Strategi Pengembangan Zonasi Air Minum (Studi Kasus Di Pdam Tirta Pahlawan Kota Bogor)
View/ Open
Date
2009Author
Fajdawani, Abdul Kholik
Siregar, Hermanto
Hakim, Dedi Budiman
Metadata
Show full item recordAbstract
Air minum adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Penggunaan air minum saat ini tidak hanya terbatas pada penggunaan untuk minum, kesehatan dan kebutuhan rumah tangga saja tetapi digunakan pula untuk keperluan yang lebih luas seperti untuk bidang komersial dan sosial. Seiring perkembangan zaman, tuntutan akses masyarakat terhadap ketersediaan air minum semakin tinggi dan dapat dilihat melalui lima indikator, yaitu : kualitas, kuantitas, kontinuitas, kehandalan sistem penyediaan air minum (reliable), serta kemudahan baik harga maupun jarak/waktu tempuh (affordable).
Pemerintah melalui PDAM berupaya terus memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap air minum melalui penyediaan air minum. Tujuan pokok yang ingin dicapai dalam penyediaan air minum adalah untuk menghasilkan air minum yang aman dikonsumsi manusia, menghasilkan air minum yang sesuai kebutuhan dan menghasilkan air minum dengan menggunakan sarana yang ada dengan efisien. Namun sampai saat ini sebagian besar PDAM hanya mampu melayani kebutuhan setakat air bersih saja yakni belum terpenuhinya pelayanan kualitas air minum serta masih rendahnya cakupan dan tingkat pelayanan air minum. Kualitas air yang dialirkan PDAM hingga sampai ke pelanggan tidak/belum memenuhi kualitas standar air minum. Hal itu terjadi karena kualitas air baku yang buruk, instalasi pengolahan yang tidak memenuhi standar air minum, terkontaminasinya air dalam proses pengalirannya yang disebabkan jaringan distribusi yang kurang layak dan kondisi perpipaan yang buruk.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat memperbaiki kondisi ini agar PDAM tidak hanya melayani air bersih saja tetapi juga mampu untuk melayani kebutuhan air minum. Pada Juni 2003 - September 2004, PERPAMSI bekerjasama dengan US-AID melaksanakan program CATNIP (Certification and Training for Network Improvement Project). Proyek ini dimaksudkan untuk peningkatan kualitas air minum melalui program sertifikasi dan pelatihan untuk perbaikan jaringan perpipaan PDAM. Sebagai tahap awal dipilih 3 (tiga) PDAM yaitu Medan, Bogor dan Malang sebagai area percontohan untuk mewujudkan pelayanan air yang langsung minum (potable water) di salah satu zona yang ditentukan. Program ini disebut dengan istilah ZAMP singkatan dari Zona Air Minum Prima, yaitu zona khusus yang ditetapkan oleh PDAM untuk layanan air siap minum. Saat ini dari 45 % tingkat pelayanan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor dengan jumlah sambungan sebanyak 79.585 Sambungan Langganan (SL), terdapat 1.347 Sambungan Langganan atau sekitar 2 % dari total pelanggan PDAM Tirta Pakuan kota bogor merupakan pelanggan Zona Air Minum Prima. Selama hampir 5 tahun pelaksanaannya, angka tersebut masih sangat kecil, sehingga dikhawatirkan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) bidang air minum yaitu mengurangi hingga setengah proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi pada tahun 2015 tidak dapat tercapai.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dan menentukan keberhasilan pengembangan zona air minum di PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, merumuskan strategi pengembangan zona air minum dan merekomendasikan strategi prioritas dalam pengembangan zona air minum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dengan model pendekatan studi kasus. Metode deskriptif bertujuan untuk melukiskan fakta dan populasi dari suatu permasalahan tertentu pada suatu perusahaan atau organisasi atau lingkungan secara faktual dan sistematis. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan melalui hasil wawancara langsung, observasi maupun kuesioner kepada para responden. Teknik pengolahan data menggunakan Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal, Matriks I/E, Analisa SWOT, dan Matriks QSPM.
Faktor internal yang berpengaruh terhadap pengembangan zona air minum berupa kekuatan terdiri kualitas pelayanan yang prima, kualitas sumber daya manusia yang baik, kualitas air yang didistribusi, tingginya komitmen manajemen dan jumlah pelanggan yang cukup besar dengan kelemahan berupa tingginya tingkat kehilangan air sebesar rata-rata 36 %, belum seluruh daerah mendapat suplai air 24 jam, belum seluruh jaringan perpipaan memiliki umur dan jenis yang layak digunakan untuk zona air minum, belum adanya tim khusus untuk perbaikan kerusakan dan kebocoran zona air minum dan belum tersedianya GIS untuk sistem jaringan distribusi. Faktor eksternal berupa peluang berupa dukungan pemerintah, air minum sebagai kebutuhan dasar manusia, meningkatnya permintaan air minum, kondisi ekonomi masyarakat yang cukup baik, dan target Millenium Development Goals khususnya bidang air minum dengan ancaman berupa sistem plumbing / perpipaan di rumah pelanggan, ketersediaan dan kualitas air baku, rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang penyediaan air minum melalui perpipaan, keterlibatan pihak swasta dan pengembang (developer), dan banyaknya industri air minum isi ulang.
Berdasarkan faktor internal dan eksternal tersebut dengan menggunakan Analisa SWOT (Matriks TOWS) dihasilkan formulasi alternatif strategi yaitu strategi peningkatan wilayah cakupan pelayanan zona air minum, strategi peningkatan infrastruktur untuk zona air minum, strategi peningkatan sistem manajemen kualitas air terpadu dan strategi peningkatan standar operasi pelayanan dan pemeliharaan untuk air minum. Melalui Matriks QSPM, prioritas strateginya berturut-turut adalah strategi peningkatan infrastruktur untuk zona air minum, strategi peningkatan sistem manajemen kualitas air terpadu, strategi peningkatan wilayah cakupan pelayanan zona air minum dan strategi peningkatan standar operasi pelayanan dan pemeliharaan untuk air minum.
Collections
- MT - Business [4063]
