Studi Perilaku Konsumen Obat Kumur Listerine Di Jakarta
View/ Open
Date
2007Author
Andayani, A.N.A
Daryanto, Arief
Nurmalina, Rita
Metadata
Show full item recordAbstract
Obat kumur merupakan kategori yang relatif baru di dalam kategori
perawata n kesehatan gigi dan mulut (oral care) yaitu pasta gigi dan sikat
gigi. Kampanye mengenai perawatan kesehatan gigi cukup gencar
dilakukan oleh pemerintah maupun produsen pasta gigi dan sikat gigi.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa konsumen atau
masyarakat tidak menyikat gigi dengan cara yang benar dan waktu yang
tepat, penggunaan benang gigi atau dental flossing masih merupakan
suatu yang langka dan kunjungan ke dokter gigi lebih jarang lagi.
Listerine dengan konsisten melakukan kampanye “menyikat gigi
saja tidak cukup”, namun kampanye tersebut mungkin belum cukup untuk
menyadarkan konsumen bahwa sebenarnya menjaga kesehatan rongga
mulut merupakan hal yang vital, karena banyak penyakit sistemik, antara
lain seperti jantung, diabetes mellitus, pneumonia karena bakteri
ditengarai masuk melalui masuk rongga mulut karena kesehatan rongga
mulut yang tidak terjaga.
Sebagai pemimpin pasar pada kategori obat kumur, sesungguhnya
Listerine yang pertama kali mengembangkan kategori ini di Indonesia
sekitar 30 tahun yang lalu. Secara konsisten Listerine melakukan
kampanye periklanan, dan secara bertahap mengubah persepsi
konsumen maupun saluran distribusi atau trader bahwa Listerine bukanlah
semata-mata obat, sehingga penempatan di rak pajang juga mulai beralih
dari rak obat ke rak toiletries bersama-sama dengan pasta gigi dan sikat
gigi. Karena bukan termasuk dalam kategori obat, walaupun disebut obat
kumur, maka Listerine secara konsisten juga melakukan edukasi
konsumen untuk meningkatkan penggunaan Listerine bukan hanya
sekedar digunakan kalau sedang ada masalah dengan rongga mulut,
tetapi digunakan secara teratur bersama-sama dengan menyikat gigi
sebagai bagian dari menjaga kesehatan rongga mulut atau oral health.
Meskipun Listerine merupakan pemimpin pasar yang kuat, dengan
pangsa pasar lebih dari 50%, namun Listerine juga tetap mewaspadai
persaingan yang muncul, khususnya dua tahun terakhir ini, ketika
Pepsodent menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih cepat dari Listerine.
Hal ini mendorong Listerine untuk melakukan riset konsumen untuk (a)
memahami kekuatan merek Listerine, penggunaannya serta dinamika
dalam proses pembelian produk obat kumur dan Listerine , (b) Asosiasi
merek (Brand Association) yang dikaitkan dengan persepsi konsumen
terhadap merek Listerine dan (c) Communication Diagnostics untuk
mengukur efektivitas komunikasi dari Listerine. Sehingga tujuan penelitian
yang dilakukan adalah: (a) mengukur kekuatan merek Listerine dibanding-
kan dengan persaingan yang ada serta dinamika dalam proses pembelian
produk obat kumur dan Listerine, (b) Menganalisis persepsi konsumen
terhadap merek berdasarkan atribut-atribut yang ada, sehingga dapat
dikenali pendorong (drivers) dari kinerja Listerine dibandingkan dengan
drivers tersebut. (c) Menganalisis efektivitas komunikasi yang dilakukan
Listerine selama ini, baik dalam pemilihan media maupun dalam
pelaksanaannya, apakah telah sesuai dengan harapan, yaitu kampanye:
“Menyikat Gigi Saja Tidak Cukup, Tuntaskan dengan Listerine”.
Disain penelitian ini merupakan disain penelitian konklusif yang
bersifat deskriptif, yang memusatkan pada aspek-aspek tertentu dan
mengamati hubungan antar berbagai variabel.
Data diperoleh hasil pengolahan yang diperoleh dari pengamatan
langsung di lapangan terhadap responden obat kumur di Jakarta. Data
yang diperoleh dari pengamatan langsung ini meliputi (1) Data demograf
dan psikografi res-ponden, (2) Pemahaman mengenai kebutuhan
kesehatan rongga mulut, (3) Pemahaman mengenai kategori obat kumur
dan (4) Pemahaman mengenai merek-merek obat kumur.
