Analisis Hubungan Sistem Penilaian Kinerja dan Kepuasan Kerja Pegawai Di Pt. Xyz
Abstract
Perubahan kondisi persaingan usaha yang mengarah kepada meningkatnya
tingkat intensitas persaingan antar perusahaan, menuntut adanya peningkatan
kualitas SDM. Pengembangan kompetensi yang dimiliki SDM perusahaan
merupakan salah satu kunci sukses perusahaan dalam menghadapi ketatnya
persaingan usaha. Pemetaan potensi pegawai serta strategi pengembangan
kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui penilaian kinerja. Melalui sistem
penilaian kinerja, perusahaan dapat membentuk SDM sesuai dengan kebutuhan
perusahaan yang berubah seiring dengan semakin ketatnya persaingan di dunia
usaha.
PT XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa
asuransi jiwa. Ketatnya persaingan di bidang jasa asuransi jiwa menuntut PT
XYZ untuk merumuskan langkah strategis di dalam mengembangkan potensi
SDM yang dimiliki sehingga, mampu bersaing dengan perusahaan lain. Adanya
tuntutan peningkatan kinerja untuk memenangkan persaingan memunculkan
kebutuhan akan evaluasi sistem penilaian kinerja agar lebih mampu meningkatkan
kinerja pegawai. Sistem penilaian kinerja yang selama ini digunakan PT XYZ
menunjukkan adanya kelemahan di dalam indikator penilaian kinerja. Disamping
itu tidak terjadi proses diskusi menyeluruh antara pihak ternilai dan yang dinilai.
Hal lain yang menjadi permasalahan adalah lemahnya kemampuan sistem
penilaian kinerja dalam menggambarkan kompetensi yang dimiliki oleh pegawai.
Dampaknya adalah pegawai kurang mampu untuk menentukan kompetensi
individu apa yang perlu dikembangkan untuk memenuhi standar kinerja yang
ditetapkan perusahaan.
Kepuasan kerja pegawai terhadap sistem penilaian kinerja yang ada
memacu motivasi pegawai untuk terus berprestasi dan meningkatkan kinerja.
Sistem penilaian kinerja dapat dikatakan berhasil jika sistem tersebut mampu
mewujudkan kepuasan kerja dan berhasil mendorong pegawai untuk
meningkatkan kinerja. Faktor kepuasan kerja yang merupakan salah satu elemen
dari sumber motivasi pegawai hendaknya menjadi pertimbangan perusahaan
ketika membuat suatu sistem penilaian kinerja. Oleh sebab itu perlu dilakukan
analisis mengenai kondisi sistem penilaian kinerja yang diterapkan PT XYZ dan
hubungan sistem penilaian kinerja terhadap kepuasan kerja.
Adapun tujuan penelitian ini yaitu : (1) Menganalisis kondisi sistem
penilaian kinerja yang digunakan PT XYZ, (2) Menganalisis hubungan antara
jabatan dan persepsi mengenai kondisi sistem penilaian kinerja, (3) Menganalisis
hubungan sistem penilaian kinerja dan kepuasan kerja pegawai PT XYZ.
Penelitian ini hanya dibatasi pada pegawai yang menjabat sebagai staff, supervisor
dan manajer. Jumlah pegawai yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak
75 orang.
Penelitian ini dilakukan di Kantor Pusat PT XYZ pada bulan Agustus
sampai Desember 2006. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan
proportional stratified random sampling dengan membagi pegawai menjadi tiga tingkatan yaitu manajer, supervisor dan staff. Analisis data digunakan dengan
menggunakan teknik rentang skala untuk mengetahui persepsi pegawai mengenai
kondisi sistem penilaian kinerja di PT XYZ. Uji khi kuadrat digunakan untuk
mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi antar tiap jabatan. Analisis gap
digunakan untuk mengetahui kesenjangan antara sistem penilaian kinerja aktual
dan sistem penilaian kinerja harapan. Korelasi rank spearman digunakan untuk
menganalisis keeratan hubungan antara sistem penilaian kinerja dan kepuasan
kerja. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software SPSS 11.00.
Sistem penilaian kinerja yang dianalisis dibagi menjadi empat aspek yaitu:
(1) perencanaan kinerja, (2) pelaksanaan kinerja, (3) proses penilaian kinerja, (4)
pemanfaatan hasil penilaian kinerja dan (5) tinjauan kinerja. Faktor yang
dianalisis pada perencanaan kinerja adalah adanya unsur (1) relevansi, (2)
sensitivitas, (3) reliabilitas, (4) kemamputerimaan dan (5) kepraktisan pada
instrumen penilaian kinerja. Aspek pelaksanaan kinerja terdiri dari dua faktor
yaitu: (1) efektivitas komunikasi dan (2) intensitas komunikasi. Aspek proses
penilaian kinerja terdiri dari (1) faktor obyektifitas penilaian dan (2) keadilan
proses penilaian. Faktor yang dianalisis pada aspek pemanfaatan hasil penilaian
kinerja yaitu: (1) pelatihan, (2) promosi, (3) kompensasi dan (4) pengembangan
karir. Aspek tinjauan kinerja terdiri dari variabel yaitu: (1) umpan balik kinerja
dan (2) diskusi hasil penilaian kinerja.
