Kebutuhan Pelatihan Penyuluh Pertanian Berbasis Kompetensi Dalam Rangka Meningkatkan Kerja Pada Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi
View/ Open
Date
2012Author
Liani, Dessy
Mangkuprawira, Sjafri
Moelyadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Adanya tuntutan gencar dari masyarakat untuk penyelenggaraan
pemerintahan yang baik sejalan dengan meningkatnya tingkat pengetahuan
masyarakat maka diperlukan suatu pembenahan dan peningkatan kinerja manajemen
termasuk manajemen sumber daya manusia pertanian khususnya Penyuluh Pertanian
salah satunya dengan Program Revitalisasi Penyuluhan. Untuk melaksanakan
program tersebut Pemerintah Kabupaten Sarolangun masih dihadapkan pada
beberapa permasalahan antara lain ketiadaan Penyuluh Perikanan dan Kehutanan,
sehingga tugas dan tanggung jawab penyuluhan dibebankan pada penyuluh yang ada
yaitu Penyuluh Pertanian. Kondisi Penyuluh Pertanian yang ada juga banyak yang
cenderung merasa jenuh berada pada jabatan fungsional dan pindah pada jabatan
struktural sehingga jumlah penyuluh berkurang dan beban kerja bertambah. Salah
satu usaha peningkatan kualitas Penyuluh Pertanian adalah melalui pelatihan.
Dengan adanya pelatihan maka penyuluh akan mampu mengatasi kesenjangan antara
kemampuan kerja yang harus dimiliki Penyuluh Pertanian dengan kemampuan kerja
yang diharapkan oleh pemerintah.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi Penyuluh
Pertanian tentang pelatihan yang pernah diikuti yang dilihat dari manajemen
pelatihan yang terdapat pada Badan Pelaksana Penyuluhan Kab. Sarolangun,
mengidentifikasi persepsi Penyuluh Pertanian tentang kinerja dilihat dari
Kemampuan Kerja Jabatan (KKJ) dan Kemampuan Kerja Pribadi (KKP) pada Badan
Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, menganalisa
tingkat kebutuhan pelatihan Penyuluh Pertanian yang akan diadakan dan jenis
pelatihan yang perlu dilakukan berdasarkan analisis KKJ dan KKP pada Badan
Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kab. Sarolangun Prov. Jambi, dan memberikan
rekomendasi pada bagian SDM Penyuluh sebagai unit pengembangan sumber daya
manusia.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2012 terhadap
Penyuluh Pertanian di Kabupaten Sarolangun. Metode yang digunakan adalah
metode survey terhadap Penyuluh Pertanian Kabupaten Sarolangun dengan
carapurposive sampling dengan syarat Penyuluh PNS, memiliki jabatan fungsional,
dan aktif melakukan penyuluhan sehingga didapat 48 sampel. Penelitian
menggunakan Teknik Rentang Kriteria untuk mengukur persepsi Penyuluh Pertanian
terhadap pelatihan dan kinerja, Training Need Assessment Tools untuk mengetahui
kebutuhan pelatihan untuk Penyuluh Pertanian, dan T Test untuk mengetahui
perbedaan nilai KKJ dan KKP Penyuluh Pertanian.
Analisis persepsi terhadap pelatihan yang pernah diselenggarakan oleh Badan
Pelaksana Penyuluhan Kab. Sarolangun mendapatkan hasil Penyuluh Pertanian Ahli
Muda, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama, Penyuluh Pertanian Terampil Penyelia,
Penyuluh Pertanian Terampil Pelaksana Lanjutan, dan Penyuluh Pertanian Terampil
Pelaksana tentang Pelatihan yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Penyuluhan
Kab. Sarolangun masing- masing mendapat skor 3.37, 3.37, 3.36, 3.24, dan 3.30, dimana persepsi seluruh tingkatan Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Cukup
Puas dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Penyuluhan Kab.
Sarolangun Prov. Jambi. Sedangkan Persepsi terhadap Kinerja untuk Penyuluh
Pertanian Ahli Muda, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama dan Penyuluh Pertanian
Terampil Penyelia adalah Tinggi dengan skor masing masing adalah 3,50, sedangkan
Penyuluh Pertanian Terampil Pelaksana Lanjutan dan Penyuluh Pertanian Terampil
Pelaksana mendapat skor masing- masing 3,30 dan 3,10 dengan posisi ketiga yaitu
Cukup Tinggi.
Pada analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan terhadap 5 (lima) jabatan
fungsional Penyuluh Pertanian pada Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten
Sarolangun Provinsi Jambi, dari 42 (empat puluh dua) deskripsi pekerjaan tidak
satupun deskripsi pekerjaan yang berada pada daerah D yang membutuhkan
pengembangan karir, 23 deskripsi pekerjaan yang berada pada daerah C yang tidak
memerlukan pelatihan karena telah mencukupi persyaratan, 19 deskripsi
pekerjaan yang berada pada bidang B yang membutuhkan pelatihan tapi tidak
mendesak, serta tidak satupun yang berada pada bidang A yang membutuhkan
pelatihan dalam waktu mendesak.
Hasil analisis kebutuhan pelatihan menunjukkan bahwa seluruh tingkatan
Penyuluh Pertanian masih memerlukan pelatihan untuk memenuhi standar kinerja
yang sesuai dengan kinerja Badan Pelaksana Penyuluhan Kab. Sarolangun namun
pelatihan tidak bersifat mendesak. Pelatihan yang diperlukan meliputi pelatihan
teknis penyuluhan, pelatihan manajemen, dan pelatihan agribisnis. Penyuluh
Pertanian Ahli Muda, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama, dan PenyuluhPertanian
Terampil Penyelia membutuhkan Pelatihan Manajemen dan Pelatihan Teknis
Penyuluhan, Penyuluh Pertanian Terampil Pelaksana Penyuluh Pertanian dan
Penyuluh Pertanian Terampil Pelaksana memerlukan pelatihan agribisnis dan
Pelatihan Teknis Penyuluhan.
Collections
- MT - Business [4063]
