7°C), suhu maksimum rata-rata harian bulan Pebruari (32°C), suhu minimum rata-rata harian bulan Januari (24,3°C), suhu minimun rata-rata harian bulan Pebruari (32°C), suhu minimum rata-rata harian bulan bulan Maret (25°C), suhu minimum rata-rata harian bulan April (24°C), serta curah hujan rata-rata harian pada bulan Pebruari (355 min). Genotipe PWL 20-20/12 dan genotipe PWL 20-20/13 dapat direkomendasikan pada lingkungan yang mempunyai kondisi iklim seperi pada lingkungan Kutai dan Bekasi, dengan peubah yang berpengaruh adalah peubah curah hujan rata-rata harian pada bulan Januari (325 mm untuk Kutai dan 492.7 mm untuk Bekasi), curah hujan rata-rata harian bulan Maret (207 mm untuk Kutai dan 83 mm untuk Bekasi), serta curah hujan rata-rata harian pada bulan April (158 mm untuk Kutai dan 70.6 mm untuk Bekasi).
