View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis Kinerja Keuangan Pt. Djp Untuk Menentukan Kebutuhan Modal Kerja dan Kelayakan Investasi Mesin (Studi Kasus Permohonan Kredit Pada Bank X")"

      Thumbnail
      View/Open
      full text (42.71Mb)
      Date
      2007
      Author
      Arifien, Jeanny Sofiana
      Tanopruwito, Djoni
      Harianto
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Fungsi intermediasi perbankan pada tahun 2005 mulai berjalan namun belum optimal yang tercermin oleh adanya kenaikan dana pihak ketiga (DPK) per September 2005 sebesar Rp.114,43,- triliun yang diikuti dengan kenaikan penyaluran kredit sebesar Rp.120,59, triliun. Pertumbuhan ini juga diikuti oleh kenaikan kredit bermasalah atau NPL sebesar 3,37% dari tahun sebelumnya, akibatnya laba perbankan tergerus sebesar Rp.16,27 triliun dan net interest margin (NIM) serta return on asset (ROA) menurun sebesar 0,23% dan 1,49%. Berdasarkan sektor ekonomi, pada tahun 2004 dan 2005 peningkatan penyaluran kredit terbesar terjadi pada sektor perindustrian sebesar Rp.24,76 triliun. Ada cukup banyak perusahaan industri di Indonesia yang dapat dikembangkan dan mendapat pembiayaan perbaikan, salah satunya adalah PT.DJP dengan produk utama bijih plastik hasil recycle dan produk jadi berupa ember dan bak plastik. Harga minyak mentah dunia yang terus bergerak naik dalam beberapa tahun belakangan ini sangat berpengaruh terhadap industri plastik pada umumnya karena kenaikan minyak mentah dunia tersebut mendongkrak harga bahan baku utama industri plastik (polypropylene/PP dan polyethylene/PE) cukup tajam. Sementara itu kebutuhan plastik dalam negeri yang terus meningkat belum dapat dipenuhi dari hasil produksi yang ada. Dalam kondisi sebagaimana di atas, PT.DJP justru berpeluang mengembangkan pasar khususnya bijih plastik recycle, karena beberapa industri plastik hilir menjadikan produk ini sebagai alternatif bahan pencampur dalam produknya. Disisi lain, keterbatasan kapasitas produksi yang dimiliki PT.DJP menyebabkan peluang tersebut tidak dapat diraih, kenaikan permintaan pasar saat ini tidak dapat dipenuhi secara optimal. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, PT.DJP mencari solusi sumber pendanaan melalui perbankan. Adapun permintaan dana tersebut akan digunakan untuk membeli mesin produksi bijih plastik dan mesin pendukung lainnya, disamping juga untuk tambahan modal kerja usaha. Permasalahan yang dihadapi PT.DJP adalah bagaimana kondisi dan tingkat kesehatan keuangan PT.DJP, apakah rencana pembelian mesin tersebut layak dilaksanakan dan dibiayai Bank, berapa modal kerja dan dana investasi yang dapat diberikan melalui pembiayaan bank. Tujuan penelitian adalah untuk untuk mengetahui kondisi keuangan dan tingkat kesehatan keuangan PT.DJP, menganalisis kelayakan investasi pembelian mesin dan menganalisis jumlah kebutuhan modal kerja dari Bank untuk menunjang operasional perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Analisis keuangan yang dilakukan menggunakan laporan keuangan perusahaan selama 5 periode (tahun 2002 sampai dengan Juni 2006). Laporan keuangan tahun 2002 sampai dengan 2005 telah audit oleh kantor akuntan publik sedangkan periode Juni 2006 menggunakan data homestatement. Analisis terhadap kinerja keuangan dilakukan secara vertikal dan horisontal, analisis rasio keuangan, analisis sumber dan penggunaan dana, analisis proyeksi keuangan. Analisis kebutuhan modal kerja menggunakan metode cashflow dan analisis kelayakan investasi dilakukan dengan menghitung nilai NPV, IRR, Payback Period, Profitabiliti Indeks, B/C Ratio, disamping juga dilakukan analisis Financial Leverage dan Analisis Sensitivitas. Berdasarkan analisis vertikal dan horisontal, proporsi aktiva lancar PT. DJP terhadap total aktiva terus meningkat sementara proporsi kewajiban lancar terhadap total kewajiban dan ekuitas berfluktuasi dengan proporsi terbesar terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 38,97%. Dalam jangka pendek, posisi keuangan perusahaan memperlihatkan perkembangan yang membaik karena kenaikan aktiva lancar mampu mengimbangi trend kenaikan kewajiban lancar yang cukup fluktuatif. Kinerja keuangan PT. DJP cukup baik, tercermin melalui rasio-rasio keuangannya yaitu rasio lancar, rasio cepat, rasio kas, rasio modal kerja dengan total aktiva, debt equity rasio, rasio laba atas beban bunga, perputaran persediaan, perputaran piutang, perputaran modal kerja, marjin laba bersih, perputaran aset operasional, tingkat pengembalian