Kajian Empiris Capm: Harga Saham, Beta, dan Return Di Bursa Efek Indonesia
View/ Open
Date
2012Author
Natalia, Daisy
Achsani, Noer Azam
Andati, Trias
Metadata
Show full item recordAbstract
Investor hanya dapat memperkirakan berapa tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return) dan seberapa jauh kemungkinan risiko yang akan dihadapi untuk memaksimalkan kesejahteraan yang diperoleh Risiko terdiri atas dua jenis yaitu risiko sistematis dan tak sistematis. Kedua risiko tersebut dapat dijelaskan oleh beta Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang ditemukan oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin (1966). CAPM adalah sebuah model yang menyatakan hubungan antara expected return pada aset tertentu dengan risikonya. CAPM sering digunakan karena membantu investor memahanu permasalahan kompleks dalam gambaran yang lebih sederhana. Namun, masih terjadi perdebatan mengenai kelaikan CAPM dalam memprediksi expected return pada pasar sebenamya. Landasan perdebatan tersebut yang mendasari dilakukannya penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku return dan varian saham emiten-emiten selama di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta mengestimasi nilai expected return dengan menggunakan CAPM terhadap nilai return sesungguhnya (actual return) pada kurun waktu 2005-2010. Sampel yang digunakan adalah harga saham mingguan 274 sampel emiten yang terdaftar di BEI pada tahun 2005-2010. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah model CAPM, grafik SML, dan uji statistik. Proxy CAPM yang digunakan adalah suku bunga SBI dan IHSG (pasar). Ujis statistik yang digunakan adalah uji statistika deskriptif, uji normalitas One Sample Kolmogorov Smirnov, dan uji dua sample berpasangan (Wilcoxon Sign Rank Test dan T-test).
Emiten-emiten saham di BEI dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan sektor kategori industri dan kepemilikannya. Saham sektoral dibagi menjadi sembilan kelompok yaitu sektor pertanian, sektor bahan tambang, sektor industri dasar dan bahan kimia, sektor aneka industri, sektor hasil industri untuk konsumsi, sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan, sektor transportasi, infrastruktur, dan utilities, sektor keuangan, serta sektor perdagangan, jasa, dan investasi. Berdasarkan kepemilikannya, emiten-emiten di BEI dikategorikan menjadi saham BUMN (10 emiten) dan Non BUMN (264 emiten). Selain itu, penelitian ini juga menjabarkan perilaku saham LQ 45 yang terdiri atas 21 emiten.
Pergerakan saham emiten-emiten BEI dapat diamati melalui nilai return dan risiko yang dicapai. Mayoritas emiten BEI mengalami peningkatan return dari tahun 2005 hingga 2007 (puncak iklim investasi). Return saham emiten-emiten BEI mengalami penurunan pada talnın 2008 hingga memperoleh return negatif. Selanjutnya pada masa pasca krisis, nilai return kembali meningkat sepanjang tahun 2009 dan 2010.
Berdasarkan perilaku saham dari nilai return dan risiko, saham BUMN
merupakan saham yang paling optimal karena memiliki return yang tinggi dan
rendah risiko. Keenam saham BUMN (BBRI, BBNI, BMRI, PGAS, PTBA, dan
TINS) memiliki beta agresif (β>1) yang nilai perilakunya dapat diamati dari
perilaku pasar. Nilai beta akan mempengaruhi nilai prediksi expected return
CAPM. Semakin besar nilai beta maka semakin besar pula prediksi expected
return CAPM.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa CAPM tidak dapat digunakan
untuk memprediksi nilai expected return karena ketidakkonsistenan hasil dan
jumlah prediksi emiten yang berhasil dikalkulasi tidak dapat mewakili jika
dibandingkan dengan populasi sampel. Hasil ini diperoleh dari penelaahan saham
sektoral, LQ 45, maupun BUMN dan Non BUMN, hanya sedikit sekali emiten
yang memiliki nilai return yang dapat diprediksikan oleh CAPM. Emiten yang
memiliki nilai fair value hanya tiga emiten yaitu INTP (2006), LMPI (2007), dan
PJAA (2007). Ketiga emiten tersebut tidak secara konsisten terprediksi selama
periode 2005-2010.
Selanjutnya emiten-emiten yang memiliki actual return mendekati prediksi
CAPM return antara lain: DSFI dan HMSP (sektor pertanian), PTBA (sektor
bahan tambang), INTP (sektor industri dasar dan bahan kimia), ADMG, KBLM,
BIMA (sektor aneka industri), INDF (sektor hasil industri untuk konsumsi),
RBMS (sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan), TLKM dan ZBRA
(sektor transportasi, infrastruktur, dan utilities), BBCA (sektor keuangan), dan
SONA (sektor perdagangan, jasa, dan investasi). Semua emiten yang disebutkan
berhasil diprediksi minimal 3 kali dalam periode 2005-2010 dan nilai prediksi
CAPM retun pun berstatus undervalued dan overvalued.
Emiten-emiten BUMN yang dapat diprediksi oleh CAPM adalah PGAS,
TLKM, dan BBRI. Semua emiten yang dapat diprediksi oleh CAPM tersebut
tidak berhasil diprediksi dalam setiap tahun pada periode 2005-2010 begitu pula
dengan prediksi return emiten saham Non BUMN yang memiliki prediksi yang
berbeda setiap tahun. Untuk kategori saham LQ 45 hanya emiten BBCA yang
memiliki prediksi return CAPM terdekat dengan actual return sepanjang periode
2005-2010.
Kondisi pasar pun tidak dapat diestimasi dari prediksi CAPM karena selama
periode 2005-2010 mayoritas prediksi CAPM return berstatus undervalued.
Idealnya apabila mayoritas emiten memiliki status CAPM undervalued maka
kondisi pasar sedang bullish tetapi jika mayoritas CAPM memiliki status
overvalued maka kondisi pasar sedang dalam keadaan bearish. Apabila status
CAPM lebih jelas maka keputusan investasi dapat dipertimbangkan lebih lanjut
dengan mengestimasi beta sahamnya.
Mayoritas emiten memiliki prediksi CAPM return yang undervalued dan
beta defensif. Uji statistik membuktikan bahwa nilai prediksi expected return
CAPM secara signifikan berbeda nyata dengan actual return (p<0,05). Temuan
ini sesuai dengan hasil penelitian Amihud et al. (1992), Fama dan French (2004),
Michailidis et al. (2006), Choudhary dan Choudhary (2010), Febrian dan
Herwany (2010), serta Ushad (2011). Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa
CAPM bukan merupakan prediktor yang tepat dalam memprediksi nilai return
saham di Indonesia.
Collections
- MT - Business [4062]
