Analisis Strategi Pengembangan Kampoeng Wisata Cinangneng Bogor
View/ Open
Date
2012Author
Heryeni, Inung
Fauzi, Anas M.
Purwadaria, Hadi K.
Metadata
Show full item recordAbstract
Kecenderungan meningkatnya pariwisata baik lingkup nasional maupun internasional direspon secara positif oleh bukan hanya sektor pariwisata itu sendiri tapi juga sektor lain yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan pariwisata. Pertumbuhan sektor pariwisata berdampak meningkatnya sektor ekonomi, perdagangan, perbaikan sarana prasarana jalan, transportasi dan komunikasi, penyerapan tenaga kerja.
Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, ekologi dan budaya yang berkelanjutan menjadi program pariwisata nasional serta daerah. Pemerintah Kabupaten Bogor Jawa Barat yang wilayah administrasinya mempunyai banyak potensi ekowisata dan budaya mencanangkan visi untuk menjadi destinasi pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan. Salah satu obyek wisata ekologi, budaya dan edukasi di Kabupaten Bogor adalah Kampoeng Wisata Cinangneng (KWC), yang mempunyai paket program wisata desa. Visi KWC untuk menjadi pusat edukasi, pertunjukan budaya dan tradisi Sunda, membuat KWC harus mengukur kemampuan dan merencanakan pengembangan KWC. Pengembangan KWC terkait dengan rantai nilai wisata KWC bukan hal yang mudah untuk dilakukan
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana menentukan strategi pengembangan Kampoeng Wisata Cinangneng agar menjadi tempat wisata yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) melakukan analisis kondisi rantai nilai KWC, 2) merumuskan alternatif strategi yang mungkin dapat digunakan untuk pengembangan KWC agar tercapai visi KWC, 3) memilih strategi untuk mengembangkan rantai nilai KWC. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-September 2011, dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan survei, wawancara, observasi. Pemilihan reponden dengan metode purposive judgement sampling.
Kerangka pemikiran penelitian ini adalah merumuskan strategi pengembangan Kampoeng Wisata Cinangneng melalui tahapan pemetaan rantai nilai wisata KWC, identifikasi potensi dan kelemahan rantai nilai, analisis faktor internal dan eksternal KWC, analisis SWOT dan analisis AHP.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai wisata pada KWC terdiri dari 1) Agen Perjalanan dan Transportasi, 2) Kampoeng Wisata Cinangneng (meliputi rantai Makanan Minuman, Penginapan, Souvenir, Atraksi/Kegiatan), 3) Masyarakat Cinangneng. Analisis rantai nilai berdasarkan nilai tambah yang terjadi di tiap rantai pada paket wisata Poelang Kampoeng KWC menunjukkan bahwa nilai tambah pada rantai makanan minuman persentasenya adalah 2,58% dari nilai inputnya, rantai souvenir pada tingkat pemasok 1,14% dan pada KWC 1,22%, sedangkan rantai atraksi nilai tambahnya 1,90%. Kontribusi terbesar dari nilai tambah ternyata diperoleh dari rantai makanan minuman, karena dengan pengeluaran yang relatif kecil untuk pengadaan dan pengolahan makanan minuman, mampu memberikan margin keuntungan yang relatif besar. Sedangkan rantai souvenir masih memberikan kontribusi relatif kecil.
Hasil identifikasi potensi dan kelemahan menggunakan matriks IFE dan EFE
memperlihatkan kenyataan bahwa faktor daya tarik program wisata desa dan SDM
masyarakat setempat adalah kekuatan internal Kampoeng Wisata Cinangneng.
