Hubungan Kebijakan Kompensasi Dengan Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan Di Pt. Tatasolusi Pratama
View/ Open
Date
2011Author
Ayuningtyas, Rika Vidya
Mangkuprawira, Sjafri
Moelyadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Tantangan perusahaan sekarang ini semakin tinggi di tengah-tengah pembangunan yang mulai menggeliat di Indonesia. Untuk itu di butuhkan sebuah perusahaan yang dapat terus berinovasi dan tetap bertahan ditengah persaingan globalisasi dan tingginya pertumbuhan pembangunan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah PT Tatasolusi Pratama perusahaan berbasiskan engineering yang bergerak dibidang HVAC (heating, ventilating, air conditioning). Perusahaan berpusat di Surabaya dan memiliki tiga cabang yaitu Jakarta, Bali dan Timika Papua. Bisnis utama yang dijalankan perusahaan adalah trading distribution untuk produk air conditioning (AC) dengan merk dagang Daikin dari Jepang, Mc Quay, Acson dan American Air Filter dari Amerika.
Saat ini di Indonesia perangkat elektronik semacam AC bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga untuk menurunkan suhu ruangan, melainkan telah menjadi gaya hidup dan melengkapi interior rumah. Dengan terus meningkatnya perkembangan bisnis AC di Indonesia, pihak manajemen PT. Tatasolusi Pratama harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan professional, karena sumber daya manusia berpengaruh pada peningkatan produktivitas organisasi. Dalam upaya peningkatan produktivitas kerja karyawan, perlu memotivasi karyawan yang mempengaruhi sikap dan perilakunya. Dari seorang individu yang termotivasi, maka akan dihasilkan kinerja yang lebih baik, dimana performance yang baik dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi.
Secara umum, karyawan akan termotivasi untuk bekerja pada saat karyawan mengetahui bahwa kinerjanya akan berkorelasi dengan imbalan yang akan diperoleh. Oleh karenanya perusahaan berusaha untuk dapat mengarahkan karyawan bekerja dengan semaksimal mungkin sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan. Agar tujuan dari perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka kedudukan perusahaan dan karyawan haruslah seimbang. Tujuan perusahaan dapat terwujud apabila adanya kinerja yang baik dari karyawaan, ceteris paribus dengan derajat kepuasaan yang tinggi, sehingga akan meningkatkan kinerja dari karyawan. Manajemen kompensasi tujuannya membantu perusahaan mencapai tujuan keberhasilan strategi perusahaan dan menjamin terciptanya keadilan internal maupun eksternal, dengan begitu perusahaan akan memperoleh apa yang di inginkan (Davis&Werher, 1996).
Perusahaan dalam menetapkan kebijakan kompensasi harus memperhatikan prinsip keadilan dan gaji tersebut sesuai dengan bobot pekerjaannya. Pemberian imbalan jasa yang dirasakan adil dan layak bagi karyawan akan memberikan kepuasan kerja, sehingga dapat menciptakan kualitas kerja yang baik dalam lingkungan perusahaan yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan perusahaan. Dengan asas adil ini akan tercipta suasana kerja yang sama baik, semangat kerja, disiplin dan loyalitas pada perusahaan akan lebih baik. Sedangkan sistem gaji yang layak berarti imbalan jasa yang diterima karyawan dapat memenuhi kebutuhan hidup pada tingkat normatif yang ideal.