Contoh penelitian ini melibatkan 306 responden di Jakarta dari
kelompok usia 19-35 tahun dan strata sosial-ekonomi AB (yang memiliki
tingkat pengeluaran rumah tangga per bulan rata-rata di atas Rp 1.5 juta).
Contoh harus memenuhi syarat yaitu menggunakan obat kumur dalam 1
bulan terakhir dan menggunakan obat kumur sedikitnya sekali seminggu.
Pemilihan contoh dilakukan dengan cara multi-stage random
sampling sampai ke tingkat RT, lalu berikutnya pemilihan secara acak
untuk rumah tangga (household). Tahap ketiga adalah untuk menentukan
responden yang memenuhi kriteria untuk diwawancara (non-probablistic,
purposive judgment samling), yaitu: dari strata sosial-ekonomi AB pada
kelompok usia 19-35 tahun dan merupakan pengguna obat kumur
sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk responden yang tidak memenuhi kriteria pada tahap yang
terakhir, sebanyak 31 orang (non users), diwawancara untuk mengetahui
hambatan-hambatan dalam menggunakan obat kumur secara teratur.
Namun demikian fokus penelitian bukan pada kelompok ini.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei, wawancara tatap
muka dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur. Sebelum
penelitian kuantitatif dilakukan dulu focus group discussion (FGD) untuk
mengetahui atribut-atribut dan aspek-aspek lain dalam menjaga
kesehatan rongga mulut dan memilih obat kumur yang akan dijadikan
referensi dalam penyusunan kuesioner. Pengumpulan data dilakukan
selama 4 minggu pada bulan Mei dan Juni 2006.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil responden pengguna
obat kumur 69% berada pada kisaran usia 22-32 tahun, sementara
responden wanita jumlahnya 56% dan pria 44%. 61% dari total responden
merupakan tamatan sekolah lanjutan atas, 30% menyandang gelar
sarjana muda sampai strata 2 dan sisanya (9%) sekolah lanjutan pertama
atau sekolah dasar. Secara umum Heavy Users dan Medium Users
memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Light Users.
Sekitar dua pertiga responden merupakan Medium dan Heavy
Users, artinya menggunakan obat kumur 3-5 kali per minggu atau lebih,
sehingga dapat dikatakan bahwa masih ada 35% responden yang
mengkonsumsi obat kumur sekali-sekali saja atau sekali seminggu.
Kelompok usia lebih muda (19-21 tahun) secara umum menggunakan
obat kumur lebih sering dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, yaitu
5.7 kali seminggu, sementara kelompok usia 22-24 tahun rata-rata
menggunakan 4.9 kali seminggu. Namun demikian, ada kecenderungan,
makin tinggi usia responden makin kerap penggunaan obat kumurnya.
Kelompok responden dengan pengeluaran rumah tangga lebih dari 2 juta
per bulan (SES A) rata-rata menggunakan obat kumur 5.6 kali seminggu,
dengan jumlah Heavy Users sebanyak 27%, lebih sering dibandingkan
dengan kelompok pengeluaran di bawah 2 juta per bulan (SES B) yang
rata-rata penggunaanya 4.5 kali seminggu, karena 45.6% responden pada
kelompok ini merupakan Light users.
Category status menunjukkan bahwa: Meskipun pasar cenderung
stabil, artinya beberapa pengguna obat kumur berhenti menggunakan
produk ini, namun masih nampak adanya kegairahan pada tingkat
moderat, dengan adanya pertumbuhan volume konsumsi dan pengguna
utama (core users) masih mengkonsumsi secara teratur. Meskipun
pemakai obat kumur mengkonsumsi lebih sedikit atau bahkan berhenti
mengkonsumsi sama sekali, namun masih ada konsumen baru yang mulai
mengkonsumsi obat kumur, yang antara lain menyebabkan pertumbuhan
kategori ini.
Early Adopter menggunakan obat kumur rata -rata 5.3 kali seminggu
sama dengan Late Adopter, sementara rata-rata seluruh responden
menggunakan obat kumur 5.2 kali seminggu. Pada Early Adopter, 34%
merupakan Light Users, sedangkan Light Users pada Middle Adopter
berjumlah 37%, dan Light Users pada Late Adopter berjumlah 31%.
Heavy Users menganggap bahwa salah satu kekhawatiran dalam
menggunakan obat kumur adalah harga yang mahal, di samping rasa
terbakar di mulut (burning sensation). Heavy Users juga menganggap
bahwa sebenarnya menyikat gigi saja cukup (4.1), sementara Medium
Users dan Lights Users memberikan angka kepedulian yang tinggi pada
harga yang mahal, namun cukup rendah untuk pernyataan “menyikat gig
saja cukup”, yaitu masing -masing 3.4 dan 3.2 pada Medium dan Light
Users. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena justru kekhawatiran ini
disampaikan oleh Heavy Users, walaupun sampai saat ini masih belum
berdampak pada penurunan konsumsi secara langsung.
Hambatan terbesar bagi bukan pengguna (non-users) obat kumur
adalah karena mereka mengganggap tidak memiliki masalah dengan
mulut atau gigi mereka.
Listerine unggul di semua atribut, seperti: (1) menyegarkan napas,
(2) mencegah pertumbuhan plak pada gigi, (3) menghilangkan bau mulut,
(4) membunuh kuman penyebab plak, radang gusi dan bau mulut, (5)
kesegarannya bertahan lama (6) memberikan rasa percaya diri serta (7)
harga sesuai dengan mutu.
Melalui Exception Analysis Listerine dianggap unggul pada atribut
“kesegarannya bertahan lama”, “memberikan rasa percaya diri” dan
“merek yang menunjang saya dalam pergaulan”, di samping atribut
“tersedia dalam berbagai varian/rasa”, “iklannya menarik” dan “merek
yang digunakan oleh teman saya”.
Listerine mempunyai total awareness 100%, artinya semua
responden yang diwawancara aware terhadap merek Listerine baik secara
spontan maupun dibantu (aided). Dari 100% yang aware terhadap merek
Listerine 80% nya pernah mencoba (ever tried) Listerine. Dari semua
responden yang diwawancara, 97% nya menyatakan mempertimbangkan
untuk membeli Listerine di masa yang akan datang, 66% menjadi
pengguna teratur (regular users) bahkan menjadikan Listerine sebagai
BUMO, artinya Listerine mempunyai daya ungkit sebesar 82% dari pernah
mencoba menjadi pemakai rutin atau BUMO. 76% responden menyatakan
bahwa Listerine merupakan merek pilihan mereka, dan bahkan 66%
sudah mulai menyarankan agar orang lain menggunakan Listerine juga.
Sumber atau medium di mana responden melihat atau mendengar
iklan Listerine adalah TV (97%), Majalah (19%), poster (16%) dan surat
kabar (14%), sementara radio, internet dan sticker di apotik masing-
masing 7%, 2% dan 1%. TV merupakan source of ad awareness yang
umum berlaku pada semua kelompok pengguna obat kumur, namun Ligh
Users juga menyatakan radio sebagai salah medium (10%), sementara
majalah cukup banyak disebutkan oleh Heavy users (19%) dan Medium
Users (22%).
Secara umum (top 2 boxes), pesan yang ingin disampaikan oleh
Listerine sebagai merek yang dapat menghilangkan bau mulut (91),
membunuh kuman membunuh kuman penyebab plak, radang gusi dan
bau mulu (97), merek yang bekerja efektif untuk menghilangkan plak pada
gigi (92), merek yang memberikan informasi bahwa tidak cukup hanya
dengan menyikat gigi saja (90) dengan mean score untuk semua kesan-
kesan tersebut di atas 4. Ini berarti pesan yang disampaikan oleh Listerine
sebagai merek yang terbukti secara klinis mampu membunuh kuman
penyebab plak, radang gusi dan bau mulut, serta tag-line Listerine: “awali
dengan sikat gigi, tuntaskan dengan Listerine” dapat diingat oleh
responden dan dianggap sesuai dengan mereknya.
Hasil studi ini diperlukan bagi Listerine dalam menentukan strategi
pemasaran Listerine untuk masa yang akan datang, mengingat Listerine
merupakan pemimpin pasar di kategori obat kumur dan merupakan merek
strategis bagi Pfizer. Strategi pemasaran ini meliputi pengembangan
produk, saluran distribusi, strategi komunikasi dan kerjasama dengan
komunitas kedokteran gigi sebagai key opinion leaders.
Collections
- MT - Business [4056]
