Kajian Total Quality Management Berdasarkan Malcolm Balridge Criteria For Performance Excellence Di Pt.Xyz
Abstract
Mutu telah menjadi isu penting dalam menciptakan keunggulan perusahaan di era globalisasi seiring dengan semakin ketatnya tingkat kompetisi yang dihadapi. Untuk mengelola penciptaan mutu yang prima dari seluruh fungsi dan proses dalam perusahaan dibutuhkan suatu acuan standar sistem yang dikenal dengan manajemen mutu. Foster and Jonker (2007) menemukan bahwa manajemen mutu saat ini telah memasuki generasi baru yaitu sebagai alat pengukur dan pengendali yang terfokus pada mutu output (produk maupun jasa). serta mengalami perluasan dan orientasi ulang menjadi manajemen bagi keseluruhan organisasi yang dikenal dengan manajemen mutu terpadu. Manajemen mutu terpadu, atau lebih dikenal dengan Total Quality Management (TQM), merupakan sebuah filosofi manajemen yang digunakan dalam perusahaan untuk memperbaiki mutu serta meningkatkan kepuasan pelanggan.
Untuk mengetahui posisi pencapaian TQM yang diimplementasikan, setiap perusahaan perlu mengevaluasi dan mengkaji dirinya sendiri (self evaluation and self assessment) sehingga dapat memberikan umpan balik berupa strategi baru dalam meningkatkan implementasi TQM di masa mendatang. Efektivitas implementasi TQM dapat diketahui melalui pengukuran kinerja organisasi, karena pada dasarnya sistem manajemen mutu ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Berglund, 2001). Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE) merupakan metode pengukuran manajemen mutu berdasarkan pada kinerja suatu organisasi melalui pendekatan self assessment. Kerangka penilaian ini merupakan basis dari berbagai penghargaan mutu internasional, dan di Indonesia sendiri MBCfPE telah diadopsi sebagai benchmark penilaian Indonesia Quality Award (IQA) pada tahun 2006. Dengan demikian penggunaan kerangka MBCfPE dalam menilai tingkat kinerja implementasi TQM dalam perusahaan sangat tepat karena melalui penilaian ini dapat diketahui kinerja perusahaan yang berkorelasi positif terhadap tingkat implementasi TQM.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa konsumsi roti nasional pada tahun 2008 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2005, yaitu 61% untuk roti tawar dan 53% untuk roti manis. Fenomena peningkatan konsumsi roti di Indonesia mengindikasikan bahwa peluang perusahaan di industri bakery masih terbuka lebar. Di masa mendatang perusahaan bakery akan dihadapkan dengan kompetisi yang semakin ketat karena daya tarik industri bakery ini akan mendatangkan banyak pemain baru atau pemain lama yang semakin tangguh dalam memperebutkan pangsa pasar. PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur sekaligus distributor roti terbesar di Indonesia. Posisi perusahaan sebagai manufaktur roti terbesar di Indonesia serta keberhasilannya meraih penghargaan top brand menjadi daya tarik tersendiri sebagai obyek kajian implementasi TQM.
Terkait dengan kondisi yang telah dipaparkan sebelumnya, muncul tiga permasalahan di PT XYZ, yaitu bagaimana tingkat kinerja TQM yang selama ini ....dst.
Collections
- MT - Business [4063]