Kelemahan internal terletak pada Ketrampilan bahasa asing SDM dan kurangnya
Inovasi program wisata. Potensi dari faktor eksternal yang berupa peluang adalah
faktor Keterlibatan masyarakat dan Potensi yang ada pada masyarakat, sementara
ancamannya berupa faktor Akses masuk menuju lokasi yang sempit dan sulit serta
Munculnya pesaing. Skor matriks IFE sebesar 2,72 menunjukkan bahwa KWC
secara internal relatif kuat dengan nilai diatas rata-rata. Nilai 3,30 pada matriks
EFE menyatakan bahwa kemampuan merespon peluang dan mengantisipasi
ancaman oleh KWC diatas rata-rata. Pemetaan hasil skor IFE dan EFE
menempatkan posisi KWC pada matriks IE di kuadran II yang memberikan jenis
strategi untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja bagi KWC.
Hasil analisis matriks SWOT yang mengacu pada hasil matriks
IEmenghasilkan empat alternatif strategi yaitu 1) Strategi S-O menciptakan
inovasi program wisata dengan menggali potensi ekonomi, tradisi, budaya dengan
memperbesar keterlibatan masyarakat, agar tetap menjadi pemimpin pasar wisata
desa, 2) Strategi W-O penambahan guest house dan perluasan lokasi kegiatan
dengan melibatkan masyarakat untuk menghasilkan paket wisata baru, 3) Strategi
S-T menyediakan angkutan khusus pengunjung dan bekerjasama dengan pesaing
untuk menjaga kenyamanan bersama, 4) Strategi W-T meningkatkan kemampuan
dan ketrampilan SDM untuk menghadapi persaingan.
Analisis hasil pengolahan AHP menunjukkan bahwa prioritas dari faktor
yang paling dominan dalam keberlanjutan bisnis KWC adalah pertama faktor Daya
tarik program wisata dengan bobot 0,526, kedua Ketrampilan SDM bobot 0,251,
ketiga Keterlibatan masyarakat bobot 0,117, keempat Keterbatasan lahan lokasi
pada bobot 0,067, dan prioritas terakhir Akses masuk KWC dengan bobot 0,040.
Aktor yang menempati prioritas tertinggi adalah pertama Kampoeng Wisata
Cinangneng pada bobot 0,560, kedua masyarakat Cinangneng dengan bobot 0,332
dan yang ketiga agen perjalanan pada bobot 0,108. Sedangkan alternatif strategi
yang berada pada urutan prioritas tertinggi adalah strategi Menciptakan inovasi
program wisata dengan menggali potensi ekonomi, tradisi, budaya dengan
memperbesar keterlibatan masyarakat, agar tetap menjadi pemimpin pasar wisata
desa dengan bobot 0,573, kedua Penambahan guest house dan perluasan lokasi
kegiatan dengan melibatkan masyarakat untuk menghasilkan paket wisata baru
bobot 0,261, prioritas ketiga Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan SDM
untuk menghadapi persaingan dengan bobot 0,109 dan terakhir Menyediakan
angkutan khusus pengunjung dan bekerjasama dengan pesaing untuk menjaga
kenyamanan bersama bobot 0,057. Aktor KWC dianggap lebih dapat berperan
dalam pengembangan rantai nilai KWC karena lebih mempunyai sumber daya,
pengalaman dan jaringan dalam ekowisata.
Pemilihan prioritas strategi melalui AHP membawa implikasi manajerial
yang dijabarkan dalam langkah-langkah yaitu mengadakan program pertunjukan
seni angklung dan lagu Sunda, kendaraan wisata, kenduri, homestay, pasar
tradisional dadakan. Semua inovasi program tersebut melibatkan masyarakat
Cinangneng dengan pihak KWC sebagai pelaksana dan pengatur program, dengan
didasarkan pada tradisi dan budaya yang ada, serta mengangkat potensi ekonomi
masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan bahwa pelaksanaan implikasi
manajerial dalam pengembangan Kampoeng Wisata Cinangneng (KWC)
sebaiknya melibatkan pihak ketiga baik dari instansi pemerintah, swasta, lembaga
swadaya masyarakat, lembaga pendidikan untuk bertindak sebagai fasilitator.
Strategi pengembangan KWC diharapkan dapat digunakan untuk mencapai visi
KWC untuk menjadi pusat budaya Sunda di Bogor.
Collections
- MT - Business [4062]