Berdasarkan analisis dengan menggunakan teknik rentang skala ditemukan
bahwa persepsi pegawai mengenai kondisi perencanaan kinerja berada pada
kriteria cukup setuju. Persepsi pegawai mengenai adanya aspek relevansi,
reliabilitas, kemamputerimaan dan kepraktisan dalam sistem penilaian kinerja
berada pada kriteria cukup setuju. Sedangkan persepsi pegawai mengenai adanya
aspek sensitivitas berada pada kriteria cukup setuju. Berdasarkan hasil tersebut
kondisi aspek perencanaan kinerja dapat belum memenuhi persyaratan sistem
penilaian kinerja yang baik.
Berdasarkan analisis dengan menggunakan teknik rentang skala ditemukan
bahwa persepsi pegawai mengenai kondisi aspek pelaksanaan kinerja berada pada
kriteria setuju. Persepsi pegawai mengenai adanya aspek intensitas komunikasi
dan efektivitas komunikasi berada pada kriteria setuju. Hal ini menandakan bahwa
aspek pelaksanaan kinerja telah memenuhi persyaratan sistem penilaian kinerja
yang baik. .
Hasil analisis persepsi pegawai mengenai kondisi perencanaan kinerja
berada pada kriteria tidak efektif. Hal ini ditunjukkan dengan persepsi pegawai
mengenai aspek obyektifitas dan keadilan proses penilaian kinerja. Persepsi
pegawai mengenai adanya unsur obyektifitas dan keadilan proses penilaian kinerja
berada pada kriteria tidak setuju. Menandakan persyaratan sistem penilaian
kinerja yang baik belum terpenuhi.
Berdasarkan analisis dengan teknik rentang skala ditemukan bahwa
persepsi pegawai mengenai kondisi pemanfaatan hasil penilaian kinerja berada
pada kriteria cukup setuju. Persepsi pegawai mengenai pemanfaatan hasil
penilaian kinerja untuk kepentingan pelatihan, promosi, kompensasi dan
pengembangan karir pegawai berada pada kriteria cukup setuju. Hal ini
menandakan bahwa pegawai belum sepenuhnya setuju mengenai adanya
pemanfaatan penilaian kinerja untuk hal-hal tersebut.
Persepsi pegawai mengenai adanya motivasi untuk meningkatkan kinerja
berada pada kriteria cukup setuju. Sedangkan persepsi pegawai mengenai adanya
kesempatan untuk mendiskusikan hasil penilaian kinerja berada pada kriteria
setuju. Jika dilihat secara keseluruhan persepsi responden mengenai kondisi
tinjauan kinerja berada pada kriteria cukup setuju. Hal ini menandakan bahwa
kondisi tinjauan belum sepenuhnya memenuhi persyaratan sistem penilaian
kinerja yang baik..
Hasil dari analisis gap antara kondisi sistem penilaian kinerja aktual dan
kondisi sistem penilaian kinerja harapan menunjukkan hasil yang negatif.
Kesenjangan antara kondisi perencanaan kinerja aktual dan kondisi pelaksanaan
kerja harapan adalah sebesar (-1,04). Kesenjangan antara kondisi pelaksanaan
kinerja aktual dan harapan sebesar (-0,67). Kesenjangan antara kondisi proses
penilaian kinerja aktual dan proses penilaian kinerja harapan sebesar (-1,81).
Kesenjangan antara kondisi pemanfaatan hasil penilaian kinerja aktual dan kondisi
pemanfaatan hasil penilaian harapan adalah (-1,05). Kesenjangan antara kondisi
tinjauan kinerja aktual dan kondisi tinjauan kinerja harapan adalah sebesar (-1,03).
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem penilaian
kinerja yang digunakan oleh PT XYZ pada saat ini belum mampu untuk
memenuhi harapan dari pegawai.
