Analisis Strategi Pengembangan Usaha Warung Tenda Pecel Lele Di Kota Bogor
Abstract
Usaha mikro merupakan bagian dari sektor UMKM yang terbukti mampu tahan terhadap adanya krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia dan memberikan kontribusi terhadap PDB Indonesia yang mencapai Rp. 1.761 triliun pada tahun 2009, serta mampu menciptakan lebih dari 52 juta unit usaha dengan tenaga kerja yang diserap mencapai 90 juta orang. Hal tersebut membuktikan bahwa usaha mikro mampu berperan aktif di dalam pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan penciptaan lapangan kerja.
Sejalan dengan kewajiban yang diamanahkan oleh pemerintah terhadap daerah-daerah di Indonesia untuk ikut berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan penciptan lapangan kerja, maka salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah Kota Bogor adalah dengan meningkatkan kinerja dari usaha mikro yang ada di Kota Bogor secara kualitas maupun kuantitas melalui peran Kantor Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KKUMKM) Kota Bogor.
Salah satu usaha mikro di Kota Bogor yang berada di bawah pembinaan KKUMKM adalah usaha warung tenda pecel lele. Usaha ini memiliki omset per hari yang relatif besar mencapai Rp. 100.000-400.000 ketimbang usaha mikro warung tenda sejenis lainnya, seperti soto mie dan bubur ayam. Omset harian yang besar tersebut, memungkinkan usaha ini dijadikan sebagai potensi pendapatan daerah Kota Bogor dan sebagai penggerak ekonomi rakyat lainnya di Kota Bogor. Selain itu, usaha warung tenda pecel lele memungkinkan terbukanya pasar produk olahan ikan berbasis lele, seperti abon lele, sosis lele, nugget lele dan produk olahan ikan lele lainnya.
Tantangan yang dihadapi saat ini dan perlu disikapi dalam pengembangan usaha warung tenda pecel lele oleh KKUMKM diantaranya terkait tata letak usaha yang masih tidak beraturan, konsumsi ikan masyarakat yang relatif masih rendah, hingga masalah permodalan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah: (1) menganalisis faktor internal-eksternal apa saja yang mempengaruhi pengembangan usaha warung tenda pecel lele di Kota Bogor; (2) menentukan alternatif strategi pengembangan usaha warung tenda pecel lele di Kota Bogor; (3) menentukan prioritas strategi pengembangan usaha warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Pihak internal dalam penelitian ini adalah KKUMKM sebagai pihak yang berwenang melakukan pengembangan usaha warung tenda pecel lele yang ada di Kota Bogor. Sementara itu, pihak eksternal penelitian ini meliputi konsumen, pedagang dan pihak-pihak di luar KKUMKM.
Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor dan KKUMKM Kota Bogor pada bulan Januari-Juni 2011. Metode penelitian deskriptif dan survey digunakan untuk memperoleh gambaran, penjelasan, dan kondisi yang berkaitan dengan objek penelitian. Data primer diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan observasi. Data sekunder diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), P2HP KKP dan internet.
Pengambilan contoh konsumen dilakukan dengan menggunakan metode
non probability sampling yaitu dengan teknik convenience sampling, dengan
kriteria konsumen yaitu konsumen pernah membeli produk diwarung tenda pecel
lele minimal satu kali (1x) dalam satu bulan. Jumlah responden konsumen yang
diambil sebagai contoh sebanyak 100 responden konsumen. Pengambilan contoh
pedagang warung tenda pecel lele dilakukan menggunakan metode probability
sampling yaitu dengan teknik Simple random sampling. Jumlah pedagang yang
diambil sebagai contoh sebanyak 60 pedagang dari populasi 148 pedagang
warung tenda pecel lele yang ada di Kota Bogor. Pengambilan contoh pedagang
tersebut dilakukan secara acak dan penentuan responden pedagang yang diambil
adalah dengan hasil pengocokan seperti yang dilakukan pada arisan keluarga.
Pengambilan contoh pakar dilakukan dengan metode non probability sampling
yaitu dengan teknik purposive sampling (judgment sampling). Metode ini didasari
atas informasi dan pemahaman yang baik terhadap pengembangan warung tenda
pecel lele yang dimiliki oleh pakar. Responden yang dipilih yaitu 3 orang dari
internal KKUMKM dan 4 orang dari eksternal KKUMKM (asosiasi pedagang
warung tenda pecel lele, tim evaluasi catfish Indonesia, dan praktisi UMKM).
Data yang ada dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis validitas
dan reabilitas, analisis Tingkat Kepentingan (Importance Performance Analisis,
IPA), analisis faktor internal (Internal Factor Evaluation, IFE) dan eksternal
(Eksternal Factor Evaluation, EFE), Matriks Strenghts, Weaknesses,
Opportunities, dan Threats (SWOT), dan Quantitative Strategic Planning Matriks
(QSPM) untuk menentukan strategi prioritas.
Gambaran umum lokasi penelitian yaitu Kota Bogor secara geografis
terletak pada 106°48’ Bujur Timur dan 6° 36’ Lintang Selatan dengan jarak ± 56
km dari Ibu Kota Jakarta, dan jumlah penduduk sebanyak 949.066 jiwa.