Kebijakan mengenai kompensasi kerap kali menimbulkan masalah di dalam perusahaan, termasuk di PT. Tatasolusi Pratama. Namun, mereka masih bertahan untuk bekerja di PT. Tatasolusi Pratama, mereka berharap kendala mengenai kebijakan kompensasi dapat ditindaklanjuti oleh pihak manajemen, agar kebijakan kompensasi bisa lebih adil, terbuka, dan layak sehingga motivasi kerja dan kinerja karyawan akan terus berpacu seiring dengan meningkatnya target
penjualan para sales marketing/distribusi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
(1) untuk menganalisis persepsi karyawan terhadap kebijakan sistem kompensasi yang berlaku saat ini di PT. Tatasolusi Pratama, (2) Menganalisis korelasi/hubungan antara persepsi kebijakan kompensasi dengan motivasi kerja (motivator factor dan hygiene factor) di PT. Tatasolusi Pratama, (3) Menganalisis korelasi/hubungan antara persepsi kebijakan kompensasi dengan kinerja karyawan di PT. Tatasolusi Pratama, (4) Memberikan solusi kebijakan yang akan diambil oleh perusahaan
Penelitian dilakukan di PT. Tatasolusi Pratama cabang Jakarta, pada bulan November sampai Desember 2010. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 28 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rentang Kriteria untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap kebijakan kompensasi, motivasi kerja, dan kinerja karyawan. Serta metode Rank Spearman dengan bantuan software SPSS Versi 13.0 untuk mengetahui hubungan antara kebijakan kompensasi dengan motivasi kerja (motivator factor dan hygiene factor) dan kinerja karyawan. Hasil dari pengolahan data, kemudian digunakan dalam analisis pembahasan dan implikasi manajerial bagi perusahaan. Uji validitas dan reabilitas juga dilakukan untuk mengukur keandalan alat ukur (kuisioner) yang digunakan.
Hasil Rentang Kriteria menyatakan bahwa persepsi karyawan khususnya pada divisi sales dan distribusi terhadap kebijakan kompensasi yang diterima adalah sudah wajar dan sesuai dengan hak-hak mereka. Mereka merasa tidak ada masalah dengan kompensasi yang mereka terima saat ini, terlebih mayoritas dari responden adalah merupakan karyawan pendatang baru yang masih dalam tahap adaptasi dalam pekerjaan dan berusaha menunjukkan kualitas kerja sebaik mungkin terlebih dahulu.
Berdasarkan analisa Rank Spearman didapat nilai korelasi sebesar 0,558 dengan taraf nyata 0,000 yang menggambarkan adanya hubungan yang nyata antara variabel kebijakan kompensasi dengan motivator factor secara keseluruhan di PT. Tatasolusi Pratama. Keadaan ini menunjukkan bahwa dengan semakin baiknya kebijakan kompensasi yang diberikan, maka akan semakin berhubungan dengan tingginya motivator factor, demikian pula sebaliknya. Sedangkan untuk variabel kebijakan kompensasi dan hygiene factor secara keseluruhan, berdasarkan analisa Rank Spearman didapat nilai korelasi sebesar 0,604 dengan taraf nyata 0,000 yang menggambarkan adanya hubungan yang nyata antara variabel kebijakan kompensasi dengan hygiene factor secara keseluruhan di PT. Tatasolusi Pratama. Keadaan ini menunjukkan bahwa dengan semakin baiknya kebijakan kompensasi yang diberikan, maka akan semakin berhubungan dengan tingginya hygiene factor, demikian pula sebaliknya.
Untuk hubungan antara kebijakan kompensasi dengan kinerja karyawan, setelah dilakukan uji korelasi Rank Spearman, didapat nilai korelasi sebesar 0,290 yang menggambarkan hubungan yang lemah, dan jika dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,134 maka dapat dikatakan tidak ada hubungan yang nyata antara variabel kebijakan kompensasi dengan kinerja, atau dapat dikatakan tidak memiliki hubungan secara langsung. Meskipun kebijakan kompensasi di PT. Tatasolusi Pratama oleh karyawan dikatakan sudah baik, belum tentu hal tersebut akan meningkatkan kinerja karyawannya. Faktor faktor lain seperti kapasitas produksi pabrik, kapasitas penyimpanan gudang, idealnya target penjualan, suasana kerja yang kondusif, dan lain-lain kiranya akan dapat berhubungan langsung dengan kinerja karyawan.
Collections
- MT - Business [4063]
