Pengaruh Bakteri Bintil Akar dan Mikoriza Vesikula Arbuskula terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai di Tanah Masam Berkadar Aluminium Tinggi
View/ Open
Date
2000Author
Windarini, Fan Siska
Lestari, Yulin
Sukarno, Nampiah
Metadata
Show full item recordAbstract
Lahan pertanian dengan kemasaman yang tinggi merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya produksi kedelai di Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penggunaan inokulum BBA dan cendawan MVA sebagai pupuk hayati. Penggunaan inokulum BBA dan cendawan MVA diketahui dapat meningkatkan penyerapan unsur N dan P, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respons pertumbuhan tanaman kedelai yang diinokulasi dengan BBA dan cendawan MVA di tanah masam yang berkadar aluminium tinggi.
Tanaman kedelai kultivar Wilis ditanam pada media tanah yang mempunyai pH 4,7 (rendah) dan jumlah aluminium 19.11 me/100 g (tinggi) dengan pemberian inokulum Brodyrhizobium dan cendawan MVA. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga perlakuan dan empat kali ulangan, Perlakuan pertama terdiri atas dua taraf pemberian BBA, yaitu Bradyrhizobium sp. N 32 (B1) dan Bradyrhizobium japonicum USDA 110 (B2). Perlakuan kedua adalah cendawan MVA dengan dua taraf perlakuan, yaitu G. manihotis (C1) dan A. tuberculata (C2) Perlakuan ketiga adalah masa panen yaitu pada umur 50 dan 85 hari. Parameter yang diamati mencakup persen infeksi, jumlah dan berat kering bintil akar. berat kering tajuk, berat kering akar, berat kering total tanaman, panjang akar serta jumlah dan berat kering polong kedelai.
Hasil pengamatan pada umur 50 hari menunjukkan bahwa pemberian Bradyrhizobium secara nyata mempengaruhi jumlah dan berat kering bintil akar kedelai Jumlah dan berat kering bintil akar tertinggi pada umur 50 hari dihasilkan oleh Bradyrhizobium japonicum USDA 110 yaitu sebanyak 7,8 buah dengan berat sebesar 2,52 mg.
Pemberian inokulum cendawan MVA secara individu mempengaruhi besarnya total panjang akar, jumlah dan berat kering polong kedelai. Pada umur 50 hari persen infeksi cendawan MVA tertinggi diperoleh dari inokulasi dengan G manihotis yaitu sebesar 63,4%. Total panjang akar tertinggi ditunjukkan oleh tanaman kedelai yang diinokulasi dengan G. manihotis dengan nilai 23,6 m per pot Panjang akar tanaman pada semua perlakuan secara nyata menurun pada umur 85 hari. Sedangkan jumlah dan berat kering polong kedelai tertinggi dihasilkan oleh tanaman yang diinokulasi dengan A. tuberculata yaitu sebesar 8.0 buah dengan berat 0,81 g per pot (dua tanaman).
Interaksi antara inokulum Bradyrhizobium dan cendawan MVA secara nyata dapat meningkatkan berat kering tajuk, berat kering akar dan berat kering total tanaman kedelai. Kombinasi perlakuan yang memperlihatkan hasil pertumbuhan yang terbaik adalah Bradyrhizobium sp. N 32. dengan A tuberculata yang menghasilkan berat kering total tanaman sebesar 2,04 g per pot.
Collections
- UT - Biology [2401]