Mayoritas penduduk bermata pencarian di sektor perdagangan. Kota Bogor terdiri
dari 6 Kecamatan. KKUMKM Kota Bogor dibentuk berdasarkan Peraturan
Daerah Kota Bogor Nomor 03 Tahun 2010 dan Peraturan Walikota Bogor Nomor
10 Tahun 2010. Struktur KKUMKM terdiri dari Kepala Kantor, Sub Bagian Tata
Usaha, Seksi Bina Lembaga dan Usaha Koperasi, Seksi Bina UMKM dan PKL,
serta Seksi Fasilitasi Permodalan Koperasi dan UMKM.
Strategi yang dilakukan oleh KKUMKM terhadap keberadaan warung
tenda pecel lele di Kota Bogor saat ini masih terbatas pada pembinaan UMKM
secara menyeluruh dan belum secara khusus terfokus kepada pengembangan
usaha warung tenda pecel lele. Berdasarkan Importance and Performance
Analysis Konsumen (matriks tingkat kepentingan untuk konsumen) dari 10 faktor
IPA konsumen dipilih hanya 3 faktor sebagai input bagi tahap identifikasi faktor
strategis internal dan eksternal pengembangan usaha warung tenda pecel lele di
Kota Bogor yaitu faktor adanya edukasi gerakan makan ikan oleh pemerintah
daerah (k8) yang dimasukkan ke dalam faktor strategis internal kelemahan
KKUMKM, harga produk yang terjangkau (k3) dan produk olahan berbasis lele
(k7) yang dimasukkan ke dalam faktor strategis eksternal peluang. Berdasarkan
matriks Importance and Performance Analysis Pedagang (matriks tingkat
kepentingan untuk pedagang) dari 10 faktor IPA pedagang dipilih hanya 2 faktor
sebagai input bagi tahap identifikasi faktor strategis internal dan eksternal
pengembangan usaha warung tenda pecel lele di Kota Bogor yaitu faktor pelatihan
manajemen usaha kecil bagi pedagang pecel lele (p10) dan kemudahan mengakses modal ke lembaga keuangan (p2). Kedua faktor tersebut dimasukkan ke dalam
faktor strategis internal kelemahan.
Berdasarkan hasil evaluasi faktor strategis internal, faktor strategis
kekuatan yang memiliki nilai kepentingan relatif tertinggi adalah faktor
kewenangan di bidang UMKM dengan bobot sebesar 0,186. Faktor strategis
kelemahan yang memiliki nilai kepentingan relatif tertinggi adalah anggaran
kegiatan UMKM yang masih rendah dengan bobot 0,128. Nilai total rata-rata
tertimbang faktor strategis internal sebesar 2,775. Berdasarkan hasil evaluasi
matriks EFE, faktor strategis peluang yang memiliki nilai kepentingan relatif
tertinggi adalah Kebijakan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
(KKUKM) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mendukung
pengembangan usaha warung tenda pecel lele dengan bobot sebesar 0,151. Faktor
strategis ancaman yang memiliki nilai kepentingan relatif tertinggi adalah
mayoritas pedagang warung tenda pecel lele lemah dalam permodalan dan relatif
tidak adanya agunan dengan bobot sebesar 0,123. Nilai total rata-rata tertimbang
faktor strategis eksternal sebesar 2,561.
Berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal, maka disusunlah
Matriks SWOT yaitu: (1) strategi pengembangan kawasan zona usaha warung
tenda pecel lele; (2) strategi peningkatan keterampilan produksi produk olahan
berbasis ikan lele; (3) strategi peningkatan kemitraan pembudidaya ikan lele
dengan pedagang warung tenda pecel lele dalam kendali KKUMKM; (4) strategi
pembentukan lembaga kajian atau unit khusus rantai nilai ikan lele; (5) strategi
peningkatan pengelolaan stok bahan baku ikan lele; (6) strategi peningkatan
pengelolaan pendataan warung tenda pecel lele; (7) strategi peningkatan citra
pecel lele; (8) strategi peningkatan kemampuan manajerial dan akses pendanaan
UMKM.
Hasil analisis strategi prioritas menggunakan QSPM, strategi prioritas
pertama yang dapat diimplementasikan bagi pengembangan usaha warung tenda
pecel lele di Kota Bogor oleh KKUMKM adalah strategi peningkatan pengelolaan
pendataan usaha warung tenda pecel lele sebagai basis pengambilan kebijakan
pengembangan warung tenda pecel lele, dimana nilai Sum Total Attractiveness
Score (STAS) yang diperoleh sebesar 6,207. Strategi prioritas kedua adalah
strategi pengembangan kawasan zona usaha warung tenda pecel lele dengan nilai
STAS sebesar 6,191. Strategi prioritas ketiga adalah strategi peningkatan
kemampuan manajerial dan akses pendanaan UMKM dengan nilai STAS sebesar
6,064. Strategi prioritas keempat adalah strategi peningkatan pengelolaan stok
bahan baku ikan lele dengan nilai STAS sebesar 5,908. Strategi prioritas kelima
adalah strategi pembentukan lembaga kajian atau unit khusus rantai nilai ikan lele
dengan nilai STAS sebesar 5,824. Strategi prioritas keenam adalah strategi
peningkatan citra pecel lele dengan nilai STAS sebesar 5,789. Strategi prioritas
ketujuh adalah strategi peningkatan keterampilan produksi produk olahan berbasis
ikan lele dengan nilai STAS sebesar 5,692. Strategi prioritas kedelapan adalah
strategi peningkatan kemitraan pembudidaya ikan lele dengan pedagang warung
tenda pecel lele dalam kendali KKUMKM dengan nilai STAS 5,688.
Collections
- MT - Business [4063]