Dengan menggunakan korelasi rank spearman, didapatkan bahwa seluruh
aspek sistem penilaian kinerja memiliki hubungan yang bersifat positif dan
signifikan dengan kepuasan kerja. Nilai koefisien korelasi antara aspek
perencanaan kinerja dan kepuasan kerja adalah sebesar 0,685. Nilai koefisien
korelasi antara pelaksanaan kinerja dan kepuasan kerja adalah sebesar 0,490. Nilai
koefisien korelasi antara proses penilaian kinerja dan kepuasan kerja adalah
sebesar 0,611. Nilai koefisien korelasi antara pemanfaatan hasil penilaian kinerja
dan kepuasan kerja adalah sebesar 0,680. Nilai koefisien korelasi antara tinjauan
kinerja dan kepuasan kerja adalah sebesar 0,579. Hasil dari korelasi rank
spearman menandakan bahwa perbaikan pada kondisi perencanaan kinerja,
pelaksanaan kinerja, proses penilaian kinerja, pemanfaatan hasil penilaian kinerja
dan tinjauan kinerja akan berimplikasi pada peningkatan kepuasan kerja pegawai.
Berdasarkan hasil penelitian, implikasi manajerial yang dapat digunakan
adalah sebagai berikut. Perbaikan kondisi perencanaan kinerja dapat dilakukan
melalui: (1) Perbaikan instrumen penilaian kinerja agar sesuai dengan standar
kinerja tiap jabatan. (2) Penambahan predikat pegawai dan juga memperkecil
rentang skala tiap predikat. Predikat yang nantinya digunakan berupa kriteria
”amat baik” (91-100), ”baik”(81-90), ”cukup”(71-80), ”sedang” (61-70),
”kurang”(51-60) dan ”amat kurang” (50 ke bawah). (3) Pemberian pelatihan
mengenai pelaksanaan penilaian kinerja. Pelatihan ini dikhususkan bagi pegawai
yang melakukan penilaian. Inti dari pelatihan ditujukan untuk meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan dari tiap penilai mengenai penilaian kinerja.
Perbaikan pada kondisi pelaksanan kinerja dilakukan dengan pemberian
kesempatan kepada pihak bawahan untuk memberikan ide-ide baru guna
mengembangkan suatu strategi baru dalam penyelesaian tugas. Proses diskusi
tidak hanya ditujukan untuk mengetahui letak kesalahan pegawai. Proses diskusi
juga harus ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada pegawai yang
berkinerja tinggi. Pemberian penghargaan tersebut berupa pujian yang
menyatakan kepuasan atasan akan kinerja bawahan.
Perbaikan yang dapat dilakukan perusahaan pada proses penilaian kinerja
adalah sebagai berikut. (1) Pengembangan pola pikir dari penilai dalam
melakukan penilaian. Pihak penilai hendaknya lebih mengedepankan hasil kerja
atau kompetensi dari pegawai sebagai kriteria penilaian dibandingkan dengan
kedekatan personal dengan penilai. (2) Penerapan sistem penilaian 3600. Pada
sistem ini pihak yang melakukan penilaian merupakan pihak-pihak yang
berhubungan langsung dengan pegawai seperti atasan, bawahan dan rekan kerja
dari pegawai. (3) Pemanfaatan buku catatan kerja pegawai. Melalui buku ini,
pihak atasan mencatatat kinerja harian dari tiap pegawai. Langkah ini ditujukan
untuk mengetahui tingkat kemajuan atau kemunduran dari pegawai. (4)
Pengembangan konsep self appraisal, yaitu pemberian kesempatan kepada tiap
pegawai untuk menilai kinerja individu. Langkah ini ditujukan untuk memberikan
peluang kepada pegawai untuk menemukan letak kelemahan atau kelebihan
kinerja yang selama ini dilaksanakan.
Agar dapat meningkatkan kondisi pemanfaatan hasil penilaian kinerja
perusahaan dapat melakukan beberapa hal. (1) Pengembangan konsep pay for
performance, dimana pencapaian nilai pegawai dikaitkan dengan peningkatan
intensif pegawai. Perusahaan harus mampu untuk membentuk suatu hubungan
antara kinerja yang tinggi dengan kenaikan tingkat insentif yang tinggi. (2)
Penentuan kebutuhan pelatihan harus didasarkan pada hasil dari penilaian kinerja.
Hal ini ditujukan agar pelaksanaan pelatihan tepat sasaran atau sesuai dengan
kekurangan yang ada pada diri pegawai. (3) Pembuatan kriteria mengenai pegawai
yang berhak mendapatkan promosi. Sebagai contohnya adalah pegawai yang
mendapatkan predikat ”amat baik” selama tiga periode penilaian berhak untuk
mendapatkan promosi.
Langkah perbaikan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk
meningkatkan kondisi tinjauan kinerja adalah dengan pengembangan konsep
diskusi hasil penilaian kinerja yang diarahkan pada perbaikan kinerja. Proses
diskusi tidak hanya digunakan untuk memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk memberikan saran atau kritik terhadap hasil penilaian.
Collections
- MT - Business [4063]
