Analisis Preferensi dan Segmentasi Pengunjung Terhadap Kawasan Wisata Alam Taman Nasional Gunung Pangrango
View/ Open
Date
2010Author
Widiyaningrum, Anita
Nuryartono, Nunung
Retnaningsih
Metadata
Show full item recordAbstract
Pergeseran tren kepariwisataan di dunia saat ini lebih mengarah pada individual tourism/small group tourism, dari tren sebelumnya tahun 1980-an yang didominasi oleh mass tourism. Fandeli (2002) menyebutkan bahwa pergeseran minat wisata tersebut telah melahirkan perkembangan pariwisata alam ke arah pola wisata ekologis (ecotourism) dan wisata minat khusus (special interest tourism atau alternatif tourism). Pada tahun 2009, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 10 juta orang dengan rata-rata peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak satu juta orang setiap tahunnya mulai tahun 2005. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara ditargetkan sebanyak 218 juta orang dengan rata-rata peningkatan kunjungan sebanyak tiga juta wisatawan nusantara per tahun mulai tahun 2005. Slogan baru "Indonesia: Ultimate in Diversity" (Indonesia: Keragaman yang Sesungguhnya) telah diperkenalkan dan akan terus disebarluaskan secara intensif (Depbudpar, 2006).
Merujuk pada arah pembangunan pariwisata nasional tersebut, maka wisata alam di kawasan konservasi Indonesia merupakan tempat yang tepat sebagai target tempat tujuan wisata yang dapat menunjukan keragaman ekologis yang sesungguhnya di Indonesia. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam baik daratan maupun perairan yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Sejak tahun 2006, Departemen Kehutanan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA No. 69/IV/Set-HO/2006 dan No. SK. 128/IV/Set-HO/2006, telah menetapkan 21 dari 50 TN di Indonesia sebagai Taman Nasional Model, yang salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Penetapan TN Model ini menuntut TNGGP untuk melakukan percepatan pengelolaan kawasannya secara efektif, efisien, transparan, optimal, dan akuntabel hingga menjadi sebuah Taman Nasional Mandiri. Kemandirian TNGGP tersebut diartikan sebagai suatu TN yang dikelola oleh institusi (Balai Taman Nasional) secara swadaya, dengan kewenangan mengelola pendapatan yang diterimanya secara sah, termasuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) guna membiayai dirinya sendiri secara berkelanjutan, tanpa mengandalkan subsidi pemerintah yang bersumber dari APBN, selayaknya seperti Badan Layanan Umum (BLU) atau Perusahaan Umum atau bentuk institusi produktif lainnya secara kolaboratif.
Salah satu sumber pendapatan TN adalah kegiatan wisata alam, baik dalam bentuk rekreasi alam maupun wisata khusus yang bernuansa pendidikan dan pelestarian alam. Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir (2002-2009), TNGGP mampu menarik lebih dari 19% dari rata-rata total pengunjung seluruh TN...dst.
Collections
- MT - Business [4063]