ekonomi, rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Perbandingan rasio keuangan dalam hal ini dilakukan terhadap rasio standar yang ditetapkan oleh Bank "X" khususnya untuk current ratio (CR) minimal 130% dan debt equity ratio (DER) maksimal 235%. Rata-rata nilai CR dan DER PT.DJP, rata-rata perputaran stok maupun perputaran piutang telah memenuhi kebijakan yang ditetapkan perusahaan yaitu maksimum 90 hari. Perputaran aset operasi semakin cepat dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (ROI) menunjukkan nilai positif setiap tahunnya. Berdasarkan analisa arus kas diketahui sumber kas utama PT. DJP pada tahun 2003 dan per Juni 2006 hanya berasal dari aktivitas pendanaan, sementara pada tahun 2004 dan 2005 berasal dari aktivitas operasi dan pendanaan. Hasil proyeksi keuangan PT.DJP menunjukkan bahwa di tahun 2007 harta lancar cenderung meningkat akibat adanya penambahan aktiva tetap berupa mesin-mesin, dan menurun pada tahun-tahun selanjutnya akibat penyusutan. Terdapat hutang kepada pemegang saham sebesar Rp.3.412,-juta yang digunakan untuk membelil mesin produksi Pada tahun 2009 seluruh kewajiban Bank dapat dilunasi dan perusahaan menggunakan modal sendiri dalam operasional usahanya. Rasio keuangan proyeksi menunjukkan trend yang cukup baik dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Bank "X". Berdasarkan perhitungan kebutuhan modal kerja, pada bulan Maret tahun 2007 PT.DJP membutuhkan modal kerja sebesar Rp. 10.443,-juta Analisis kelayakan terhadap dampak penggunaan kredit perbankan sebesar 65% dari total nilai investasi menunjukkan bahwa rencana investasi mesin oleh PT.DJP layak untuk dilaksanakan dan menguntungkan dengan hasil perhitungan NPV positif Rp.2.351,-juta dan IRR sebesar 27,61% yang berarti lebih besar dari biaya modal (faktor diskonto) 10,00%. Investasi yang tertanam akan dapat dikembalikan dalam jangka waktu 7 tahun 10 bulan yang berarti lebih cepat dari umur ekonomisnya 10 tahun, profitabiliti index sebesar 1,40 dan B/C ratio berfluktuasi rata-rata sebesar 1,13. Berdasarkan analisis financial leverage, DFL PT.DJP dari tahun ke tahun semakin menurun seiring penurunan bunga akibat adanya setoran hutang bank jangka panjang disamping juga penurunan penggunaan hutang bank jangka pendeknya. Analisis sensitivitas terhadap perubahan bunga pinjaman memberi hasil bahwa apabila bunga berubah menjadi 14,25% maka rencana investasi tetap layak dilaksanakan dengan hasil perhitungan: NPV positif Rp.2.409,-juta, IRR sebesar 27,87% pada tingkat diskonto 9,75%, jangka waktu pengembalian selama 7 tahun 10 bulan, profitability indeks sebesar 1,41 dan B/C ratio rata-rata 1,13. Namun bila suku bunga pinjaman berubah menjadi 17% maka investasi menjadi tidak layak dilaksanakan dengan hasil NPV negatif Rp.354,-juta, IRR 8,94 tingkat diskonto 10,44%, waktu pengembalian investasi lebih panjang yaitu 9 tahun 11 bulan, profitability indeks berada dibawah 1 yaitu 0,94 dan B/C ratio 1,13. Penurunan penjualan sebesar 5% maupun 10% menyebabkan investasi tetap layak untuk dilaksanakan. Batas kritis penurunan penjualan yang menyebabkan investasi menjadi tidak layak dilaksanakan yaitu sebesar 12,50% yang menghasilkan NPV negatif Rp.36,-juta, IRR berada dibawah biaya modalnya yaitu 9,83% sementara faktor diskonto 9.98%, profitabiliti indeks dibawah 1 yaitu 0,99 dan B/C ratio 1,13. Selanjutnya kenaikan beban usaha sebesar 5% dan 10% menyebabkan investasi tetap layak untuk dilaksanakan dan batas kritis kenaikan beban usaha yang menyebabkan investasi menjadi tidak layak dilaksanakan yaitu sebesar 35% karena menghasilkan NPV negatif Rp.17,-juta, IRR sebesar 9,95% yang berarti dibawah biaya modal (faktor diskonto 10,01%), profitabilitas indeks sebesar 1% dan B/C ratio 1,10. Atas dasar hasil penelitian tersebut maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah PT. DJP dapat melaksanakan investasi pembelian mesin karena dinilai layak dan menguntungkan dan untuk mensupport rencana tersebut Bank "X" dapat membiayai pembelian investasi mesin tersebut sebesar 65% dari nilai investasi atau sebesar Rp. 5.835,-juta. Selanjutnya untuk mendukung kebutuhan modal kerja, Bank "X" dapat memberikan tambahan kredit modal kerja kepada PT.DJP setinggi-tingginya sebesar Rp.3.443,-juta, mengingat PT.DJP saat ini telah mendapat fasilitas kredit modal kerja sebesar Rp.7.000.-juta.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161921
      Collections
      • MT - Business [4063]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository