Analisis Rantai Nilai Produk Olahan Buah Manggis
View/ Open
Date
2012Author
Narakusuma, Mochamad Aji
Fauzi, Anas Miftah
Firdaus, Muhammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Visi pengembangan pertanian masa depan adalah kebijakan pembangunan nasional yang ditempatkan dalam tatanan strategi pemberdayaan masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, maka pembangunan pertanian saat ini adalah dengan meletakkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan. Sehingga diharapkan ke depan dapat tercipta suatu inovasi yang dapat dikembangkan dan diusahakan oleh masyarakat dalam menciptakan nilai tambah pada produk pertanian guna memperoleh daya saing. Peluang untuk memajukan ekonomi yang berbasis kerakyatan tersebut didukung oleh negara Indonesia yang memiliki keragaman hayati yang melimpah. Buah manggis adalah salah satu komoditas hortikultura yang berpeluang untuk dikembangkan dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Buah manggis mengandung senyawa xanthone yang dikenal sebagai super antioksidan. Dari segi kualitas, manggis Indonesia masih tergolong rendah. Dari total produksi manggis hanya sekitar 10 persen saja yang layak diekspor ke luar negeri.
Masih adanya kendala dalam produk olahan manggis mulai dari tingkat petani sampai perusahaan pengolahan membuat rantai nilai produk olahan manggis belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari masih terbatasnya produk olahan manggis yang berada di pasaran dalam negeri saat ini. Kendala masing-masing aktor dalam rantai nilai harus dapat diidentifikasi untuk membuat strategi dalam meningkatkan rantai nilai produk olahan manggis. Selain itu, masih adanya kesenjangan mengapa petani manggis hingga kini belum melakukan penerapan nilai tambah pada buah manggis masih belum diketahui. Penerapan nilai tambah pada buah manggis diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani manggis. Peran stake holder terkait produk olahan buah manggis juga diharapkan dapat membantu mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan: (1) memetakan, menganalisis permasalahan, dan merumuskan solusi dalam mengatasi permasalahan rantai nilai produk olahan manggis; (2) melakukan estimasi nilai tambah produk olahan manggis yang sudah dikembangkan oleh Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan); (3) mengidentifikasi kriteria dominan yang menjadi kesenjangan terkait nilai tambah produk olahan manggis di tingkat petani; (4) menentukan prioritas produk olahan manggis yang dapat dikembangkan di tingkat petani. Penelitian ini dibatasi pada analisis rantai nilai produk olahan manggis yang meliputi PT. Inti Kiat Alam (PT. IKA), BBP Mektan, dan petani manggis. Analisis nilai tambah produk manggis yang dihitung adalah produk yang dibuat oleh BBP Mektan. Nilai tambah produk yang dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada produk olahan manggis berupa kapsul herbal KBM, tepung kulit, koktail, dan dodol ketan biji manggis. Analisis kesenjangan di tingkat petani manggis, dilakukan di Kabupaten Purwakarta yang meliputi petani manggis di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kiara Pedes dan Kecamatan Wanayasa.
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Kegiatan observasi dan
survei antara lain dengan meninjau dan mengumpulkan informasi dari aktivitas
jaringan rantai nilai produk olahan manggis dan penentuan aktor-aktor yang
terlibat dalam rantai nilai tersebut. Analisis rantai nilai produk olahan manggis
menggunakan metode survei dan wawancara mendalam. Analisis nilai tambah
produk olahan manggis di BBP Mektan digunakan metode nilai tambah Hayami
et al (1987). Kriteria yang menjadi kesenjangan dalam penerapan nilai tambah
produk olahan manggis di tingkat petani melalui wawancara mendalam dengan
bantuan kuesioner. Skala pengukuran yang digunakan dalam analisis deskriptif ini
adalah skala interval empat. Penentuan prioritas produk olahan yang dapat
diterapkan di tingkat petani dengan wawancara kepada pakar yaitu dengan
menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE).
Dari pemetaan rantai nilai produk olahan manggis, terdapat enam aktor
yang berperan, terdiri dari petani, pedagang pengumpul, pemasok, BBP Mektan,
perusahan pengolahan manggis (PT. IKA), dan pemerintah daerah. Peran dari
keenam aktor tersebut berbeda-beda sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Tiap pelaku memiliki fungsi dan peran tersendiri dalam menciptakan rantai nilai
produk olahan manggis. Adanya permasalahan dari salah satu aktor dapat
berimbas pada aktor lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kendala utama yang dihadapi PT. IKA adalah kesulitan dalam
mendapatkan buah manggis grade A sebagai bahan baku utama karena harus
berkompetisi dengan eksportir, baik eksportir legal maupun ilegal. Dalam hal ini
peran pemerintah daerah sebagai pemangku kebijakan dan hukum diperlukan
untuk membuat peraturan yang jelas dari pemerintah mengenai perdagangan
manggis di tingkat daerah. PT. IKA perlu mempertimbangkan terobosan yang
sudah dilakukan oleh BBP Mektan dengan memanfaatkan manggis grade B yang
kemudian disortir kembali untuk menghindari getah kuning dan kulit yang sudah
membatu sebagai alternatif bahan baku.
Hasil analisis nilai tambah produk olahan manggis di BBP Mektan, kapsul
herbal kulit sebesar Rp153.723,- Kg manggis, dodol biji sebesar Rp72.500,- per
Kg manggis, tepung kulit sebesar Rp56.144,- per Kg manggis dan koktail buah
manggis sebesar Rp18.043,- per Kg manggis. Dari analisis MPE produk yang
menjadi prioritas dengan nilai tertinggi dan berpotensi untuk diterapkan di tingkat
petani yaitu tepung kulit manggis, disebabkan kondisi bahan baku yang
melimpah, nilai tambah yang besar, kesederhanaan adopsi teknologi, dan potensi
pasar yang luas.
Usaha pengembangan nilai tambah yang sudah dilakukan BBP Mektan
dan pemerintah daerah di tingkat petani Kabupaten Purwakarta belum optimal.
Kendala utama terdapat pada keterbatasan mesin yang dimiliki BBP Mektan dan
belum meratanya informasi nilai tambah di tingkat petani. Peminjaman mesin
pengolahan BBP Mektan perlu dilakukan secara bergiliran di antara gapoktan dan
penyisipan materi penerapan nilai tambah melalui sekolah lapang dapat menjadi
solusi pemerataan informasi nilai tambah manggis di tingkat petani.
Kepastian pasar produk olahan adalah kriteria utama yang menghambat
penerapan nilai tambah di tingkat petani dengan kesenjangan sebesar 67,87%.
Diperlukan akses pasar produk olahan manggis dari petani. Pemerintah daerah
perlu menjembatani kerjasama antara petani kepada perusahaan pengolahan
manggis. Kerjasama tersebut dapat berupa usaha kemitraan saling menguntungkan yang dibangun antara petani dan pengusaha. Kemitraan yang dapat dikembangkan
kedepan antara petani dan pengusaha pengolahan manggis adalah petani dapat
berperan sebagai penghasil simplisia kulit manggis dalam bentuk rajangan atau
tepung, yang kemudian dijual kepada perusahaan pengolahan atau eksportir.
Dengan cara tersebut diharapkan dapat menciptakan suatu bisnis produk olahan
manggis yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap pendapatan petani.
Collections
- MT - Business [4063]
